
Dimas masih memeluk tubuh Winda yang sudah mulai tenang. Dimas menarik nafas dalam-dalam, sebelum memulai berbicara.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini tentang Maya dan anaknya."
"Aku memang sedang menunggu penjelasan mu, mas Dimas," ucap Winda pelan karena masih dalam pelukan Dimas.
"Setelah kamu pergi, aku dan Maya membuat sebuah kesepakatan tertulis. Saat kamu kembali, anak yang dilahirkannya akan menjadi anak kita. Karena itu, aku mengajarkannya memanggilku ayah."
Dimas mulai bercerita dari awal bertemu Maya dalam keadaan hamil tanpa suami. Maya ingin menggugurkan kandungannya, tetapi Dimas berusaha menghalangi sampai terjadi kesepakatan itu.
"Sayang, Deni bukan anak kandungku. Kamu percaya padaku, bukan?"
Dimas menunggu jawaban Winda yang masih terisak dalam pelukannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita merawat Deni? Kasihan, ibunya selalu menyakitinya dan menggunakan Deni untuk memaksaku," kata Dimas lagi. "Maya ingin aku menikahinya."
Mendengar kalimat terakhir Dimas, Winda mendorong tubuh suaminya hingga kepinggir ranjang. Winda langsung duduk dan menatap suaminya dengan penuh rasa marah dan kesal.
"Mas, tidakkah kamu tahu bagaimana perasaanku dan anak-anak? Saat dihadapan kami, kamu lebih memilih anak itu? Membiarkan kami pergi dengan perasaan sedih karena merasa kami tidak lebih berharga dari anak Maya. Di matamu, orang lain lebih berharga dari anak dan istrimu."
"Winda..."
__ADS_1
"Sekarang, kamu bingung karena Maya menggunakan anak itu untuk memaksamu? Mas, seandainya kamu tidak mementingkan dia, tidak mungkin Maya memiliki kesempatan memaksamu untuk menikahinya. Saat kamu bingung inilah yang membuatku marah dan kecewa padamu. Ternyata, kami bukan prioritas utama kamu."
"Winda, sayang. Bukan begitu, aku..."
"Kalau kami memang tidak lebih berharga dari mereka, untuk apa kami tetap di sini. Menganggap kami sangat penting di hatimu. Tapi kenyataannya lain. Lakukan saja yang menurut mas Dimas baik. Aku dan anak-anak akan pergi ke rumah nenek, untuk memberimu waktu berpikir dan menyadari apakah memang kami penting bagimu atau tidak."
Winda yang sudah terbakar emosi, berdiri dan mengambil koper diatas lemari. Winda berniat pergi, untuk menenangkan diri bersama anak-anaknya. Dimas sangat panik dengan keputusan Winda yang ingin meninggalkannya.
Dimas berusaha merebut beberapa helai pakaian yang diambil dari dalam lemari dan di masukan lagi kedalam lemari. Dimas memeluk Winda yang masih dalam keadaan emosi dan marah padanya.
"Sayang, Aku tahu aku salah. Tapi aku sudah berusaha jujur padamu. Tidakkah sedikitpun kamu merasakan, kalau kalian adalah yang terpenting bagiku?"
"Kami tidak hanya sekedar butuh ucapan saja. Yang kami butuhkan adalah perbuatanmu sebagai buktinya. Perlakuan mas Dimas, yang bisa menunjukkan keberadaan kami di hatimu."
"Sayang, aku berjanji tidak akan menemui Maya dan anaknya lagi. Aku akan ganti nomor ponselku, agar dia tidak bisa menghubungiku lagi. Aku mohon, jangan pergi. Jangan mengujiku lagi, aku tidak akan sanggup hidup tanpa kalian. Beri aku kesempatan memperbaiki diri demi twins V kita."
Dimas memeluk kaki Winda dan berharap Winda mau memaafkannya. Berharap semua akan kembali seperti semula.
Winda ikut terduduk dihadapan suaminya yang tanpa disadarinya meneteskan airmata. Dimatanya, Dimas adalah sosok lelaki yang sempurna. Sehingga ketika Dimas melakukan kesalahan, Winda sulit untuk menerima. Akhirnya Winda menyadari, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Demikian juga dengan Dimas. Dia juga manusia biasa, yang tidak luput dari salah dan dosa.
Dimas melihat wajah Winda yang mulai terlihat tenang. Ada sedikit harapan baginya untuk membuat Winda tetap di sini.
__ADS_1
"Sayang, mulai sekarang, aku akan menepati janjiku padamu. Aku akan menjadikan kalian yang nomor satu."
"Aku tidak butuh janji."
"Jika kamu tetap pergi, bagaimana aku membuktikan kata-kataku? Mungkin, kita bisa pergi bersama ke rumah nenek. Kita tinggal disana bersama, bagaimana?"
"Kamu ingin merepotkan nenek?"
"Aku pria dewasa. Aku yang akan menjaga kalian. Sayang, tetaplah disini, aku rindu Winda yang selalu mendukungku saat aku terpuruk. Kamu adalah kekuatanku. Jika aku berniat menikahi Maya, mana mungkin aku mengatakan hal bodoh ini padamu."
"Jika aku tidak mau merawat Deni, apakah kamu akan menikahi Maya?" tanya Winda penasaran.
"Tidak. Aku mungkin akan membawanya ke panti asuhan. Disana dia bisa mendapatkan kasih sayang yang lebih besar dari ibunya."
"Jangan, mas. Mungkin memang di panti asuhan, Deni bisa mendapatkan kasih sayang. Tetapi tetap saja, dia butuh keluarga utuh yang menyayanginya. Jika memang harus merawatnya, aku bersedia. Tapi tidak untuk saat ini. Dia seorang ibu, mana mungkin dia begitu tega menyakiti anaknya sendiri."
"Aku mengerti, kita lihat saja dulu. Semoga apa yang kamu katakan benar."
Dimas memeluk tubuh Winda yang sudah tidak terlihat lagi amarah diwajahnya. Lega rasanya, bisa membuat Winda tetap berada disisinya. Meski dengan susah payah.
Diangkatnya tubuh Winda dan di baringkan diatas ranjang. Tubuh Dimas terasa lelah setelah perdebatan yang menguras emosi. Namun tidak mengurangi gairah malamnya. Apalagi, keputusan Winda untuk tetap bersamanya, membuatnya semakin mencintai Winda.
__ADS_1
Sebuah ciuman manis untuk sang istri mengawali malam yang romantis. Pertengkaran ini malah semakin membuat Dimas ingin memberikan hal terbaik untuk istrinya, termasuk hubungan diatas ranjang.
Bersambung