
Sebelum acara pernikahan Lilis dan Zaki yang tinggal menghitung hari, Dimas dan Winda berencana memberitahukan kabar gembira ini kepada keluarga besarnya. Dimas berharap, saat berkumpulnya seluruh keluarga besar Dimas dan keluarga besar Winda menjadi waktu yang tepat.
Sehari sebelum hari pernikahan tiba, seluruh keluarga besar Winda sudah datang. Mereka semua Winda bawa ke rumah nenek, yang saat ini tidak ada yang menempati selain bibi dan penjaga rumah.
Nenek sudah kembali keluar negeri sebulan setelah mengantar Twins V kepada Winda. Juga setelah membelikan Winda sebuah butik sebagai bagian dari usaha nenek.
Pada malam sebelum hari H tiba, seluruh keluarga berkumpul di rumah ayah Dirga. Dimas dan Winda juga datang bersama Twins V yang semakin menambah ramai suasana malam ini.
"Sebelumnya, saya minta maaf karena saya mengganggu acara pada malam hari ini. Saya ingin memberi kabar baik untuk semua orang."
Dimas berhenti sejenak dan semua orang terdiam menunggu pernyataan Dimas selanjutnya.
"Winda saat ini sedang mengandung anak kami yang ke tiga. Jadi saya mohon doanya agar ibu dan bayi yang ada dalam kandungannya selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja."
"Winda hamil?" itulah pertanyaan yang keluar dari mulut beberapa orang. Lalu mereka segera mengucapkan selamat kepada Winda dan Dimas.
"Selamat," ucap mereka bergantian.
"Berarti, kita semua mendapat 2 hal yang baik sekaligus. Pernikahan Lilis dan Zaki serta kehamilan Winda," kata ayah Dirga.
Mendengar Winda hamil, ibu Dimas dan ibu Winda mendekati Winda dan berusaha mengingatkan Winda.
"Sebaiknya kalian pulang saja, jangan sampai kemalaman. Tidak baik untuk ibu hamil," kata Ibu Sapna.
"Benar, Winda. Pulanglah, ibu lihat kamu kurang sehat," kata ibu Winda sambil menyentuh wajah putrinya yang dulu selalu dimanja.
"Baik, bu. Mas, kita pulang saja."
__ADS_1
"Baiklah, yang terpenting kita sudah memberitahu mereka."
Dimas membawa Winda dan anak-anak pulang seperti yang disarankan orangtua mereka.
***
Esok paginya, acara akad nikah dan segera dilanjutkan dengan pesta tengah berlangsung dengan meriah.
Dimas melihat kedua anaknya sudah kelelahan. Karena itu, dia membawa kedua anaknya pulang terlebih dahulu.
"Sayang, aku antar anak-anak pulang nanti aku balik lagi."
"Apa mereka tidak akan protes kalau aku tidak ikut pulang?"
"Mereka setuju untuk pulang. Katanya ngantuk."
"Ya sudah. Tapi tunggu dulu. Kemarin aku membelikan kalung untuk Vani, biar aku pakaikan dulu."
Suasana tambah meriah ketika dihadirkan seorang penyanyi untuk menghibur para tamu undangan. Selang setengah jam, Dimas sudah kembali lagi ke tempat acara pesta pernikahan Lilis dan Zaki.
Perasaan Winda mendadak tidak enak. Dia mengajak Dimas untuk segera pulang. Tidak lupa, mereka mengucapkan selamat dan pamit pada Zaki dan Lilis sebelum pulang.
Zaki mengantar mereka hingga di luar ruang pesta. Belum seberapa jauh mereka berjalan, sebuah panggilan dari mbak Novi mengagetkan Winda.
"Hallo, ada apa Mbak Novi?"
"Maafkan saya ibu Winda, Va... Vani hilang," terdengar jawaban mbak Novi sambil menangis.
__ADS_1
"Apa, Vani hilang?!"
Dimas terkejut dengan perkataan Winda. Belum sempat dia bertanya ponsel Winda terjatuh dan Winda jatuh pingsan.
"Winda...!"
Suara teriakan Dimas, mengagetkan Zaki yang sejak tadi masih menunggui mereka pergi. Winda dibawa Dimas ke sebuah ruangan kosong di samping ruang pesta. Dibelakangnya, Zaki mengikuti Dimas dengan wajah panik dan terus memanggil Winda.
"Zaki, ambilkan minyak kayu putih didalam tas Winda!"
Zaki mengambil minyak kayu putih didalam tas Winda lalu diberikannya pada Dimas. Dimas membuka tutup botolnya dan didekatkan di hidung Winda.
"Mas Dimas, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi?" tanya masih dalam mode panik.
"Vani hilang."
"Apa, hilang?!"
"Zaki, aku minta tolong. Beritahukan pada keluarga besar, untuk memberitahukan pada kelurga besar tentang hilangnya Vani. Tapi jangan bikin panik. Aku harus segera pergi," kata Dimas.
"Mas, Vani hilang. Ayo kita cepat pulang. Ayo kita cari dia. Mungkin dia sedang bermain petak umpet dengan kita. Dan ingin kita yang mencarinya. Ayo mas cepat," kata Winda panik.
"Sayang, pelan-pelan saja. Ingat kamu sedang hamil," kata Dimas khawatir keadaan Winda.
Dimas dan Winda bergegas pulang naik mobil. Selama perjalanan, tidak henti-hentinya Winda menangis sambil sesekali bergumam sendiri. Dimas mengerti perasaan Winda, pasti saat ini Winda sangat tertekan.
Dimas juga sangat sedih, cemas dan khawatir mendengar bahwa Vani hilang. Tetapi dalam keadaan seperti ini, semua tidak boleh panik karena pasti tidak akan bisa berpikir jernih dan mencari jalan keluar.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like ya