Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 32. Basah


__ADS_3

Dimas mulai tidak bisa tidur dengan nyenyak semenjak bertemu dengan wanita yang mirip Winda. Bagaimana caranya membuktikan bahwa wanita itu memang Winda?


Dimas hampir saja lupa jika Winda memiliki tanda lahir dibelakang lehernya. Tapi bagaimana caranya mendekati dia dan melihat tanda lahir yang tempatnya tersembunyi?


Setelah sedikit mendapatkan petunjuk, Dimas mencoba tidur agar besok dia bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik. Sambil memikirkan cara mendekati dia yang dijaga ketat oleh dua pengawalnya 24 jam.


Dimas tersenyum saat Winda datang menemuinya di rumah sakit. Winda mengaku telah menyembunyikan identitasnya karena marah pada Dimas. Winda menganggap Dimas lebih perhatian pada Maya dan anaknya.


Dimas menjelaskan kepada Winda bahwa semua itu adalah demi anak yang dikandung Maya, yang nantinya akan menjadi anak mereka.


"Sayang, aku tidak membutuhkan anak Maya. Berjanjilah padaku, jangan bersama Maya lagi," ucap Winda manja.


"Sayang, baiklah. Nanti kita akan berusaha memiliki anak sendiri. Meskipun kita harus berobat ketempat yang jauh. Kemarilah, aku sangat merindukanmu," kata Dimas sambil meraih Winda dalam pangkuannya.


Winda melingkarkan kedua tangannya dileher Dimas. Senyumnya menggoda suaminya yang sudah 2 tahun menahan hasratnya. Dimas semakin tergoda melihat sikap manja Winda apalagi bibir merah yang selalu terlihat tersenyum padanya. Jantungnya berdetak cepat dan nafasnya mulai memburu.


Pertahanan Dimas runtuh sudah. Dengan lahap, Dimas mencium bibir merah istrinya yang dengan lembut membalas ciumannya. Dimas mengangkat tubuh istrinya dan dibaringkannya diatas ranjang pasien.


Dimas semakin nakal menyentuh bagian sensitif istrinya dan memainkannya dengan lembut.


"Tunggu. Mas Dimas masih memakai baju dokter. Kayaknya itu kurang pantas, mas," kata Winda mengingatkan.


Dimas menghentikan semua aksinya dan dengan cepat melepas pakaian kebesarannya dan di letakkan di atas kursi.


Dengan cepat pula, dia kembali mengulangi aksinya yang sempat tertunda. Dimas menciumi leher Winda dengan lembut dan semakin kebawah. Hasratnya makin kuat saat mendengar suara rintihan Winda sangat dekat di telinganya.

__ADS_1


"Mas, biarkan aku membuatmu bahagia."


Winda membalikan tubuh Dimas dan sekarang, Winda yang mulai beraksi. Winda begitu lihai membuat Jiwa Dimas melayang. Sentuhan jari-jarinya yang lembut bermain di dadanya dan turun kebawah dan terus ke bawah sampai di bagian yang hanya istrinya yang boleh memegangnya.


Dimas meng-erang tatkala Winda memainkannya sambil terus menciumi leher dan dadanya tak memberi kesempatan pada Dimas untuk membalas. Dimas rasanya sudah tidak tahan lagi dan ...Sayang...


"Mas Dimas?!"


Suara keras seorang wanita menyadarkannya. Ternyata semua itu hanya mimpi. Tetapi, Dimas merasakan ada yang basah dan dia sangat malu sekali.


Dimas melihat Lilis sambil tersenyum malu.


"Kakak, sedang mimpi apa? Kenapa aku merasa kakak sedang..."


"Mau kemana kakak?"


"Mandi."


Lilis menarik nafas panjang.


Apakah kak Dimas sedang memimpikan mbak Winda atau mbak Maya? Aku harus mencari tahu, jangan sampai kecolongan.


Setelah menunggu cukup lama, Dimas akhirnya kembali lagi dengan rambut basah sehabis mandi. Dia terkejut saat melihat Lilis masih menunggu di ruangannya.


"Lilis, kenapa masih disini?"

__ADS_1


"Tentu saja sedang menunggu kakak," jawab Lilis sambil tersenyum.


"Memang ada perlu apa. Apa hari ini kamu tidak sibuk di kantor? Atau sibuk sama pacar rahasia kamu?" tanya Dimas menggoda Lilis.


"Soal pekerjaan, mudah saja. Tinggal bilang asisten untuk handle pekerjaan hari ini. Kalau sama mas pacar, besok juga masih bisa ketemu," jawab Lilis.


"Kamu bisa saja."


"Kak Dimas. Sebenarnya Kakak sedang bermimpi apa? Kenapa tadi aku dengar kakak sampai bilang sayang?"


"Oh...itu. Kakak sedang bermimpi bertemu Winda. Kamu tahu bagaimana rasanya setelah sekian lama berpisah?"


"Kakak, jangan lebay kak. Rasanya berlebihan karena kak Dimas sampai mandi basah begitu."


"Siapa yang tahu akan bermimpi seperti itu. Yang kakak ingin bukan hanya sekedar mimpi, tapi kenyataan."


"Kak, apa akhir-akhir ini kak Dimas sering memandangi fotonya? Sampai-sampai kak Dimas mimpi bertemu dia?"


"Bukan hanya fotonya, tapi kakak melihat orangnya langsung," kata Dimas mengingat pertemuannya dengan wanita itu.


"Apa kak?! Benarkah mbak Winda sudah kembali? Dimana? Kenapa kakak membawanya pulang ke rumah?" tanya Lilis kaget.


"Tunggu saatnya."


Bedsambung

__ADS_1


__ADS_2