Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 69. Vani tenggelam


__ADS_3

POV Vani.


Vani berjalan menyusuri jalan yang penuh dengan duri dan sampah pepohonan yang sudah mengering. Gadis sekecil itu sendirian mencoba mencari jalan pulang. Matanya tampak menetes airmata yang tiada henti, meski tidak terdengar suara isak tangisnya.


Sesekali mulutnya memanggil nama Mami dan Papinya. Vani juga sesekali terjatuh dan dia segera bangkit kembali. Saat ini, didalam pikirannya hanya ingin segera menjauh dari rumah tempat dia diikat.


Vani teringat kakak kecil yang tadi menolongnya. Dilihatnya lagi sebuah gantungan tas yang ada ditangannya. Sambil mengingat perkataan sang kakak, Vani kembali berjalan semakin jauh.


Saat itu, dia melihat seorang wanita yang sedang berjalan menuju kearah rumah tadi. Vani teringat pesan sang kakak untuk bersembunyi jika melihat seorang wanita. Vani bersembunyi di balik pohon yang sangat rindang. Vani menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


Setelah Maya tidak terlihat lagi, Vani kembali berjalan menuju ke arah sebuah desa. Diseberang desa ada sebuah sungai yang sangat jernih. Vani merasa haus, dia pun berjalan menuju ke arah sungai untuk minum. Saat Vani berusaha meraih air sungai tersebut, Vani tergelincir dan jatuh ke sungai.


Vani terbawa arus hingga beberapa meter dari tempat dia terjatuh. Beruntunglah, seorang ada seorang laki-laki setengah baya yang sedang duduk di pinggiran sungai yang melihat Vani terjatuh. Dengan cepat laki-laki yang bernama Hadi itu menolong Vani dan dibawanya ke rumah puskesmas terdekat.


Vani tersadar dan mendapati dirinya sedang dalam keadaan di infus.


"Nak, sudah sadar? Syukur Alhamdulillah. Paman panggil dokter dulu."


Tidak berapa lama, Hadi datang bersama seorang dokter. Dokter segera mengecek kondisi Vani dengan seksama.


"Anak bapak sudah tidak apa-apa. Tetapi ada sedikit masalah. Ada sebagian air yang mungkin sudah masuk ke paru-parunya, karena anak ini terlihat sulit bernafas dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan lebih lanjut."

__ADS_1


"Apa dok air masuk ke paru-paru?" tanya paman Hadi kaget.


"Benar. Ini namanya secondary drowning. Semoga anak anda belum termasuk itu dan masih dalam tahap dry drowning. Kami akan segera merujuk anak anda ke rumah sakit di kota sebelum terlambat."


Paman Hadi tertegun, meskipun Vani bukan anaknya tetapi entah kenapa saat melihat Vani, di teringat putrinya yang baru saja meninggal.


Aku pasti akan menyelamatkan kamu, nak.


Setelah prosedur sudah dijalankan, paman Hadi segera membawa Vani ke rumah sakit di kota. Ditengah jalan, Vani mengalami sesak nafas dan batuk-batuk sehingga membuat paman Hadi bertambah panik.


Sampai di rumah sakit, Vani segera ditangani oleh dokter. Cukup lama Vani di periksa oleh beberapa dokter. Hadi tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu, karena dokter tidak mengizinkan dia masuk.


"Bagaimana kondisi anak itu dok?" tanya paman Hadi panik.


"Apakah dia bukan anak bapak?"


"Bukan dok. Tetapi dokter bisa bicara dengan saya, karena saya tidak tahu dimana keluarganya."


"Baiklah, pak. Anak itu mengalami Secondary Drowning. Untung saja, belum terlambat dibawa kesini. Ini pasien rujukan dari puskesmas kan?"


"Benar, dok. Ini rujukan dari puskesmas."

__ADS_1


"Pantas saja. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Tolong bapak segera urus prosedurnya terlebih dulu. Saya permisi."


"Silakan Dok."


Paman Hadi bergegas masuk untuk melihat kondisi Vani yang masih memejamkan matanya. Dia belum sadar. Setelah mengusap rambut Vani, paman Hadi segera keluar untuk mengurus prosedur rawat inap.


Selesai mengurus semuanya, paman Hadi merawat Vani di rumah sakit. Sebenarnya, paman Hadi tidak habis pikir, kenapa dirinya begitu menyukai gadis kecil itu. Bagaimana nanti jika gadis kecil itu diambil keluarganya?


Ada perasaan tidak rela dihatinya untuk berpisah dengan Vani. Mungkin itu suatu keegoisan di diri paman Hadi untuk memiliki Vani.


Ponsel Paman Hadi berdering nyaring, membuat lamunannya terhenti.


"Iya, Bu. Ayah ada di rumah sakit merawat Yanti."


Terdengar suara panik istrinya yang mengira suaminya telah menjadi gila setelah Yanti meninggal tenggelam di sungai sebulan seminggu yang lalu.


"Ayah tidak gila, nanti aku akan pulang membawa anak kita."


Paman Hadi langsung menutup panggilan dari istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2