Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 44. Menjadi provokator


__ADS_3

Maya datang menemui orang tua Dimas yang merupakan mantan mertuanya. Tentu itu bukan hal yang baik bagi Dimas dan Winda. Karena tidak mungkin, Maya akan mengucapkan selamat berbahagia untuk mereka.


Maya sudah melakukan persiapan untuk membuat orangtua Dimas membenci Winda. Dengan penuh rasa percaya diri, Maya mengetuk pintu rumah mantan mertuanya.


Tok tok tok.


"Ya, sebentar," suara Lilis terdengar malas.


Saat Lilis membuat pintu, dia terkejut melihat mantan kakak iparnya berani datang kerumahnya.


"Mbak Maya, ada urusan apa datang kemari?"


"Aku ingin bertemu ayah dan ibu," jawab Maya.


"Kenapa aku merasa jijik, mendengar sebutan ayah dan ibu dari mulut mbak Maya."


"Lilis, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku juga pernah menjadi istri kakakmu," kata Maya kesal.


"Iya, istri yang suka selingkuh. Kenapa, sekarang menyesal, mau kembali menggoda kakakku? Tidak bisa, kakak dan mbak Winda sudah bersama lagi," kata Winda meledek Maya.


Maya tampak kesal dengan ucapan Lilis. Namun dia juga tidak bisa berbuat apapun karena tujuannya belum tercapai.


"Pantas saja, sampai saat ini tidak ada yang mau menikah denganmu," gumam Maya pelan.


"Apa kamu bilang, tidak ada yang mau menikah denganku?!" kata Lilis kesal.


Maya tidak mengira, pendengaran Lilis sangat tajam. Untunglah saat itu, bu Sapna datang dan melerai adu mulut Lilis dan Maya.


"Ada apa dengan kalian. Kenapa kalian bertengkar? Maya, kenapa kamu datang kesini?" tanya bu Sapna sambil menarik lengan Lilis.


"Kami tidak bertengkar ibu?" jawab Lilis.

__ADS_1


"Maya ingin bertemu ayah dan ibu. Maya ingin meminta maaf atas kesalahan Maya pada mas Dimas dan juga pada kalian berdua," jawab Maya lembut.


"Baiklah, kami terima niat baik kamu. Masuklah," kata bu Sapna.


"Ibu, kenapa disuruh masuk?"


"Bagaimanapun dia adalah tamu. Kita dengarkan apa yang mau dia katakan."


Maya tersenyum sinis pada Lilis karena dibela oleh mantan ibu mertuanya. Lilis tidak mau kalah, dia menjulurkan lidahnya pada Maya lalu mengikuti ibunya.


Didalam, sudah ada ayah Dirga yang sedang santai diakhir pekan. Lilis duduk di samping ayahnya sambil berbisik sesuatu pada ayahnya.


"Ayah jangan tergoda," ucapnya pelan.


Ayah Dirga hanya tersenyum tanpa arti pada Lilis.


"Ada kepentingan apa kamu datang ingin bertemu kami?" tanya ayah Dirga.


"Begini ayah, sebenarnya aku hanya ingin memberitahu sesuatu pada kalian tentang Winda."


"Winda sebenarnya wanita mandul. Dia dicerai suaminya dulu karena dia tidak bisa memberikan keturunan. Dan sekarang mas Dimas menginginkan anakku menjadi anaknya karena dia tahu, Winda tidak akan pernah bisa memberinya seorang anak."


Mereka bertiga terkejut, mendengar perkataan Maya. Tentu mereka tidak menyangka bahwa rahasia sebesar itu mereka tidak pernah tahu.


"Apakah yang kamu katakan itu benar, Maya. Kamu tidak berbohong?" tanya bu Sapna tidak percaya.


"Ibu, mana mungkin saya berani berbohong pada ayah dan ibu. Kalian bisa tanyakan langsung pada mas Dimas."


"Ayah, ingat kata Lilis tadi," ucap Lilis mengingatkan ayahnya.


"Maya, sekalipun apa yang kamu katakan itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan, tetap saja kamu orang luar. Kamu seharusnya tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga Dimas," kata ayah Dirga.

__ADS_1


"Benar, apa yang ayah katakan. Kamu sebaiknya jangan lagi mencampuri urusan rumahtangga Dimas. Dimas dan kamu sudah bukan suami istri lagi. Jangan jadi provokator dengan mengatakan semua ini pada kami," tambah bu Sapna.


"Dengar kan mbak Maya. Kamu sebaiknya pulang dan renungkan. Menjauhlah dari kehidupan kak Dimas dan mbak Winda. Kami tidak akan pernah menerima kehadiran kamu kembali sebagai keluarga kami," ucap Lilis.


"Kalian..."


Maya terlihat sangat kesal mendengar perkataan dari ketiga orang yang pernah menjadi keluarganya itu. Maya melangkah pergi tanpa permisi dikuti Lilis yang tersenyum senang telah membuat Maya kesal.


"Hati-hati jatuh mbak Maya..."


Lilis mengikuti langkah Maya hingga punggung Maya tak terlihat lagi.


"Lilis, ayah ingin bicara sebentar dengan kamu," panggil ibunya.


"Iya, Bu."


Lilis berbalik badan dan mendekati ayahnya.


"Ada apa ayah?" tanya Lilis penasaran.


"Apa kamu tahu jika Winda benar-benar mandul?" tanya ayah Dirga.


"Tidak ayah. Tetapi memang setiap kali Lilis mengajak bicara tentang anak, mas Dimas melarang Lilis bertanya pada mbak Winda."


"Mungkin saja apa yang dikatakan Maya itu benar adanya, ayah. Lalu kita harus bagaimana? Sekarang mereka sedang bahagia-bahagianya bisa bersama lagi," kata sang ibu.


"Mau bagaimana lagi. Itu pilihan Dimas. Kita berdoa saja, semoga ada keajaiban. Dimas dan Winda bisa berobat dan mencari alternatif lain untuk bisa memiliki anak. Kita harus memberi dukungan mental pada Winda agar dia tidak putus asa," kata ayah Dirga bijak.


"Lilis setuju, ayah. Lilis akan membuat mbak Winda nyaman untuk menjalani pengobatan agar segera memiliki anak sendiri," kata Lilis penuh semangat.


Keluarga Dimas, keluarga yang memberikan dukungan pada menantu yang jelas-jelas tidak bisa memberi keturunan dalam keluarga mereka.

__ADS_1


Adakah keluarga yang seperti itu di sekitar kita?


Bersambung


__ADS_2