Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 18. Kejujuran Winda


__ADS_3

Dimas semakin semakin hari semakin merasa kehidupan rumahtangganya sempurna. Tinggal menunggu keajaiban datang padanya. Yaitu hadirnya seorang anak dalam keluarga mereka.


Tentu akan terasa lebih ramai jika bukan hanya satu anak, tetapi bisa dua, atau bahkan tiga anak. Seperti makan malam ini. Hanya Dimas dan Winda saja. Suasana sunyi dan hanya terdengar bunyi piring dan sendok yang sedang beradu pelan.


"Winda, besok kan hari minggu. Aku juga tidak ada piket di rumah sakit. Bagaimana kalau kita pergi ke rumah orangtuaku?" tanya Dimas menghidupkan suasana.


"Boleh mas. Nanti aku minta Zaki untuk mengurus keperluan toko. Memang sudah lama Winda tidak bersilaturahmi dengan mereka," jawab Winda.


"Oke kalau begitu, besok berangkatnya sekitar jam 8 aja ya sekalian nanti kita makan siang disana pasti rame. Nggak hanya kita berdua seperti sekarang ini," ucap Dimas memancing reaksi Winda.


"Apa mas Dimas suka keramaian?" tanya Winda sambil menatap Dimas penasaran.


"Begitu deh. Di rumah sakit banyak sekali pasien. Ada orangtua, orang dewasa bahkan anak-anak. Sudah terbiasa, Jadi kalau sepi begini, berasa ada yang kurang," ucap Dimas sambil tersenyum.


"Aku memang tidak bisa banyak bicara seperti yang mas mau. Maaf," kata Winda sambil menunduk sedih.


"Aku tidak bermaksud begitu, Winda."


Mendengar perkataan istrinya, Dimas menjadi merasa bersalah. Bukan seperti ini reaksi yang ingin Dimas dengar.


Winda benar-benar tidak peka sama sekali dengan ucapanku. Yang aku maksud itu anak, Winda. Aku ingin memiliki anak dari kamu.


"Winda, bagaimana kalau kita ambil anak asuh. Supaya di rumah ini ada suara anak-anak. Jadi rame kan?" kata Dimas antusias.


"Apa mas, ambil anak asuh? Apa mas Dimas tidak ingin memiliki anak sendiri?" tanya Winda kaget.


"Pingin sih sebenarnya. Apalagi anak kita," ucap Dimas malu.


Winda tampak murung mendengar perkataan Dimas. Hal itu membuat Dimas bingung. Apakah ada yang salah dengan ucapanku?


"Winda, ada apa? Apa ucapanku menyakitimu? Kalau begitu aku minta maaf," ucap Dimas khawatir Winda tersinggung.


Tapi bagaimana mungkin Winda tersinggung dengan ucapannya. Bukankah semua orang berkeluarga juga menginginkan anak dan keturunan?


"Mas, maaf. Sebenarnya aku ingin jujur pada mas Dimas. Tapi aku takut mas Dimas akan kecewa padaku," ucap Winda sambil menghela nafas.


"Mana mungkin. Katakan saja," ucap Dimas bersiap mendengarkan Winda.


"Salah satu alasan mas Bayu menceraikan aku dulu, karena aku mandul. Aku tidak bisa memberinya keturunan."


"Kalau begitu, kenapa dia terus saja mengejarmu dan ingin rujuk dengan kamu?" tanya Dimas heran.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu kenapa mas Bayu begitu terobsesi denganku. Dia pernah bilang kalau dia sangat mencintai aku dan menyesal menceraikan aku. Dia sangat cemburuan dan posesif sekali. Itulah kenapa dia 2 kali mentalak aku karena merasa aku tidak bisa diatur dan di pimpin dia," ucap Winda berhenti sejenak.


"Yang ketiga, dia mentalak kamu karena ternyata kamu mandul?" kata Dimas meyakinkan diri.


"Iya. Meskipun aku tidak bisa memberinya keturunan, dia tetap ingin rujuk denganku. Tapi sayang, talak 3 sudah dia jatuhkan. Semua jadi seperti ini. Entah siapa yang salah dan benar," ucap Winda sambil meneteskan airmata.


"Sudahlah Winda, jangan menangis. Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu. Aku..."


"Tidak apa-apa mas. Aku hanya ingin jujur padamu. Dan sekarang aku sudah lega sudah bisa mengatakannya padamu," kata Winda yang berusaha tersenyum.


Jadi ternyata, Bayu menceraikan Winda karena Winda tidak bisa memberinya keturunan. Tapi Dimas masih merasa curiga, kenapa dan apa yang membuat Bayu sangat ingin rujuk dengan Winda? Mungkin hanya Bayu yang tahu jawabannya.


Mulai sekarang, Dimas tidak akan pernah lagi bicara tentang anak dan keturunan pada Winda. Dimas menyadari derita wanita yang divonis tidak bisa memiliki keturunan, dia pasti sangat sedih sekali saat ini.


Aku memang ingin memiliki keturunan, tetapi aku juga sangat mencintai dirinya. Biarlah jika memang takdirku tidak akan memiliki keturunan, asalkan bisa melihat Winda tersenyum, itu sudah cukup bagiku.


Selesai makan, mereka segera beristirahat dan melaksanakan kewajiban sebelum mereka tidur. Kali ini Winda berdoa lebih lama dari biasanya. Dimas hanya bisa memeluknya setelah Winda selesai berdoa. Karena Winda terlihat meneteskan airmata yang begitu deras.


Dimas berharap, Winda akan lebih baik setelah mengadu kepada Allah. Melepaskan semua beban dihatinya yang dia pendam selama ini.


Bukan hanya Winda, tapi Dimas merasa berdosa telah melakukan perjanjian dengan Bayu. Dimas hanya bisa memohon ampunan pada Allah, semoga Allah meridhoi pernikahan dan cinta mereka.


Esoknya, tepat jam 8 pagi, Dimas dan Winda pergi ke rumah orangtua Dimas. Disana Winda disambut dengan sangat baik dan ramah. Apalagi adik iparnya, Lilis, gadis yang selalu tampak ceria dan tanpa beban apapun.


Sementara, Lilis dan Dimas berbincang-bincang di samping rumah. Lilis terus saja berusaha memancing kejujuran kakaknya tentang rumah tangganya.


"Kak Dimas, bagaimana kabarnya calon ponakan?" tanya Lilis.


"Calon ponakan apa?" Dimas balik bertanya.


"Anaknya kak Dimas sama mbak Winda," ucap Lilis kesal, kakaknya pura-pura bodoh.


"Jangan bicara tentang itu lagi. Apalagi didepan Winda," kata Dimas memberi peringatan pada Lilis.


"Kakak, kenapa bicara seperti itu? Apakah mantan suami mbk Winda datang mengganggu kak Dimas lagi?" tanya Lilis penasaran dengan larangan kakaknya.


Dimas hanya menggeleng, dia tidak bisa mengatakan pada Lilis bahwa Winda tidak bisa hamil. Dimas tidak mau membuat Winda sedih, rahasianya diketahui lebih banyak orang.


"Kak, beberapa hari yang lalu, mantan suami mbk Winda datang menemui ayah dan ibu. Dia mengatakan semuanya tentang kalian. Pernikahan kakak dengan mbak Winda, perjanjian kakak yang akan menceraikan mbak Winda," ucap Lilis serius.


"Apa?! Lalu bagaimana reaksi ayah dan ibu?" tanya Dimas cemas.

__ADS_1


"Mereka tidak percaya padanya. Tapi kak, bagaimana jika mereka tahu bahwa kakak menikahi mbak Winda karena permintaan Bayu? Dan kakak akan segera menceraikannya?" tanya Lilis.


"Berdoa saja agar mereka tidak akan tahu semua ini. Hal ini, akan membuat mereka syok dan sedih," ucap Dimas sambil menghela nafas.


"Semoga saja. Lilis janji akan menjaga rahasia ini asalkan kakak benar-benar berniat mempertahankan pernikahan kalian," kata Lilis penuh harap.


"Tentu. Kakak sangat mencintai Winda dan kakak tidak akan pernah melepaskan dia apapun yang terjadi," ucap Dimas penuh semangat.


"Kalau begitu Lilis tidak ragu lagi menjaga rahasia ini untuk kakak," ucap Lilis sambil tersenyum.


"Rahasia apa?!"


Suara yang sangat familiar bagi Dimas dan Lilis yang membuat mereka seakan berhenti bernafas.


Bersambung


Hai readers


Aku bawa rekomendasi novel yang bagus untuk kalian. Karya dari temen otor berjudul Masa Lalu sang Presdir by Enis Sudrajat jangan lupa like koment dan fav ya semoga suka...Masa Lalu Sang Presdir (21+)


Blurb :


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Ameera mengangguk mantap.


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.

__ADS_1



__ADS_2