Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 48. Zaki meminta izin menikah


__ADS_3

Kegiatan berkumpul seperti sekarang ini sangat jarang terjadi. Jadi semua berharap hari ini bisa menjadi momen yang paling mereka tunggu-tunggu akan terulang lagi suatu saat nanti. Mungkin dengan bertambahnya anggota keluarga baru.


Ditengah senyum dan tawa mereka, masih ada yang cemberut. Siapa lagi kalau bukan Lilis. Mukanya masam saat bertemu Zaki.


Zaki mendekati Lilis yang sedang membawa sepiring kue lapis kesukaan Lilis. Dia duduk disampingnya sambil berusaha mengajaknya bicara, tapi tetap saja Lilis jual mahal.


"Lilis, aku minta maaf karena aku tidak jujur padamu. Tapi aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Lilis," kata Zaki.


"Siapa juga yang akan memberi kesempatan untuk bisa mengulangi lagi," kata Lilis ketus.


"Lilis, kenapa bicara begitu? Apa kamu ingin putus denganku? Aku tahu ku salah, dan kamu berhak minta pisah," kata Zaki pasrah.


"Siapa bilang ingin putus. Ihh, kesal aku."


Lilis tampak kesal. Suasana hatinya berubah-ubah seperti bunglon saja. Zaki hanya bisa menghela nafas melihat sikap Lilis yang kadang marah, kadang manja.


Tapi sebenarnya itulah yang menarik dari Lilis, penuh misteri.


"Lilis, bolehkah aku melamarmu sekarang? Mumpung keluarga besar sedang berkumpul."


"Apa, me...melamar? Melamar aku?" tanya Lilis kaget.


Menikah. Hal yang tidak pernah dan belum pernah aku bayangkan. Pacaran saja, banyak sekali masalah, apalagi dalam pernikahan. Tetapi kalau melihat mas Dimas dan mbak Winda bahagia dengan adanya Vano sama Vani, ih pingin juga menikah.


"Gimana, boleh?"


"Em, terserah kamu saja," jawab Lilis malu.


"Beneran, cubit aku."


Lilis dengan manja mencubit Zaki.

__ADS_1


" Au, sakit. Jadi boleh sekarang?"


"Besok," jawab Lilis agak kesal.


"Tapi, aku tidak bawa cincin, tidak bawa kalung. Apa aku akan di terima?"


"Zaki, jadi kamu hanya mau main-main saja?!"


"Tidak-tidak, aku sungguhan. Bentar aku persiapkan diri dulu. Tapi kalau aku ditolak, kita kawin lari ya?"


"Bicara apa kamu, Zaki. Kamu belum mengenal keluargaku. Mereka itu tidak banyak menuntut."


"Oke, ayo."


Dengan sedikit rasa percaya diri, Zaki melangkah menuju meja tempat berkumpulnya para orangtua yang sedang berbincang-bincang.


"Paman, bibi, mbak Winda, mas Dimas dan nenek. Hari ini, Zaki mau meminta izin untuk melamar Lilis dan secepatnya aku akan menikahinya," ucap Zaki agak gagap.


Semua mata memandang ke arah Zaki dan Lilis bergantian.


"Yakin, paman."


"Kalau yakin, kenapa masih panggil paman," kata ayah Dirga lagi.


"Ayah, Zaki sangat yakin. Zaki ingin menikah dengan Lilis."


"Lilis itu, keras kepala, manja dan kadang sifatnya seperti anak laki-laki. Apa nak Zaki tidak keberatan?" tanya bu Sapna.


"Justru itu yang menjadi daya tarik Lilis ibu," jawab Zaki yakin.


"Lilis itu, emosinya tidak stabil. Kalau marah bisa berlama-lama seperti kemaren, kamu sudah merasakannya sendiri. Apa kamu siap kalau dia marah, kamu akan tidur sendirian?" ucap Dimas sambil melihat kearah Lilis.

__ADS_1


Lilis tampak cemberut mendengar perkataan kakaknya.


"Aku tidak akan membuat Lilis marah. Jadi aku tidak akan tidur sendirian," jawab Zaki disambut tawa semuanya.


"Zaki, Lilis gadis yang sangat baik. Jadi jangan sia-siakan kesempatan memilikinya," kata Winda.


"Tentu, mbak Winda. Dia selalu akan jadi yang utama."


Mereka tertawa pelan melihat Zaki begitu berani meminta izin pada ayah dan ibu Lilis.


"Bagaimana Lilis, kami terserah kamu saja," tanya ayah Dirga.


"Lilis, nurut saja apa kata Zaki. Dia kan calon imamku," kata Lilis malu.


"Jadi sudah diputuskan, kalian akan menikah. Biar ayah dan ibu mencari hari baik untuk pernikahan kalian," kata Dimas sambil tersenyum.


"Wah, kita akan berbesan lagi. Sayang, ayah dan ibu Zaki tidak ikut, mereka pasti sangat senang mendengar kalau Zaki akan menikah," kata ayah Darma.


"Berarti kita tidak perlu pulang buru-buru, kita tunggu sampai Zaki dan Lilis lamaran dulu, baru kita pulang," kata ibu Sri.


"Nenek, bagaimana dengan nenek? Nenek akan tinggal bersama kami bukan? takutnya anak-anak nyariin nenek," kata Winda.


"Nenek akan tinggal di rumah nenek, karena kamu sudah bersama suami dan anak-anak kamu. Nenek yakin suamimu bisa menjagamu dengan baik. Bukan begitu Dimas?" tanya nenek Fara.


"Tentu nenek. Aku akan menjaga mereka dengan baik. Aku tidak akan membiarkan mereka dalam bahaya lagi. Nyawaku taruhannya," jawab Dimas.


"Jangan bilang begitu, mas Dimas. Nyawamu juga penting bagi kami, jadi jangan pernah mempertaruhkan nyawamu dengan mudah," kata Winda.


"Iya, sayang. Jangan Melo begitu. Aku jadi ikut Melo. Sini peluk aku," kata Dimas manja.


Winda memeluk Dimas dengan mesra. Mereka tidak menyadari, Vano dan Vani melihat kejadian itu dan berlari mendekati Dimas dan Winda.

__ADS_1


Mungkinkah kehadiran Vano dan Vani bisa membuat kemesraan Dimas dan Winda berkurang?


Bersambung


__ADS_2