
Dimas mau tidak mau harus menahan rasa kangen pada anaknya. Ingin memaksa Winda, takut jika dia kesal dan malah pergi meninggalkannya kembali.
Tapi satu yang membuat Dimas bahagia, Mereka masih saling mencintai dan itu cukup membuat Dimas bisa bernafas lega. Cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan, cinta yang tanpa syarat.
Mulailah, Dimas mengatur hari untuk kembali secara resmi meminang Winda. Meski secara hukum, Winda sudah menjadi istri sahnya. Tetapi, Dimas masih ingin menguatkan lagi perasaannya dengan melakukan hal yang seharusnya semua pasangan lakukan sebelum pernikahan.
Sebuah lamaran ditempat dan waktu yang romantis. Ah, Dimas masih trauma. Dua kali berniat melamar Winda, dua kali pula gagal dan yang terakhir malah Winda di culik orang.
Tetapi setidaknya, Dimas ingin mencoba sekali lagi. Semoga kali ini semua berjalan lancar.
Dimas sudah meminta Lilis untuk menyiapkan makan malam di rumah karena itu pasti lebih aman daripada makan diluar.
"Winda, aku ingin mengajakmu pindah ke rumah kita."
"Pindah?"
"Kenapa, apa ada yang memberatkanmu?"
"Mas, aku memiliki dua pengawal pribadi dan seorang sopir. Apa kamu tidak keberatan?"
"Tidak, untuk apa aku keberatan? Nenek sangat baik padamu. Memberikan pengawal juga," kata Dimas.
"Nenek khawatir, jika ada orang yang ingin menyakiti aku lagi. Nenek sudah seperti nenek aku sendiri."
"Kita pindahnya nanti malam saja. Sekarang aku masih mau disini. Mumpung hari ini aku sudah ajukan cuti."
__ADS_1
"Terserah mas Dimas saja."
"Sayang, kamu juga tetap disini. Temani aku."
"Apa cukup hanya kita berduaan. Nggak butuh makan dan minum?" tanya Winda sambil tersenyum.
"Sayang, suruh pengawalmu pesan saja. Kamu disini saja, oke?"
"Iya, mas."
Dimas melewati hari ini bersama Winda. Tanpa ada siapapun yang mengganggu. Ingin melakukan apa saja, tidak ada yang bisa protes. Mungkin authornya yang protes, karena tidak bisa menulis adegan kamar secara wow.
Malam sudah mulai menjelang. Selesai melakukan sholat berjamaah, Dimas mengajak Winda untuk pulang kerumahnya.
Dua pengawal Winda terus saja mengikuti kemanapun Winda pergi. Dimas rasanya ingin mencekik keduanya agar tidak bisa terus mengawasi Winda.
Sampai di rumah, Dimas mengajak Winda masuk diikuti 2 pengawal yang bikin Dimas kesal.
"Kalian nggak perlu ikut masuk, kalian jaga saja diluar jangan sampai ada yang mengganggu kami," kata Dimas.
Mereka hanya saling berpandangan lalu melihat ke arah Winda.
"Turuti saja perintahnya. Dia suamiku, perintahnya adalah perintahku juga" kata Winda menjelaskan.
"Siap, nona," jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
Dimas dan Winda segera masuk kedalam rumah yang tampak gelap. Namun saat pintu di buka terlihat kelap-kelip lampu hias menghiasi seisi ruangan. Meskipun tidak bisa dibilang tempat yang romantis, tetapi Dimas ingin malam ini menjadi malam yang spesial bagi Winda.
Makan malam pun sudah di siapkan Lilis sesuai arahan Dimas. Tidak ada lilin seperti yang Dimas harapkan, karena Lilis mengatakan jika Winda tidak suka yang terlalu romantis.
Ada-ada saja si Lilis, jangan-jangan karena dia lagi marahan sama Zaki, makanya tidak mau membuat yang romantis.Tetapi tak apalah, Winda juga tidak protes sedikitpun.
Selesai makan, Dimas mengambil kalung yang sudah lama ingin dia berikan pada Winda.
"Sayang, aku memiliki sebuah hadiah yang sudah lama ingin aku berikan kepadamu. Semoga kamu menyukainya karena ini tanda cinta aku."
"Winda akan menerima apapun pemberian mas Dimas."
Dimas tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak yang berisi sebuah kalung berlian dan sepasang cincin pengantin.
"Aku pakaikan ya?"
Dimas memakaikan kalung di leher Winda dan terlihat sangat cocok dengan Winda yang anggun. Setelah itu, Dimas juga menyematkan cincin dijari manis Winda dan begitu juga sebaliknya.
Mereka tampak bahagia dan mengabiskan malam berdua. Harus dimaklumi, karena mereka baru saja bertemu sehingga mereka bisa dikatakan pengantin baru. Pasti setiap malam menjadi hadiah yang paling indah.
Kebahagiaan mereka, tentu saja menjadi kesedihan bagi Maya. Maya yang sudah bersusah payah mendekati Dimas selama hampir 2 tahun, bisa dikatakan gagal.
Maya mulai mencari jalan lain untuk merusak kebahagiaan Winda dan Dimas.
Aduh, apalagi usaha Maya? Bikin author susah nih Maya.
__ADS_1
Bersambung