Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 33. Winda sakit


__ADS_3

Winda sudah mulai menyelidiki kejadian 2 tahun yang lalu. Hal pertama yang dia lakukan adalah berusaha mendekati Bayu untuk mencari informasi. Namun bukan sebagai Winda tetapi sebagai Tera.


Winda tahu jika Bayu terobsesi padanya seperti Dimas, karena itu dia berusaha melakukan kerjasama dengan perusahaan Bayu dalam proyek pembuatan pakaian tidur. Mungkin karena Winda, Bayu dengan mudah menerima tawaran kerjasama itu.


Dengan dikawal 2 pengawalnya dan seorang asisten kepercayaan Winda, Wind datang kekantor Bayu untuk membicarakan kelanjutan kerjasama sekaligus menentukan hari penandatanganan proyek kerjasama tersebut.


Winda dengan elegan dan dandanan sederhana, cukup untuk membuat Bayu tak bisa melepaskan pandangannya dari Winda. Tanpa menggoda pun, Bayu sudah tergoda pada Winda yang selama 2 tahun tidak bertemu.


"Winda, selamat. Kerjasama kita akan segera ditandatangani. Kamu cari tempat dan waktunya, aku akan menyesuaikan dengan jadwalmu," kata Bayu memberi kebebasan Winda untuk memilih.


"Maaf, nama saya bukan Winda, tapi Tera. Saya harap pak Bayu jangan salah sebut nama," kata Winda mengingatkan.


"Oh...saya suka nama Winda. Jadi mulai sekarang, saya akan memanggilmu dengan Winda saja. Bagaimana?"


"Terserah pak Bayu saja. Saya tidak ingin berdebat hanya karena sebuah nama."


"Baguslah kalau begitu. Segera hubungi saya jika sudah tentukan waktu dan tempatnya."


"Baik. Sesegera mungkin kami akan mengabari anda. Kami permisi dulu. Selamat siang," kata Winda sambil mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Bayu dengan senyum kemenangan.


Akhirnya aku yang akan berada disisi Winda, Dimas.

__ADS_1


Winda melangkah keluar dengan hati lega bisa mendekati Bayu. Walaupun Winda sadar jika, Bayu juga punya niat tersembunyi mendekatinya. Demi tujuannya agar tercapai, Winda memang harus rela berkorban.


Mobil Winda melaju menuju sebuah ke sebuah butik mewah milik anak perusahaan nenek. Tiba-tiba, Winda merasakan sakit di perutnya yang membuat Raga, asistennya panik.


"Aduh, sakit..."


"Bu Tera, kita pergi ke rumah sakit saja ya?" tanya Raga panik.


"Tidak perlu, kita ke apotek saja beli obat," kata Winda sambil menahan sakit.


Namun Raga sangat khawatir dengan kondisi bos nya, jadi tanpa meminta izin, dia diam-diam meminta pak Parjo ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Raga membukakan pintu untuk bosnya dan pelan-pelan meminta Winda untuk turun.


Winda melihat keluar dan terkejut karena ternyata Raga membawanya ke rumah sakit tempat Dimas bekerja.


"Raga, bukanya tadi aku menyuruhmu pergi ke apotek saja? Kenapa kita malah pergi ke rumah sakit?" tanya Winda kesal.


"Maafkan Raga bu Tera, saya sangat khawatir dengan kondisi bu Tera. Karena ini bukan yang pertama kalinya bu Tera sakit perut. Ibu harus memeriksakan ini ke rumah sakit agar lebih jelas penyakitnya," ucap Raga mencoba membuat bosnya mengerti.


Winda membenarkan apa yang dikatakan Raga. Dia tidak boleh meremehkan suatu penyakit. Winda ingin hidup lebih lama agar bisa bersama suami dan anak-anaknya kelak.

__ADS_1


Winda berjalan perlahan dibantu Raga. Saat itu Dimas yang baru saja keluar untuk membeli makan siangnya sendiri, melihat Winda yang meringis kesakitan.


Dimas segera mendekati Winda dan memberikan kantong makanan kepada Raga. Dimas dengan cepat mengangkat tubuh Winda tanpa peduli orang-orang yang kaget melihat ulah sang dokter. Winda hanya bisa diam dan pasrah dalam gendongan sang suami.


Dimas membawanya ke ruangannya diikuti Raga. Dimas meminta dokter Asya untuk memeriksa kondisi Winda. Dimas tampak sangat cemas dengan kondisi Winda.


"Bagaimana kondisinya dokter Asya?" tanya Dimas.


"Tidak ada yang serius. Dia hanya bermasalah dengan lambungnya, tapi jika dibiarkan terus seperti ini, juga bisa berakibat fatal. Jadi usahakan makan tepat waktu dan hindari makanan pedas," kata dokter Asya.


"Baik dokter, terimakasih," ucap Dimas lega.


"Ini resepnya, silakan segera ditebus ya," kata dokter Asya pelan.


"Biar Raga saja yang menebusnya."


Raga mengambil resep dari tangan dokter Asya. Dokter Asya bergegas keluar diikuti Raga.


Sementara itu, Dimas berdiri di samping tempat tidur Winda yang masih terbaring lemah.


Winda, aku akan membuktikan jika kamu adalah benar-benar Winda.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2