Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 46. Menunggu


__ADS_3

Karena kedatangan Dimas dan Winda, kegiatan pagi ini menjadi acara santai bersama keluarga. Ayah Dirga membaca koran, ibu Sapna membaca majalah sedang Lilis bermain game.


Acara bincang-bincang segera di mulai. Dimas juga berusaha mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semua pada keluarganya.


"Ayah, ibu dan Lilis. Winda ingin menyampaikan sesuatu pada kalian," kata Dimas mengawali pembicaraan.


"Katakan saja nak Winda, kamu tidak perlu canggung karena kami sibuk membaca. Tapi kami pasti mendengarkan apa yang kamu bicarakan," kata Bu Sapna.


"Iya mbak Winda. Apakah ini tentang kepergian mbak Winda?" tanya Lilis.


"Baiklah, Winda akan menceritakan semuanya, karena saya tahu kalian pasti selalu bertanya-tanya tentang semua itu," kata Winda sambil menghela nafas.


Winda menceritakan dari awal dia diculik, kemudian ditolong nenek dan dibawa keluar negeri. Saat kembali, Winda cemburu dan marah pada Dimas sehingga pergi lagi keluar negeri.


Winda saat itu, dalam keadaan hamil dan melahirkan dengan selamat. Anak Winda sekarang diasuh nenek diluar negeri.


Mendengar cerita Winda, membuat ayah Dirga dan bu Sapna meletakkan koran dan majalah nya. Apalagi Lilis, dia terdiam lalu berteriak.


"Aaaaa, aku punya keponakan?! Mbak Winda, kenapa baru bilang sekarang sih. Ada fotonya nggak, sini aku mau lihat," kata Lilis heboh.


"Winda, kenapa kalian tidak menjemput anak kalian dan bawa pulang? Kami juga ingin melihat cucu kami," kata Ayah Dirga.


"Iya Dimas. Jemput anakmu, biar kita bisa asuh mereka disini. Dia punya keluarga, pasti dia juga akan senang disini," kata bu Sapna.


"Kalian tidak perlu cemas, kalian pasti bisa bertemu cucu kalian. Pekan depan, mereka datang. Nanti kita jemput sama-sama di bandara," kata Dimas sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, akhirnya kita punya cucu juga setelah menunggu bertahun-tahun. Anak Dimas, ibu benar-benar tidak menyangka."


"Ayah juga ikut senang mendengarnya. Ayah lega, doa kita dikabulkan Allah."

__ADS_1


"Lilis juga senang, nggak sabar rasanya menunggu hari itu tiba."


Winda dan Dimas tersenyum melihat kebahagiaan didalam rumah yang sudah sekian lama mendambakan hadirnya cucu.


Cucu belum datang saja, mereka sudah terlihat sumringah, apalagi jika mereka sudah benar-benar melihat cucu mereka yang imut dan lucu.


Namun, ditengah kebahagiaan itu, mereka bertanya-tanya, siapa orang yang berusaha menyakiti Winda.


"Winda, apakah kamu sudah tahu, siapa orang yang ingin menyakiti kamu?" tanya. ayah Dirga penasaran.


"Sampai saat ini, Winda belum tahu. Kemarin Winda mencoba mencari informasi dari mas Bayu. Tetapi ternyata dia tidak melakukan itu," kata Winda.


"Apa kamu yakin, bukan dia pelakunya?" tanya Dimas tak percaya.


"Mas, bagaimanapun juga dia mencintai Winda. Dan Winda percaya apa yang dikatakan mas Bayu itu," jawab Winda yakin.


"Mbak Winda, jangan bicara begitu. Lihat, wajah kak Dimas masam begitu," ucap Lilis sambil tersenyum lebar.


Semua orang menatap Dimas yang diam seribu bahasa. Dia sedang marah dan kesal karena istrinya mengagumi cinta mantan suaminya.


Kalau sampai Winda tidak merayuku dan memujiku lebih dari Bayu, aku akan ngambek sampai sore. Yah, memang harus sampe sore saja. Tidak boleh marah lama-lama, karena itu larangan dan dosa. Apalagi, malam hari waktunya bermesraan.


"Mas Dimas, Winda yakin cinta mas Dimas pada Winda lebih besar dari siapapun. Mas Dimas, pria yang paling ganteng dan paling baik. Mas Dimas suami Winda satu-satunya," rayu Winda yang membuat yang ada disana menahan tawa.


Dimas pun merasa geli mendengar rayuan yang Winda ucapkan seolah membaca tulisan. Dan saat Dimas menoleh, benar saja, Winda membaca tulisan di selembar kertas pemberian Lilis.


"Winda, siapa yang memberi catatan ini?" tanya Dimas sambil merebut kertas di tangan Winda.


"Kakak, yang pentingkan, mbak Winda sudah merayumu. Kurang apalagi sih kakak?" kata Lilis.

__ADS_1


Lilis sengaja menyela, agar Winda tidak menjawab pertanyaan kakak nya. Lilis tidak ingin kakaknya tahu jika tulisan itu miliknya.


"Terserahlah. Sayang, jangan ulangi lagi. Itu merobek harga diriku sebagai suami. Sakit rasanya hatiku," kata Dimas memegang dadanya.


"Maafkan Winda, mas. Aku janji tidak akan mengulangi lagi. Sini, mana yang sakit," jawab Winda.


Dimas mendekatkan dadanya dan Winda tanpa malu mengelus dada suaminya. Ayah dan ibu mertuanya hanya tersenyum saja melihat adegan yang persis drama didepan mereka.


"Kakak lebay, kenapa mbak Winda ikutan lebay juga sih," kata Lilis malu.


Mereka tertawa bersama seolah tiada masalah lagi.


"Mas, ada satu hal lagi. Tentang mas Bayu," kata Winda pelan.


"Ada apa lagi dengan dia?"


"Aku terlanjur menandatangi kontrak kerjasama dengan dia. Kamu tidak keberatan kan?"


Dimas terdiam sesaat. Sedangkan ayah, ibu dan Lilis diam saja karena mereka tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga Dimas. Dimas sudah dewasa dan bisa memutuskan yang terbaik untuk dirinya dan keluarga kecilnya.


"Kalau urusan pekerjaan, aku tidak keberatan. Aku percaya kamu profesional. Tapi hati-hati dengan Bayu. Aku takut dia memiliki rencana lain terhadapmu. Lagipula, kita belum menemukan pelaku yang sebenarnya atas penculikan kamu."


"Winda mengerti kekhawatiran mas Dimas. Winda akan selalu berhati-hati menghadapi mas Bayu. Terimakasih, sudah mempercayaiku," ucap Winda lega.


Sambil menunggu kedatangan anak mereka dari luar negeri, Dimas tetap menjalankan kewajibannya sebagai dokter dan Winda tetap melanjutkan kerja sama dengan Bayu.


Waktu menunggu memang terasa lama. Kalau bisa, ingin rasanya menyingkat waktu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2