
"Kemana Bun?"Tanya Andra yang melihat Bintang berjalan menuju keluar.
"Kasi makan bayi dua (Kucing)"Jawab Bintang.
"Bayi nomor tiganya gak di kasi makan Bun?"Yang ia sebut nomor tiga itu dirinya sendiri.
"Bayinya udah besar gak perlu di kasi makan"
"Tapi kurang jatah Bun"Goda Andra dengan seringai seramnya.
Bintang tidak menjawab ia langsung melempar batal ke arah Andra yang refleks menangkapnya lalu terkekeh geli "Mesum!"Cibir Bintang.
BRAAK!
Bintang menutup pintu dengan keras,Andra tersenyum menggelengkan kepalanya ia tampak senang karena telah menggoda istrinya sendiri.
Bintang meracik sendiri makanan untuk anak asuhnya yang menggemaskan dan unyu-unyu itu seperti biasa Bintang memberi Loly makan satu paha ayam sementara Munah, Jubai dan Ujang hanya makan makanan kucing yang bisa dibeli di supermarket.
"Selamat makan anak-anakku sayang!"Seru Bintang mengelus satu persatu hewan pemalas itu "Loly? kenapa kamu gak makan?"Tanyanya yang melihat Loly hanya bergeming, biasanya ia sangat antusias memakan makanannya yang sangat Loly suka itu.
"Aku ingin berbicara"Ucap Loly lemah.
Dahi Bintang berkerut tidak biasanya Loly seperti ini, kenapa dia ya? tampaknya ingin berbicara serius pikir Bintang "Ada apa?"Bintang mengeluarkan Loly dari rumahnya kemudian memangku hewan berbulu itu.
"Maaf aku baru mengatakan ini"Lirih Loly dengan suara semakin lemah "Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan hal ini dari jauh hari,tapi aku melihatmu yang sangat senang tidak jadi mengatakannya karena aku tidak mau merusak suasana hatimu yang sedang bahagia apalagi sampai kamu kepikiran"
"Katakan"Bintang yang awalnya ceria dengan senyumnya yang tidak pernah lepas dari bibirnya kini raut wajahnya berubah menjadi dingin ada kekhawatiran di raut wajahnya.
"Besok hari terakhirmu"Suara Loly nyaris tidak terdengar oleh Bintang karena saking kecilnya.
Deg!
Bintang mematung sejenak berusaha tidak menitikkan air mata,namun apalah daya air matanya tetap menetes membasahi bulu lebat Loly "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang Loly?"Sungguh! berbicara pun ia tidak sanggup lagi.
"Maaf... aku takut kau kepikiran"Jawab Loly merasa bersalah.
Bintang mendongak menahan air matanya yang ingin jatuh lagi,dadanya tiba-tiba sesak seiring ia tahan air matanya.Bintang melihat Andra yang sedang memainkan ponselnya kemudian beralih pada boks bayi yang berisi anaknya.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus besok?"Satu tetesan lolos lagi dari matanya.
"Karena sudah waktunya kau untuk pergi, sekarang lihatlah tanggal dan bulan hari ini"Ucap Loly.
Bintang menghidupkan ponselnya dan melihat tanggal dan bulan hari ini,Benar saja tanggal dan bulanya sama di kala ia mencari jalan keluar dari hutan bersama Andra tahun lalu.
Tangannya tiba-tiba gemetar memegang ponselnya air mata benar-benar tidak bisa di bendung lagi hingga tanpa sadar ia menjatuhkan ponsel dari tangannya.
Andra yang mendengar suara ponsel Bintang jatuh pun refleks menoleh Istrinya "Kenapa?"Tanyanya sedikit panik melihat Bintang menangis dan tubuhnya gemetar.
Bintang langsung memeluk Andra menangis sejadi-jadinya di bahu pria itu seakan tidak mau melepas ataupun meninggalkan kekasih hatinya sementara Andra hanya berdiam mengelus punggung istrinya membiarkan Bintang melampiaskan tangisnya pada dirinya yang pasti ia tau Bintang seperti ini ada sebabnya.
Setelah puas menangis Bintang menyeka air matanya memberanikan diri untuk menatap mata Andra yang penasaran kenapa dirinya menangis "Be,besok hari terakhir bunda Yah..."Ucapnya diiringi sesenggukan berusaha tidak mengeluarkan air mata lagi.
Andra menggelengkan kepala seakan tidak percaya apa yang telah di dengarnya "Bunda jangan ngomong kayak gitu! bunda gak mungkin ninggalin ayah sama Dya"Kembali mendekap Istrinya mencium puncak kepala Bintang berkali "Percaya sama ayah,besok tidak akan terjadi apa-apa"Andra berusaha meyakinkan meskipun dirinya tidak yakin akan kehilangan pujaan hatinya.
Bintang semakin memeluk Andra erat "Bunda takut Yah..."Lirih Bintang
"Jangan takut ada Ayah"
Di dalam lubuk hati Andra paling terdalam ia berharap tidak ada hari esok atau lusa bahkan ia berharap hari ini berjalan sangat lambat agar bisa berlama-lama dengan Istrinya.
...🍁🍁🍁...
Namun harapan itu hilang bagai di telan bumi kini matahari mulai naik membawa hari baru dan cerita baru yang akan mereka lewati.
Andra bangun dari tidurnya menoleh ke kiri memastikan sang istri berada di sampingnya,ia bernapas lega melihat Bintang sedang tertidur dengan tenang,wajah Bintang yang putih polos membuatnya mengulas senyum tipis di bibirnya.
Andra mengecup singkat bibir Bintang kemudian melangkah turun dari ranjang melihat putrinya yang saat ini sudah membuka matanya sambil mengoceh menggerakkan tangan dan kakinya.
"Hey anak Ayah sudah bangun rupanya"Andra mengambil Dya lalu menggendong bayi itu kemudian ia letakkan di samping Bintang ia juga ikut berbaring,anaknya berada di tengah-tengah dirinya dan Bintang.
Andra menatap sendu Bintang dan Dya bergantian sambil memeluk tubuh keduanya,saat ini hatinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata antara kecewa,marah,sedih dan takut kehilangan pastinya semua itu ia rasakan.
Bintang yang merasa tubuhnya direngkuh membuka mata perlahan sedikit menggeliat,ia terkejut ketika melihat anaknya di samping dirinya, pikirnya siapa yang memindahkan Dya? kemudian ia merasa lega melihat sang suami tersenyum kearahnya.
"Morning"Ucap Andra yang dijawab senyuman hangat dari istrinya,ia harap senyuman itu selalu ada ketika ia membuka mata setiap pagi.
__ADS_1
"Ayah gak kerja?"Tanya Bintang yang di jawab gelengan kepala dari Andra "Kenapa?"
"Ayah mau sama bunda aja"
"Tapi Yah---"
"Hari ini kita jalan-jalan"Potong Andra.
Bintang yang awalnya mencebikkan bibir kini tersenyum mendengar kata jalan-jalan, semenjak ada Dya ia jarang sekali menghabiskan waktu bersama dengan suaminya di luar rumah,tidak seperti dulu sebelum ia melahirkan anaknya ia selalu jalan-jalan setiap akhir pekan.
Bintang mengangguk antusias mencium singkat pipi putrinya "Bawa Dya?"Tanyanya.
"Nggak,Dya tinggal di rumah sama mamah dan papah"Jawab Andra yang kebetulan sekali Niel dan Neissa baru datang subuh tadi.
"Kok gak bawa?"Bintang merasa tidak senang Dya tidak di bawa.
"Ganggu"
"Ish..."Desis Bintang kesal kembali mencium pipi Dya untuk sekian kalinya.
Sebenarnya hari ini Andra ada meating penting dengan klien bahkan sampai rapat koordinasi dengan perusahaan Singapore pun ia tinggalkan hanya karena ingin menghabiskan waktu bersama sang istri tercinta, baginya keluarga segalanya dan prioritas utama.Pekerjaan tetap penting tapi lebih penting mana dari istrinya? bahkan ia rela jika perusahaannya bangkrut asalkan Bintang tidak pergi meninggalkan dirinya.
.
.
.
.
.
Catatan penulis!
Sedikit lagi guys! huh gak sabar bikin kalian nangis hahaha,cukup sekian di bab ini sampai ketemu di bab selanjutnya insyaallah malam up ya.
...LIKE SAMA DUKUNGANNYA!...
__ADS_1