
Dya yang mendengarkan refleks tersenyum.
"Itu... ada hitam-hitam"Ucap Ravin menunjuk giginya sendiri.
Dya langsung menutup mulutnya, secepat kilat meraih ponselnya membuka kamera memastikan apa yang di bilang Ravin itu benar.
"Mana? gak ada?"Sambil bercermin di kamera ponselnya "Lo bohong ya?"Selidik Dya menatap Ravin dengan intens.
"Ad-ada kok tadi"Elak Ravin.
Mata Dya menyipit memandang wajah Ravin,yang di pandang jadi salting "Kalau mau liat senyum gue itu bilang aja,gak usah pake alesan segala"Dya tersenyum selebar mungkin ke arah Ravin yang memalingkan wajahnya,entah kenapa tiba-tiba dia punya penyakit diabetes.
Dya menyodongkan kepalanya ke arah Ravin yang semakin menghindar "Jangan-jangan lo suka sama my deadly smile (Senyuman mautku) ya?"Terka Dya "Woah! atau suka sama orangnya?"Semakin menggoda Ravin yang kini menatap wajah Dya dengan napas dan jantung tak karuan tapi berusaha berekspresi santai.
"PD banget sih lo"Ravin menegakkan tubuhnya membuat Dya duduk kembali. Sementara yang lainnya menatap heran pada keduanya yang tadi canggung tapi sekarang?,ah sudahlah.
"Ya kali aja,siapa tau"Balas Dya santai.
...👁️👁️👁️...
Malam bertabur bintang kembali menghiasi dunia,hembusan demi hembusan angin menerpa wajah gadis yang sedang duduk sendirian di tepi danau. Rambut panjangnya tak henti-henti berterbangan akibat angin yang kencang.
Hati gadis itu menjadi damai ketika melihat pantulan cahaya bulan di danau kala itu,ia menarik sedikit sudut bibirnya sambil mengayunkan kaki.
Ingatannya kembali pada saat ia memutuskan sang mantan kekasih,rasa sakit hatinya masih ada walaupun ia sedikit lega tidak berurusan lagi dengan orang seperti mantan kekasihnya.
Tapi.... ada sesuatu yang menjanggal pikirannya, Zidan.Pria itu yang sekarang yang dipikirkannya, bagaimana bisa Zidan ada di tempat itu? apa dia membututiku? apa dia disuruh ayah mengikuti'ku?.Kalau begitu pasti dia ada di sekitar sini pikir Dya.
Dya mengalihkan pandangannya ke sekitar,tidak ada siapa-siapa,sepi dan sunyi "Zidan? lo ada disini?"Tanya Dya setengah teriak, merasa tidak ada jawaban Dya kembali memanggil namanya Zidan "Gue tau lo ada di sini! jadi keluarlah !"Teriaknya lagi.
Zidan yang sembunyi di balik semak-semak pun keluar "Ada apa nona?"Tanya Zidan yang tiba-tiba berada di belakang Dya.
Sudah kuduga
Dya tersenyum kemudian duduk kembali di kursi "Duduklah"Dya menepuk kursi Sebelahnya yang kosong.
Tanpa bertanya Zidan mengikuti kemauan nona mudanya "Apa nona butuh sesuatu?"Tanya Zidan lembut, menatap mata Dya yang seolah menyalurkan kesedihan padanya.
"Tidak"Jawab Dya diiringi gelengan kepala.
__ADS_1
Zidan mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya ke danau "Sejak kapan Ayah menyuruh lo mengikuti gue?"Tanya Dya yang juga menatap lurus ke danau.
"Belum lama,sekitar tiga bulan yang lalu"
Dya mengangguk "Dulu,Ayah sering bawa gue kesini untuk menjernihkan pikirannya jika ada masalah di kantor dan Ayah selalu menceritakan masalahnya pada gue yang tidak tau apa-apa"Dya tersenyum ketika mengingat masa-masa ia masih kecil bersama sang Ayah "Dia tertawa karena gue selalu mengoceh tidak jelas tentang ceritanya.Dan hal itu membuat gue tertawa juga melihat Ayah tertawa,dia seakan melupakan masalahnya"Lanjutnya.
"Tuan memang Ayah yang sempurna"Respon Zidan,ia tahu gadis yang ada di sampingnya itu sedang curhat.
"Sangat"Tambah Dya.Ia menatap wajah tampan pria yang disampingnya yang sedang melihat langit.
Tampan...
Entah dorongan dari mana Dya berani merengkuh lengan pria itu dan menjatuhkan kepalanya di bahu kokoh Zidan yang kini terkejut dengan perlakuan Dya.Nyaman,wangi itu yang Dya rasakan di dekat pria itu.
"Biarkan aku seperti ini"Bahkan panggilannya berubah menjadi aku, Sepertinya Dya sadar apa yang telah ia lakukan "Terkadang manusia juga butuh kasih sayang dari orang lain,selain orang tuanya,aku butuh teman,aku juga butuh sandaran untuk berbagi keluh kesahku.Mungkin kamu berfikir aku mempunyai segalanya,aku mempunyai orang tua yang sangat sayang padaku dan aku juga bisa membeli segalanya dengan uang"
"Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku beli, Kesetiaan Dari Seseorang. Aku dengan mudahnya mempercayai dia (Rendi) dan aku juga tulus mencintainya tapi, apa yang aku dapat'kan?.Aku hanya mendapat luka yang ia buat,aku benar-benar bodoh bukan?"Lanjutnya tersenyum getir.
"Terkadang manusia juga lupa bahwa masih banyak manusia yang diluar sana yang butuh kasih sayang orang tua dari pada orang lain,dan terkadang manusia suka berfikir pendek dan tidak bisa menerka apa yang terjadi selanjutnya ketika mengambil keputusan. Sebenarnya Nona itu tidak bodoh,tapi cantik dan cerdas hanya saja Nona selalu berfikir pendek"Ucap Zidan berhenti sejenak.
"Bahkan Nona tidak memikirkan apa yang Nona dapatkan dalam masalah yang Nona alami kemarin-kemarin selain luka dan sakit hati"
"Pelajaran. Nona harus belajar dari pengalaman yang Nona Dya alami sendiri,banyak pria di luar sana yang menganggap perempuan itu lemah,padahal kenyataannya tidak,maaf sebelumnya kalau saya boleh jujur Nona Dya termasuk perempuan yang lemah,bukan saya menghina tapi itu kenyataan"
"Kamu benar"Menyela lagi.
Zidan tersenyum melepaskan tangan Dya dari lengannya kemudian memegang kedua pundak gadis itu yang menatap lekat wajahnya.
"Jangan diambil hati,saya bicara sesuai apa yang saya lihat selama ini.Tuan Andra sangat posesif pada Nona hingga menyuruh saya untuk menjaga dan mengikuti Nona kemanapun,bahkan sering saya lihat Tuan Andra selalu memanjakan Nona Dya"
"Dan sebenarnya Nona tidak perlu menyesali kejadian kemarin-kemarin,karena pria brengsek itu pantas untuk mendapatkan hukuman yang di berikan Tuan,dan Nona juga tidak perlu bersedih hanya karena Nona tidak dapat merasakan perhatian dan kasih sayang orang lain.Jika kemauan Nona begitu cari pria yang baik-baik yang bisa membuat Nona nyaman dan bahagia"Tutur Zidan panjang lebar.
Tapi kamu salah satu orang yang membuatku nyaman Zidan...
"Untuk itu,jadilah perempuan yang tangguh, percaya diri dan pintar dalam memilih sesuatu"
"Apa aku bisa?"
"Selagi ada kemauan kenapa tidak bisa?"
__ADS_1
Dya menurunkan tangan Zidan dari pundaknya kemudian menggenggam tangan pria itu "Kalau begitu ajarakan aku untuk menjadi wanita tangguh dan percaya diri"Tegas Dya dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Boleh asalkan Nona tidak manja,tidak lagi bangun siang,tidak lagi suka malas-malasan dan tidak lagi tidur larut malam hingga dini hari"
"Sepertinya kamu tau betul tentangku"Menatap Zidan penuh selidik.
"Tentu saja,bahkan setiap malam Nona nonton kartun Spongebob pun saya tahu"
"Zidan!"Memukul lengan pria itu kesal,karena telah membuka aibnya yang sering menonton Spongebob di malam hari.
"Saya juga tau kalau sikat gigi Nona berwarna-warni dan setiap harinya akan berganti warna sesuai dengan warna pelangi"Semakin menggoda Nona mudanya.
"Astaga! prinsipku memang harus begitu Zidan! jika tidak gigiku tidak akan berwarna, terus apa lagi yang kamu tau?"Merasa tertarik mengobrol dengan Zidan.
Zidan berfikir sejenak apa hubungannya dengan gigi tidak berwarna jika tidak berganti warna sikat gigi? toh giginya tetap warna putih juga.Tak ambil pusing Zidan melanjutkan bicaranya.
"Sebelum tidur Nona akan menebas-nebas tempat tidur Nona dengan sapu lidi"Ucap Zidan terkekeh geli ketika ia mendengar gesekan sapu lidi tengah malam,sebab kamar Dya dan Zidan bersebalahan.
"Itu harus! karena aku tidak suka tempat tidur yang berpasir"
Ribet juga ritual tidurnya....
.
.
.
.
.
Catatan penulis!
Ravin atau Zidan nih?
Ravin yang kocak atau Zidan yang dewasa? dan cenderung dingin
...LIKE KOMEN KOPI DAN MAWARNYA JANGAN LUPA...
__ADS_1