Istriku Seorang Peri

Istriku Seorang Peri
BAB 71: Menghabiskan waktu


__ADS_3

Di sebuah taman yang lumayan sepi karena hari ini sebenarnya bukan hari libur jadi para pengunjung yang datang hanya sedikit.


Sepasang suami istri itu berjalan mengelilingi taman menikmati udara segar dan pemandangan berbagai macam tanaman yang tertanam di sana ada bunga berwarna-warni, anggrek serta ada burung yang bertengger di ranting pohon,sungguh pemandangan yang memanjakan mata!


Tangan keduanya saling berpaut erat seakan tidak membiarkan celah bagi mereka untuk berpisah, senyuman demi senyuman bermekaran di bibir mereka kala itu,kalau di lihat mereka seperti anak remaja yang sedang berpacaran.


"Bunda mau beli apa?"Tanya Andra yang melihat beberapa pedagang somay, batagor dan sosis bakar.


"Bunda pengen somay sama batagor aja boleh ya?"Meminta persetujuan suaminya yang pasti suaminya itu turuti.


"Boleh... Mau campur ikan teri,telur asin,udang,cencalok pun boleh..."


"Nah kayanya enak tuh"


"Bund..."


"Hehehe iya-iya bercanda"


Andra tersenyum mengacak-acak rambut istrinya gemas "Mas batagor satu bungkus ya"Ucap Andra pada penjual batagor yang di jawab 'siap' oleh penjual batagor itu.


"Kang! somay satu bungkus ya"Ucap Bintang pada penjual somay yang bersebalahan dengan penjual batagor.


"Iya neng"Jawab penjual somay.


Kemudian Andra dan Bintang duduk di kursi taman sambil menunggu pesanan mereka,Bintang meletakkan kepalanya di bahu suaminya sambil menatap air mancur di depan mereka.


Untuk sesaat mereka bergeming menatap lurus ke air mancur yang menimbulkan bunyi percikan air, sesaat keduanya larut dalam pikiran masing-masing hingga penjual batagor membuyarkan lamunan mereka.


"Mas,Mbak ini batagornya"Ucap penjual batagor menyodorkan piring plastik ke arah Bintang yang langsung menerimanya.


"Terimakasih"Ucap Bintang seraya tersenyum.


Andra mengeluarkan dompetnya membayar penjual batagor itu dengan uang lebih kemudian penjual batagor itu berlalu pergi dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.


Begitu juga dengan penjual somay yang baru saja menyodorkan mika yang berisi somay pada Bintang.

__ADS_1


"Terimakasih kang"Ucap Bintang yang di jawab anggukan oleh penjual somay kemudian melangkah pergi.


"Kenapa harus manggil Kang?"Tanya Andra sambil menyuapi batagor ke mulut Bintang yang langsung memakannya.


"Kan tukang somay hehehe"Kekeh Bintang yang membuat Andra tersenyum tipis.


Bintang menyuapi somay pada Andra yang langsung menerimanya "Enak?"Tanya Bintang yang dijawab anggukan oleh Andra "Cerita dong Yah..."Pinta Bintang.


"Cerita apa?"Tanya Andra.


"Cerita tentang kehidupan yang paling berkesan bagi ayah yang bunda gak tau"


"Yang berkesan?"Berusaha mengingat "Yang paling berkesan itu... dulu waktu ayah pulang sekolah,ayah di bonceng sama temen perempuan ayah kalau gak salah namanya Zira dia itu tomboy banget orangnya jadi ayah gak sungkan-sungkan sama dia,dulukan ayah sering di jemput terlambat karena papah sama mamah sibuk kerja,jadi ayah selalu di antar pulang sama Zira pakai sepeda dan suatu hari pas ayah sama Zira berboncengan, Zira kehilangan keseimbangan karena menabrak batu besar,alhasil kami jatuh dan parahnya kaki Zira itu berdarah karena di tertusuk oleh engkolan sepeda sampai tembus ke telapak kakinya"Andra menarik napas sembari menyuapi batagor ke mulut Bintang.


"Karena engkolan sepedanya itu runcing jadi kakinya tembus,terus ayah langsung panik sampai nangis-nangis di pinggir jalan liat darah Zira mengalir banyak terus kata Zira 'Gue yang luka kok elu yang nangis Bing?' terus ayah bilang bla... bla... bla..."Kalau terus dilanjutkan gak abis-abis.


Bintang terkekeh mendengar cerita suaminya "Sekarang teman ayah itu kemana?"Tanya Bintang


"Gak tau, terakhir ayah bertemu dengannya lima tahun lalu pas ayah lagi kuliah di Inggris"


Mereka saling bertukar cerita seputar kehidupan jaman dahulu yang pernah di lalui oleh Andra,ia menceritakan tentang masa kecilnya yang pernah makan pasir dan juga masa ia TK pernah pup di celana sampai-sampai t*inya menempel di bangku yang menimbulkan aroma mawar melati di seluruh kelas.


Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka yang mentertawakan cerita Andra yang sangat konyol hingga tanpa sadar waktu begitu cepat berputar kini matahari sudah tidak nampak lagi.


"Sudah malam pulang yuk"Ajak Bintang.


"Hmmm"Jawab Andra seraya berdiri lalu melangkah sambil menarik tangan Bintang.


"Bunda tunggu disini aja Yah,Ayah ambil aja motornya bunda tunggu di situ"Tunjuk Bintang pada trotoar di tepi jalan.


Andra mengangguk mengiyakan kemudian melepaskan genggaman tangannya yang dari tadi tidak terlepas,Ia terus melangkah hingga setengah jalan ia tiba-tiba lupa sesuatu.


Andra berjalan setengah berlari menuju tempat Bintang berada "Bund.... kunci motor di bund---"Ucap Andra menggantung melihat disana tidak ada Bintang,ia melihat sekitar mencari keberadaan istrinya "Bund.... bunda... bunda dimana? bund..."Ucap Andra setengah teriak.


Kemudian Andra di kejutkan oleh tas Istrinya yang berada di atas kursi tadi yang mereka duduki,Andra mengambil tas berwarna hitam itu tentunya ia kenal betul siapa pemilik tas itu.

__ADS_1


Perasaannya tiba-tiba tidak enak,ia cepat-cepat membuka tas itu mengambil kunci motor kemudian menjinjing tas itu sambil berlari ke arah parkiran.Dengan perasaan cemas campur khawatir Andra mengendarai motor matic miliknya siap membelah jalan secepat mungkin, ia mengendarai motor hingga banyak orang yang menegurnya lewat klakson, tapi ia tidak peduli saat ini tujuannya hanya kembali kerumahnya.


Tiba dirumah Andra langsung mematikan motornya lalu berlari secepat mungkin hingga menerobos masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam bahkan Neissa yang memanggil namanya ia abaikan.


Andra langsung membuka pintu kamar dengan kasar setengah berlari ia menuju rumah kucing membuka pintu transparan itu dan mencari Loly namun yang di carinya tidak ada,hanya ada tiga ekor kucing yaitu Munah, Jubai dan Ujang.


Andra menutup kembali pintu itu dengan gaya sangat lemah, kejadian yang ia takutkan kini terjadi sekarang ia benar-benar kehilangan belahan jiwanya, teman hidupnya dan pelanginya yang selalu mewarnai hari-harinya.


Tubuh Andra melemas ia menjatuhkan dirinya memakai lutut sebagai tumpuan ia meramas-ramas rambutnya frustasi,air matanya kian turun membasahi pipinya.


Andai saja ia tidak melepaskan tangannya pasti Bintang tidak akan pergi! andai saja ia tidak membiarkan Bintang menunggu pasti tidak akan seperti ini! arghhh aku memang bodoh!, Itulah yang di pikirannya saat ini bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri.


"Kau bodoh Andra! bodoh!"


"kenapa kau bisa melepaskan tangannya!"


Gumam Andra memukul-mukul kepalanya sendiri.


.


.


.


.


.


Catatan penulis!


MASIH BERSAMBUNG YA...


Cencalok adalah makanan khas Kalimantan barat yang bisa di sebut asinan udang.


...LIKE DUKUNGANNYA!...

__ADS_1


__ADS_2