
Ada kekeliruan sedikit,soal nama bab yang kemarin sebenarnya bab 87. Jadi yang sekarang bab 88 Ya.
$$$
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.33 dengan berjalan gontai Dya masuk kerumah dengan menenteng tas ranselnya,ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan lewat mulut. Sungguh hari yang melelahkan !
Langkah Dya tiba-tiba berhenti ketika melihat Zidan berdiri di depan pintu kamarnya. Entah apa yang ia lakukan, Dya tak mau ambil pusing. Melihat wajah Zidan hanya membuatnya sakit hati.
Dya langsung menerobos masuk kamarnya tanpa memperdulikan Zidan yang bingung, biasanya Dya akan bertindak aneh-aneh. Kadang-kadang menanyainya, kadang-kadang mengalaminya bahkan langsung mengajaknya latihan bela diri.
"Nona...."Panggil Zidan mencengkeram tangan Dya yang langsung menepisnya kasar. Sontak perlakuan itu membuat Zidan terkejut di tambah lagi sorot mata Dya yang menatapnya tak biasa "Apa Nona sudah makan? tadi Nyonya pesan pada saya untuk menyuruh Nona Dya untuk makan"Ucapnya sebab Bintang dan Andra pergi ke berbelanja untuk persiapan berangkat besok.
Dya tidak menggubris perkataan Zidan,ia langsung masuk menutup pintu.
Diam bukan hal yang baik bagi Zidan, ia tidak tau permasalahannya apa sampai membuat Nona mudanya seperti marah padanya. Terlebih lagi pagi ini Dya berangkat ke kampus terlalu awal dari biasanya dan memilih untuk pergi sendiri.
Zidan masuk ke kamar Dya, tentu ini sudah biasa ia lakukan. Mengingat Nona mudanya selalu menyuruh untuk mengantar makanan atau memberikan barang yang di butuhkan oleh Dya. Hingga ia terbiasa keluar masuk kamar.
"Nona Dya kenapa? apa saya berbuat salah lagi?"Tanya Zidan spontan. Pasti ia punya salah lagi yang ia sendiri tidak tahu pikirnya.
"Tidak ada"Singkat Dya mendorong tubuh Zidan keluar.Namun apalah daya, tubuh Zidan yang kekar tidak bisa ia dorong begitu saja "Keluar"Masih bersikap acuh.
"Kalau Nona berdiam seperti ini, saya mana tahu letak kesalahan saya dimana. Saya tahu Nona marah pada saya, meskipun saya tidak tahu sebab Nona marah. Dan pastinya saya melakukan kesalahan yang tidak Nona sukai. Maaf... jika saya menyakiti Nona"
"Keluar dari kamar aku"Ucap Dya lagi,kini air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.Ia berusaha menahannya agar tidak jatuh.
"Katakan apa salah saya,baru saya keluar"
"Gue bilang keluar !!"Pekik Dya mendorong tubuh Zidan sekuat tenaga, hingga pria itu memundurkan langkahnya.
Ketika Dya menutup pintu Zidan kembali menghalang, pria itu bukan tipe orang yang mudah putus asa. Apa lagi dalam hal seperti ini yang menurutnya harus di bicarakan baik-baik.
Zidan menarik tangan Dya untuk keluar"Plis jangan seperti ini"Ucap Zidan.
"Lepas !"Dya melepaskan tangannya dari cekalan Zidan "Lo bohong sama gue! lo bilang,lo gak punya pacar! tapi nyatanya lo udah punya tunangan Zidan! lo sadar gak sih ! kalau gue itu suka sama lo! dan bodohnya gue ngira lo juga suka sama gue! lo jahat Dan... lo jahat !"Marah Dya menggebu-gebu sambil memukul dada bidang Zidan yang hanya terdiam dengan pernyataan Dya yang suka padanya. Sungguh ia tidak menyangka hal ini.
__ADS_1
Zidan menangkap tangan Dya yang terus memukulnya kemudian membawa gadis itu kedekapannya "Maaf....saya tidak bermaksud menyakiti Nona" Ucapnya yang kemudian melepaskan pelukannya "Jangan menangis...."Lirihnya menghapus air matanya Dya yang mengalir deras "Saya tidak suka melihat wanita menangis apalagi itu karena laki-laki seperti saya yang tidak pantas untuk ditangisi. Saya minta maaf.... jujur saya hanya menganggap Nona sebagai adik saya yang beberapa bulan lalu meninggal karena ada tumor di otaknya sehingga membuat nyawanya hilang. Adik saya sama seperti Nona, dia ceria dan suka bertingkah aneh. Saya seakan melihat adik saya di dalam diri Nona,maka dari itu saya perhatian,selalu menuruti kemauan Nona. Tapi saya tidak menyangka bahwa perhatian yang saya berikan malah membuat Nona salah menilai saya yang suka pada Nona"Jelas Zidan sendu menatap lekat wajah Dya yang berderai air mata.
Dya mengusap air matanya kasar dan tersenyum pada Zidan, walaupun senyum itu tidak benar-benar tulus "Permintaan maaf di terima"Ucap Dya memeluk Zidan erat. Benar! setelah mendengar penjelasan Zidan, ia seperti memeluk seorang kakak yang selalu melindunginya dan tidak ingin ia tersakiti. Apa selama ini ia salah mengartikan perasaannya?
apapun itu ia tidak boleh egois.
Zidan tersenyum mengusap kepala gadis yang berada di dekapannya. Ia seperti bekerja dengan adiknya sendiri hehe.
(Satu masalah selesai)
...πππ...
Matahari kembali menyapa dunia dengan membawa hari baru dan cerita baru yang akan semua orang lalui.
"Bunda.... huaaaa Ayah huaaaa Allan mau ikutttt huaaaa"Tangis Allan pecah ketika mengantar kepergian orang tuanya di bandara.
"Ayah..."Lirih Dya menatap sendu wajah sang Ayah yang sebenarnya tidak rela meninggalkan kedua anaknya kalau bukan kerjaan yang sangat penting.
"Ayah cuma beberapa hari Kak"Ucap Andra menyakinkan putrinya "Lagian kakak gak sendirian, Eonni (Laura) juga nanti kerumah. Tadi sudah Ayah telfon"
"Bunda.... huaaa hiksss"Tangis Allan terus pecah ia merentangkan tangannya ingin memeluk sang Ibunda juga. Dan terpaksa Zidan mengikuti gerak Allan karena anak itu sedang di gendongnya.
"Zidan, saya ingin berbicara sebentar dengan kamu"Ucap Andra yang di jawab anggukan oleh Zidan,lalu Zidan memberikan Allan pada Bintang.
...π€Έπ€Έπ€Έ...
"Sekarang tugas lo cuma antar jemput Allan aja ya,gue udah ada yang jemput"Ucap Dya pada Zidan sambil menunjuk parkiran yang ternyata sudah ada si sebleng Ravin yang menunggunya disana.
Zidan tersenyum mengangguk, ternyata mereka sudah baikkan pikirnya.
"Haii ayang beb kuuu"Sapa Ravin dengan centilnya. Tampilannya kini sangat berbeda dengan baju kaos hitam di baluti kemeja putih biru dan celana jeans hitam tak lupa juga kacamata hitam yang sudah bertengger bak burung Garuda.Oh jangan lupa wangi pemuda itu membuat Dya pusing bukan kepalang, maksudnya pusing karena aromanya maskulin banget.
"Bisa gak manggilnya biasa aja?"Protes Dya yang sebenarnya senang bercampur rindu karena Ravin memanggilnya seperti dulu lagi.
"Gak bisa"Jawab Ravin memasangkan helm pada Dya yang refleks menatap lekat wajah tampan dan mempesona itu. Plakk! apasih Dya!
__ADS_1
Ravin yang lebih tinggi dari gadis itu menurunkan bola matanya menatap Dya,tentu Dya tidak tahu Ravin sedang menatapnya karena terhalang kacamata.
"Kenapa? terpesona ya?"Goda Ravin menaik-naikkan alisnya.
Dya melotot mengembalikan kesadarannya dan mendorong tubuh Ravin.
"Cepetan! gue udah telat nih"Ucap Dya langsung menaiki motor Matic milik Ravin.
"Siap !!"Seru Ravin memasang helmnya dan mulai menjalankan motornya.
Tiba-tiba Dya memeluk Ravin dari belakang dan menautkan tangannya di perut pemuda itu yang tersentak kaget di tambah lagi kepala Dya terletak di bahunya.
Duar !
Duar !
Duar !
Meledak-ledak sudah hati Ravin. Apa artinya Anin menerima perasaanya? ohh aku harap itu benar. Dan jikalau ini hanya mimpi tolong jangan ada yang membangunkanku karena ini mimpi terindah yang pernah ada.
.
.
.
.
.
Catatan penulis!
Up lama karena Author sedang Ujian. Jadi main HPnya di batasi, maaf membuat kalian menunggu. Doain Author cantik jelita ini mendapat nilai sempurna Aamiin.
...LIKE,KOMEN DUKUNGANNYA...
__ADS_1