Istriku Seorang Peri

Istriku Seorang Peri
BAB 79: Weekend


__ADS_3

Sang Surya kembali bersinar....


Weekend


05.43


Tuk... Tuk... Tuk...


Seperti janji Zidan yang akan membuat Nona mudanya menjadi wanita yang mandiri dan tangguh.Kini pria itu sedang mengetuk pintu sang putri yang sedang terlelap dalam mimpi.


"Nona...."Untuk kesekian kalinya Zidan memanggil nama Dya yang tak kunjung membuka pintu.Ia mulai geram hampir lima menit ia mengetuk pintu gadis itu belum bangun, akhirnya ia menggedor pintu dengan sangat keras untung saja Tuan dan Nyonya tidur di lantai bawah.


"Hmmm"Akhirnya Dya membuka pintu dengan mata tertutup dan rambut acak-acakan.


Zidan tertawa dalam hati ketika melihat Pyama tidur Dya bergambar Spongebob "Nona,apa kemauan Nona Dya ingin berubah menjadi wanita tangguh dan mandiri itu benar?"Tanya Zidan lembut.


"Hmmm"Jawab Dya setengah sadar diiringi anggukan kepala.


"Kalau begitu Nona mandilah,mulai hari ini saya akan mengajarkan Nona menjadi wanita yang kuat"


Dya yang mendengar perkataan Zidan refleks membuka matanya lebar-lebar "What? apa aku harus mandi sepagi ini?"Kejut Dya, pasalnya ia jarang sekali mandi diatas jam 6 pagi.


"Iya,kalau Nona tidak mau mandi juga tidak apa-apa"


"Emangnya kamu udah mandi?"Menelisik Zidan.


"Menurut Nona?"


Dya melihat Zidan dari atas sampai bawah,wangi pria ini selalu membuat hatinya tersentuh dan.... rambutnya sedikit basah. Dya menghela napas "Oke,20 menit lagi aku udah mandi"Ingin menutup pintu,tapi ditahan oleh Zidan.


"10 menit"Tawar Zidan sambil menahan pintu.


"20 menit Zidan!"Ucap Dya dengan suara lembut namun sedikit keras.


"10 menit Nona!"Balas Zidan dengan suara serupa yang membuat pipi Dya memerah.


"Oke,15 menit"Ingin menutup pintu kembali.


"5 menit"Menahan pintu lagi.


"Oke-oke 10 menit!"Geram Dya menutup pintu dengan keras yang membuat Zidan terperanjat.


...15 menit kemudian......


Ceklek...


Dya membuka pintu kamarnya yang sudah di sambut oleh Zidan yang menatap datar dirinya "Nona...."Panggil Zidan.


"Apa?"Ketus Dya.


"Nona ingin berolahraga dengan pakaian seperti ini?"Tanya Zidan,karena Dya hanya memakai celana diatas lutut dan baju kaos.


Bugh...


Pukulan kecil mendarat di lengan kekar Zidan.


"Kenapa gak bilang kalau kita mau olahraga Zaidan Saputraaa!"Geram Dya hingga menyebut nama panjang Zidan.


"Karena Nona Kheysha Anindya tidak bertanyaaa"Balas Zidan.


Lagi-lagi pipi Dya memerah,hanya karena Zidan memanggil nama panjangnya "Ck... oke Sebentar! aku ganti baju dulu"Masuk kembali kedalam kamarnya.


...🌼🌼🌼...


"Zidan!! tunggu! woiii"Teriak Dya yang saat ini tengah berlari mengejar Zidan yang meninggalkannya,karena mereka joging berkeliling kompleks.

__ADS_1


"Ayo Nona!! sebentar lagi sampai !"Teriak Zidan yang sudah di depan pintu gerbang rumah Andra, Sementara Dya masih berlari terbirit-birit dengan napas ngos-ngosan.


"Huft.... akhirnya sampai juga"Ucap Dya lega dengan peluh membasahi pelipisnya serta deru napas tak beraturan.


"Nih"Zidan Menyodorkan air mineral ke arah Dya yang langsung meneguk habis air itu hingga setengah "Hmmm"Menyodorkan inhaler (obat hirup untuk asma) yang langsung diterima oleh Dya.


"Makasih"Ucap Dya.


Setelah selesai menghirup obatnya,Zidan menarik lembut tangan Dya yang hanya bisa mengikuti langkah Zidan yang menuju halaman belakang rumahnya.


"Apalagi ini Zidan?"Menatap pria itu yang memasang sarung tinju.


"Untuk menjadi wanita kuat,Nona harus belajar bela diri untuk keselamatan Nona sendiri,dan perhatikan saya"Mulai mengambil posisi kuda-kuda kemudian memukul samsak secara bergilir dengan kedua tangannya "Kalau ada yang melukai Nona. pukul dia dengan cara seperti ini"Memukul kembali samsak "Dan jangan biarkan dia melukai Nona lagi"Kembali memukul untuk sekian kalinya.


Disisi lain...


"Tumben Dya mau olahraga Yah?"Tanya Bintang sambil meletakkan segelas kopi di hadapan Andra yang melihat putrinya dari kejauhan, karena saat ini keduanya sedang duduk di balkon kamar yang mengarah ke halaman belakang.


"Ayah juga gak tau Bund"Jawab Andra.


Bintang dan Andra asik melihat interaksi Zidan dan Dya yang sudah kelihatan sangat akrab.


"Bunda mau kesana dulu"Bintang berlari tanpa menjawab pertanyaan suaminya yang bertanya 'Ngapain?'


"Pagi"Sapa Bintang pada Zidan dan Dya.


"Pagi Nyonya"Sahut Zidan sedikit menundukkan kepalanya.


Diwaktu yang sama "Pagi bund"Sahut Dya tersenyum.


"Kakak mau belajar bela diri?"Tanya Bintang.


"Iya bunda,Dya mau jadi perempuan yang kuat"Jawab Dya.


Bintang tersenyum mengusap kepala putri kesayangannya "Bagus!"Ia duduk di kursi santai.


"Gimana caranya?"Dya masih bingung.


"Seperti saya lakukan tadi,Nona tinggal pukul saya aja sekuat mungkin"


"Nanti badan kamu sakit dong kalau aku pukul"Ucap Dya dengan polosnya.


"Ya ampun Dyaaa,maksud Zidan itu gini"Dengan gerakan cepat Bintang memasang sarung tinju.


Bugh... Bugh...


Bintang melayangkan pukulan sedikit keras pada perut Zidan yang memegang perutnya karena tadi tanpa aba-aba Bintang langsung menyerangnya yang belum siap.


"Bunda!"Pekik Dya "Kamu Gapapa Dan?"Tanya Dya khawatir.


"Tidak apa-apa Nona"Jawab Zidan menegakkan tubuhnya.


"Bunda gimana sih! kan Zidan'nya jadi sakit"Sewot Dya memarahi Bintang yang sudah duduk dengan santainya.


"Kamu kok keliatannya khawatir banget sama Zidan? orang dia gapapa kok,ya kan?"Ucap Bintang Meminta dukungan pada Zidan.


"Iya Nona saya tidak apa-apa"


"Ada apa ini?"Tanya Andra yang baru saja datang dengan suara beratnya.


"Bun---"


"Tidak ada apa-apa Tuan"Potong Zidan.


Andra mengangguk ikut duduk di kursi samping Istrinya.

__ADS_1


Zidan dan Dya mulai berlatih, sedikit demi sedikit Dya mulai menguasai ilmu bela diri yang diajarkan oleh Zidan yang dengan sabar mengajar Nona-nya yang selalu mengoceh karena Dya tidak mau Zidan terluka karenanya.Sementara Andra dan Bintang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Sayup-sayup mereka mendengar suara bel rumah yang menandakan seseorang sedang datang atau untuk bertamu.


Bintang beranjak dari duduknya ingin membukakan pintu karena ART di rumah Andra sedang belanja ke pasar.


Di waktu yang sama Zidan menatap Dya matanya mengisyaratkan bahwa Dya harus membuka pintu,kening Dya berkerut tidak mengerti seperkian detiknya barulah ia mengerti.


"Biar Dya aja Bund"Ucapnya berlalu pergi, Sementara Bintang mengaguk sebagai jawaban.


"Siapa sih pagi-pagi begini bertamu"Gumam Dya membuka pintu utama dengan kesal "Lo?"Kejut Dya ketika melihat tamu yang datang adalah pemuda yang selalu membuatnya kesal.


"Hai Anin"Sapa Ravin dengan senyumnya,hatinya lega karena ia bisa melihat wajah yang semalaman Selalu terngiang-ngiang di benaknya,Gila! ia sampai memimpikan Dya menikah dengannya.


"Lo ngapain kesini?"Tanya Dya tak suka pemuda itu ke rumahnya "Dan berhenti memanggil gue Anin! nama gue itu Dya!"


"Iya Anin"Ucap Ravin tidak peduli dengan kemarahan gadis yang ada didepannya.


"Siapa kak?"Tanya Bintang tiba-tiba datang sambil mengintip keluar karena Dya menutup pintu rumahnya hanya setengah.


"Ahh,ini Bund orang minta sumbangan"Jawab Dya ngasal yang membuat Ravin melotot.


"Oya?"Menarik gagang pintu untuk memastikan.


"Hello Kak"Sapa Ravin ramah pada Bintang yang langsung terkejut dengan panggilan Ravin.


"Woiii ini Bunda gue! masa lo panggil kakak?"Sewot Dya tidak terima.


"Kamu?"Tanya Bintang seperti kenal dengan pemuda ini.


"Hehehe iya Tan,kenalin aku Ravin teman Anin"Mengulurkan tangannya pada Bintang yang langsung di sambut.


"Anin?"


"Itu Panggilan Dya Bun"Sambung Dya yang tau kebingungan Bundanya.


"Oh,panggil aja Tante kalau mau panggil kakak pun gak masalah"Ucap Bintang masih sempat menggoda Ravin.


"Bundaaa"Ucap Dya merasa Bundanya itu tidak ingat umur,ya walaupun kelihatannya masih muda.


"Tenyata Anin anaknya Tante ya?"Ravin terkejut tenyata yang kemarin memukulnya dengan tas itu adalah ibunya Dya,sebab ia tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan Bintang saat Bintang memukulnya,pantas saja ia sangat marah.


"Bukan,Adik"Jawab Bintang merangkul bahu Dya yang tidak suka dengan kelakuan Bundanya yang genit.


"Bundaaa!"Pekik Dya kesal.


"Kenapa lagi ini?"Si empunya rumah sudah nongol dengan raut wajah sulit diartikan "Kamu?,ngapain kamu kesini?"Tanya Andra dingin menatap tajam ke arah Ravin yang tersenyum. Sebelumnya ia sudah menyiapkan mental untuk datang ke rumah Andra.


"Melamar anak Om"Jawab Ravin tanpa sadar "Mak-maksud saya silahturahmi Om"Ralatnya yang dua detik kemudian berkata "Mohon maaf Om,saya ini kan tamu masa dari tadi gak suruh masuk?"Ucap Ravin tanpa rasa malu.


"Ohiya sampai lupa! ayo anak ganteng masuk"Bintang menarik tangan Ravin tanpa melihat dua orang yang sedang kesal dengannya.


Hiilih calon mertua,kemaren aja mukul-mukul, keknya baru sadar kalau Ravindra ini tampannya gak ketolong?,tapi calon mertuanya kemudaan buat jadi mertua kalau jadi istri kali ya.Ya setidaknya kalau anaknya nolak, ibuknya kan ada hihi.gak beda jauhlah cuma 11 12.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGANYA...


__ADS_2