Istriku Seorang Peri

Istriku Seorang Peri
BAB 80:Ungkapan


__ADS_3

Ravin duduk diruang tamu yang di depannya sudah ada sepasang suami istri yang menatapnya penuh selidik, sementara Dya duduk di kursi tunggal yang berada di tengah-tengah orang tuanya dan Ravin.


"Katakan apa yang membawamu kesini?"Tanya Andra dengan suara khas miliknya.


"Saya menyukai anak Om"Jawab Ravin jujur menjeda omongannya "Saya jatuh cinta pada Anin, pertama kali saya melihat senyumnya perasaan itu mulai datang, intinya saya kesini hanya untuk menyampaikan isi hati saya di depan Om dan Tante langsung,dilihat dari kejadian kemarin di rumah sakit Om sangat menyayangi Anin dan pastinya Om tidak akan memilih sembarang orang untuk mendampingi putri Om"Ravin kembali menjeda omongannya, membasahi bibirnya yang kering.


Ya, pemuda yang bernama panjang Ravindra Marshel ini suka berterus terang dengan seorang yang ingin ia ajak serius,ia bukan tipe pria yang suka bertele-tele mengungkapkan perasaan hanya karena takut di tolak.Ia orangnya juga ceria dan membawa orang yang disekitarnya ikut merasa ceria.Dibalik itu semua ada sifat rahasia yang di simpannya.


"Sejak saya kenal dengan Anin,makan,mandi dan tidur saya tidak tenang karena di pikiran saya hanya ada wajah dan senyum Anin.Saya tidak memaksa Anin menerima perasaan saya, saya juga tau jawaban dari Anin yang pastinya tidak menerima saya begitu saja. Setidaknya izinkan saya berjuang untuk menumbuhkan cinta untuk saya pada hati putri kalian"Sambung Ravin apa adanya.


Seketika mata Dya membulat sempurna, bisa-bisanya pemuda ini menyatakan perasaannya secara terang-terangan depan orang tuanya,apa dia sudah bosan hidup?


Sementara Andra dan Bintang tercengang dengan pernyataan yang diucapkan Ravin.


Andra terkekeh,anak ini terlalu jujur pikirnya.Ia menatap mata Ravin yang jelas-jelas menggambarkan keseriusan disana, sedikitpun tidak ada keraguan "Lucu kamu!"Kekeh Andra.


"Saya serius Om"


"Hmmm baiklah, saya kasi kesempatan kamu untuk mendekati putri saya---"


"Yah...."Potong Dya dengan tatapan mohon agar Ayahnya tidak merencanakan macam-macam padanya.


"Kakak mau terima perasaan bocah tengil ini?"Tunjuk Andra pada Ravin.


"Yah, namanya Ravin"Sangkal Bintang membenarkan perkataan suaminya.


"I am sorry Ravin, I cannot accept your feelings (Aku minta maaf Ravin,aku tidak bisa menerima perasaan kamu)"Ucap Dya dengan nada memelas.


"Tidak apa-apa, saya akan memberi kamu kesempatan untuk mendekati putri saya.Tapi dalam satu bulan kamu belum bisa mengambil hati Dya, berarti jodohmu bukan putri saya"Ucap Andra,ia rasa pemuda di depannya ini pria yang baik-baik.Aku akan mencari tahu siapa dia.


"Yah---"


Andra mengangkat tangan yang membuat Dya tidak melanjutkan kata-katanya "Jika memang kakak tidak mau dengannya,buat dia tidak menyukai kakak atau buat dia biar ilfel sama kakak"Ucap Andra berdiri lalu menarik tangan istrinya kemudian berlalu pergi meninggalkan Dya dan Ravin.


Dya menghela napas,ia tak tahu harus berkata apa dengan Ravin yang menunggu Dya berbicara "Apa yang membuat lo suka sama gue?"Tanya Dya.


"Suka semuanya"Singkat Ravin.


"Suka dan Cinta itu dua hal yang berbeda---"


"Gue cinta sama lo"Potong Ravin secepat kilat.


Dya terdiam,ia tidak tahu harus berkata apa "Oke,sesuai kata Ayah waktu lo cuma satu bulan! ingat, S A T U bulan"Ucap Dya penuh penekanan.


Ravin tersenyum girang mendengarnya "Siap. eh ngomong-ngomong hari ini panas juga ya,haus lagi"Ravin mengibas-ngibaskan tangannya seolah sedang kepanasan padahal buat kode untuk Dya agar menyediakannya air minum untuknya.


Dya yang peka pun bedecak "Mau minum apa?"Ketus Dya.


"Jus rasa Cinta"Jawab Ravin.


"Gue serius"

__ADS_1


"Hehehe kopi aja, tapi gak pake gula ya"


"Pahit dong"


"Gapapa kan kamu udah manis"


"Serah lo dah"Dya berlalu pergi, sebenarnya ia malas sekali melayani pemuda itu.


Kurang lebih lima menit Dya kembali datang keruang tamu dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi panas dan biskuit secukupnya.


"Makasih Beb"Meraih kopinya kemudian menyesap sedikit.Glek! ingin rasanya ia menyemburkan kopi yang sudah ia teguk, kopinya benar-benar pahit! gila! padahal aku hanya bercanda tapi beneran gak pake gula dong.Sial!


Dengan menahan ekspresinya ia tersenyum lembut menatap Dya yang merasa puas karena telah berhasil mengerjai Ravin.


"Kok kopinya pahit banget sih Beb? kamu bikinnya pake apa? pake gula atau pake kenyataan?"Kelakar Ravin meletakkan cangkirnya ke meja.


"Pake deterjen"Jawab Dya sembarangan,tanpa sadar dari tadi Ravin memanggilnya dengan sebutan 'Beb'


"Beb...."Panggil Ravin,namun Dya tidak menggubris perkataannya "Beb..."Panggil Ravin lagi.


"Ck... nama gue itu DYA bukan Beb! mang gue bebek?"Gerutu Dya.


"Besok gue jemput ya?"Tanya Ravin penuh harap.


"Jemput kemana?"


"Ke kampus dan pulangnya juga gue antar"


"Hmm"Singkat Dya.


Sementara itu dua pasang suami istri yang sedang menguping pembicaraan antara Dya dan Ravin pun saling pandang.Andra sengaja memberi waktu untuk Dya dan Ravin berbicara.


"Yah.... ke kamar yuk, gak baik nguping pembicaraan orang yang sedang PDKT"Menarik tangan suaminya yang mengikuti langkah Bintang.


Tiba di kamar.


"Yah... bunda mau juga di gombal kaya tadi"Rengek Bintang pada Andra, Sepertinya sifat Bintang tidak berubah,ia akan dewasa pada waktunya.


"Yang gimana?"Kelakuan abstrud Andra yang tidak ingat umur pun keluar.


"Yang kaya tadi 'gapapa kan kamu udah manis' "Ucap Bintang mengulangi perkataan Ravin.


"Oke, ceritanya Bunda nawarin Ayah minum"


"Mau minum apa?"Tanya Bintang mengikuti perkataan putrinya yang ketus.


"Jus rasa cinta"Jawab Andra yang sebenarnya merasa geli sendiri.


"Gue serius"


"Hehehe kopi aja, tapi gak pakai saos,gak pakai sambal dan juga tidak pakai kol"Kelakar Andra tertawa terbahak-bahak,namun tawanya itu tidak menular pada Istrinya.

__ADS_1


"Yah... ih gak seru"Kesal Bintang.


"Oke-oke mulai.Hehehe kopi aja tapi gak pake gula ya"Ucap Andra kembali melanjutkan drama abstrud yang di buat suami istri itu.


"Pahit dong"


"Gapapa kan kamu udah kecut Hahaha"Seloroh Andra tertawa terbahak-bahak,sungguh ia tidak sadar apa yang telah keduanya lakukan itu dilihat oleh Allan yang menatap polos keduanya.


"Ayah kenapa Bunda?"Tanya Allan polos melihat Ayahnya yang tertawa sementara Bundanya terlihat kesal dan jengkel.


"Setres"Jawab Bintang ngasal kemudian berlalu pergi menuju kamar mandi.


Allan yang bingung pun mendatangi sang Ayah "Ayah kenapa? kok ketawanya puas gitu? Ayah seteres?"Tanya Allan dengan polosnya.


"Ha? seteres?"Andra bingung apa yang diucapkan anaknya tak lama kemudian ia baru ngerti.


"Maksudnya setres?"Tanya Andra yang di jawab anggukan kecil oleh putranya "Siapa yang bilang begitu?"


"Bunda"


"Bunda kamu tuh yang seteres,masa minta Ayah gombalin Bunda yang udah kepala empat? Hahaha"


"Kepala empat? emang kepala Bunda ada empat?"


"Ada,tapi gak kelihatan cuma bisa dilihat oleh Ayah"Jawab Andra ngasal.


"Bohong,jangan percaya Allan justru Ayah kepalanya lima udah mau enam"Ejek Bintang tak mau kalah, sebenarnya ia menguping pembicaraan Ayah dan Anak tersebut dari dalam kamar mandi.


"Ya meskipun begitu,Ayah masih sanggup buat bikin adik buat Allan"Celetuk Andra memangku Allan kemudian mencium pipi putranya.


"Ayah! iiihh"Kesal Bintang "Ngajarin anak gak bener.Jangan di dengerin omongan Ayah kamu ya Allan"


"Iya Bun"Jawab Allan patuh "Ayah,Allan boleh minta sesuatu?"Tanya Allan pada sang Ayah.


"Mau apa?,mainan baru? sepeda baru? robot baru? atau Bunda baru?"


GEDEBUG....


Kini bantal besar sudah melayang mengenai Ayah dan anak tersebut yang tertawa terbahak-bahak melihat Bintang mengeluarkan dua tanduk transparannya.


.


.


.


.


.


Catatan penulis!

__ADS_1


Jika kalian penasaran dgn author maka di persilahkan baca kisah hidup author yang cantik dan membahana ini di novel judulnya "Diary org gabut" mungkin bisa membuat para reader ngakak.


...LIKE KOMEN DUKUNGANNYA...


__ADS_2