Istriku Seorang Peri

Istriku Seorang Peri
BAB 85 :Dilema


__ADS_3

Tiga hari berlalu...


Semenjak kejadian itu, Dya dan Ravin tidak lagi bertemu. Sekarang ia diantar jemput oleh Zidan yang kemana-mana harus mengikutinya, seperti pagi ini Zidan harus mengantar Nona mudanya ke kampus.


Dya yang sedang menunggu Zidan mengambil mobil menengok ke arah pagar yang biasanya disana Ravin menunggunya, mengucapkan selamat pagi dengan panggilan sayangnya. Ahh entah kenapa ia jadi kangen dengan pemuda sebleng itu! kangen gombalan receh pemuda itu dan candaannya yang garing. Eh! kenapa aku mikirin dia sih! pikirnya. Ia tidak tahu saja setiap kali ia berangkat ke kampus hatinya berharap Ravin menjemputnya seperti dulu.


Dya mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya, kemudian mobil berwarna putih datang menghampirinya yang menandakan ia harus segera pergi.


Tiba di kampus Dya membuka pintu mobil kemudian melihat Zidan sejenak yang juga melihatnya, Dya mengulurkan tangannya ke arah Zidan yang bingung "Ck... gak peka" Ucapnya meraih tangan Zidan kemudian mengecupnya (Salim) "Biar dramatis"Ujarnya tersenyum sinis, sementara Zidan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dya yang aneh.


"Biar dramatis lagi"Ucap Zidan mengacak-acak rambut Dya yang terpaku. Hatinya tiba-tiba di hujani bunga-bunga sakura bertaburan.


Dya tersenyum kemudian menurunkan kakinya lalu menutup pintu "Daaa"Ucapannya melambaikan tangan pada Zidan yang di balas senyum serta anggukan oleh pemuda itu.


Ya, kini keadaan Dya lebih membaik dari pada sebelumnya. Zidanlah yang membuatnya menjadi semangat seperti itu,pria itu selalu menemaninya di setiap kegiatannya. Ia dan juga keluarga sudah mengikhlaskan kepergian Niel. lagi pula tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan yang tidak bisa mengubah apa-apa.


Dya menaiki tangga, seperti biasa kedua sahabatnya sudah menunggu kedatangannya


"Haii"Sapanya riang yang di jawab 'Hai' juga oleh Echi dan Lara.


Ketiganya melangkah pergi,berjalan beriringan sambil bercerita dan tertawa,namun ketawa gadis bernama Dya itu seketika memudar ketika berpapasan dengan tiga orang pemuda yang tiada lain adalah Ravin,Sandy dan Cio.


"Haii A'a Ravin"Sapa Echi yang di jawab senyum tipis dari Ravin. Kemudian pemuda itu melenggang pergi dengan kacamata hitam yang bertengger elegan di hidung mancungnya.


Sementara Dya hanya diam saja,hatinya sedikit kecewa dengan sikap Ravin yang sama sekali tidak menyapa atau bahkan menoleh dirinya pun tidak. Sungguh dia merasa sangat bersalah.


...💦💦💦...


Waktu terus berjalan... tanpa sadar hari mulai gelap.


Tok... Tok... Tok...


"Nona..."Panggil Zidan sambil mengetuk pintu kamar Dya.


"Kenapa?"Tanya Dya yang sebelumnya sudah membuka pintu.


Zidan melihat arloji yang terpasang di tangannya "Waktunya makan malam,Nona disuruh Tuan Andra untuk makan"Ucap Zidan.


"Hmmm,laper sih... tapi aku lagi ngerjain deskripsi bentar lagi selesai. Makanannya bawa kesini aja, tolong ambilin yah"Pinta Dya.

__ADS_1


"Baik"Jawab Zidan diiringi anggukan kepala.


Tidak menunggu lama Zidan kembali mengetuk pintu kamar Dya dengan membawa makanan di kedua tangannya, merepotkan sekali padahal ART ada, kenapa harusnya? pikir Zidan.


"Masuk aja gak di kunci !!"Teriak Dya dari dalam kamar.


Zidan yang mendengarnya pun masuk kekamar yang serba kuning dan biru itu,banyak boneka yang tersusun di kamar itu, dari yang besar hingga terkecil. Yang bikin ia heran itu,hampir setiap boneka berbentuk Spongebob dan Patrick. Segitu sukanya kah Nona mudanya itu dengan kartun Spongebob? sampai-sampai bad cover pun gambar itu juga.


"Jangan liat-liat !!"Seragah Dya, ia tau pria itu sedang terheran-heran dengan isi kamarnya. Ya selain Bunda, Adik dan Ayahnya. Zidan orang lain yang pertama kali melihat isi kamarnya.


Zidan mengulum senyumnya "Mata itu untuk melihat"Ucap Zidan "Mau di taruh di mana?"Tanya Zidan.


"Taruh aja di meja"Jawab Dya menunjuk nakas yang berada di kanan sebelah ranjangnya.


Zidan mengangguk kemudian meletakkan nampan di nakas kemudian berlalu pergi


"Zidan !!"Panggil Dya yang membuat Zidan berbalik badan.


"Iya?"


"Bawa nampannya"Dya Menyodorkan nampan berwarna merah itu pada Zidan yang langsung mengambilnya kemudian melanjutkan langkahnya lagi menuju keluar dan tidak lupa menutup pintu. Sungguh,ia seperti pelayan.


Setelah memastikan Zidan pergi,Dya mengambil sup ayamnya memakan dengan lahap sampai mangkok putih itu bersih tak tersisa.


Ting !


Ia mulai mencari keberadaan ponselnya dan ternyata notif itu bukan berasal dari ponselnya.


Ting !


Untuk sekian kalinya ponsel itu berbunyi,ia sudah menemukan ponsel yang dari tadi mengusiknya, ternyata itu ponsel Zidan yang ketinggalan di nakas. Ia mengecek siapa yang mengirim pesan.Namun, ponsel Zidan sangat tertutup hingga di layar kunci menampilkan kalimat Ada pesan baru dari WhatsApp. Yang artinya alpikasi WA memakai kata sandi yang pastinya ia tidak tahu.


Dya memutuskan untuk mengembalikan ponsel Zidan, takutnya ada hal yang penting di pesan itu.


"Yah,ada liat Zidan nggak?"Tanya Dya pada sang Ayah yang sedang menonton TV di ruang tengah dengan Allan di pangkuannya.


"Nggak liat"Jawab Andra.


"Kakak cari Om Zidan? tadi Allan liat, Om Zidan keluar rumah. katanya nungguin seseorang"Ucap Zidan.

__ADS_1


"Ohh gitu ya? oke, makasih Allan"Ucap Dya mengacak-acak rambut adiknya gemas.


Sampai di teras,Dya tidak menemukan siapa-siapa hanya ada satpam yang berjaga di sudut pagar. Ia berbalik berniat memberikan ponselnya nanti saja. Namun,ketika berbalik ia tak sengaja melihat Zidan sedang mengobrol dengan seorang wanita dari kejauhan.


"Itu Zidan bukan ya?"Gumamnya memastikan.


Untuk memastikan,Dya menghampiri pria dan wanita yang sedang mengobrol itu di dekat pohon Cemara di tepi jalan. Dan tebak'kanya benar pria itu Zidan.


"Zidan?"Panggil Dya.


"Nona"Ucap Zidan setengah terkejut.


"Emm ini,HP kamu ketinggalan di meja.Dari tadi bunyi terus, takutnya penting"Jelas Dya memberikan ponsel pada Zidan yang langsung memasukkan ke dalam saku celananya.


"Makasih"Ucap Zidan.


Dya mengangguk kemudian pandangannya beralih pada wanita cantik yang berhijab warna biru tosca dengan gamis yang senada. Keliatan dewasa sekali pikir Dya. Wanita itu tersenyum kearahnya.


"Hello,kamu pasti Dya ya?"Tanya wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Dya "Aku Adel tunangannya Zidan"


Deg!


Hati Dya yang sudah terukir indah nama Zidan di dalamnya hancur seketika, seolah tertusuk pisau tajam yang membuatnya menelan ludah sendiri. Oh tuhan,katakan ini mimpi.


Dengan menahan air mata dan leher yang menegang Dya menjawab "Anindya"Ucapnya seraya menyambut uluran tangan Adel. Ia berusaha bersikap senormal mungkin.


Setelah berucap demikian, matanya tertuju pada Zidan yang tersenyum tipis padanya. Hatinya semakin teriris melihat Zidan tersenyum yang mengartikan perkataan Wanita itu benar adanya.


Tanpa pamit Dya langsung berlari dengan air mata yang sudah menetes.Napasnya mulai tidak teratur,hingga sampai kamar ia mengambil inhaler kemudian menghirupya. Ia benar-benar syok dengan kenyataan bahwa Zidan sudah mempunyai tunangan.


Tunangan? Apa itu? Bukan kah dia pernah bilang tidak punya pacar?


.


.


.


.

__ADS_1


.


...Gak Usah Vote! Like Sama Bunganya Aja Hiks... Hiks... Kalau Gak Mau Nyumbangin Pointnya Jg Gpp Cukup Jempolnya Aja🤧...


__ADS_2