Istriku Seorang Peri

Istriku Seorang Peri
BAB 91 : Khawatir


__ADS_3

Tanpa sadar waktu begitu cepat berputar. Hari demi hari telah berlalu, semua berjalan sebagaimana mestinya. Satu Minggu, dalam kurang lebih tujuh hari ini Dya dan Allan menunggu kabar dari Andra dan Bintang yang saat ini belum pulang ke tanah air.


Hati kedua kakak beradik itu kalut, kala kedua orang tuanya tidak memberikan kabar apapun. Terakhir terhubung dengan Andra dan Bintang lima hari yang lalu lewat Video Call.


Dya menatap sendu Allan yang terus merengek memanggil nama Bunda dan Ayahnya. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman perihal orang tuanya yang berada jauh di seberang sana.


"Ayah kenapa gak bisa di hubungi ya?" Tanya Dya pada Laura yang sebenarnya khawatir juga dengan keadaan kakak dan kak iparnya disana. Tapi sebisa mungkin Laura menutupi kekhawatirannya, ia tidak mau menambah kekhawatiran keponakannya.


"Mungkin lagi sibuk"Jawab Laura berusaha santai.


"Sesibuk apapun, Ayah selalu memberi kabar Eonni. Kalau enggak lewat telfon, lewat SMS kan bisa. Ini malah nomornya gak aktif, bunda juga sama sulit untuk dihubungi"Gerutu Dya semakin di selimut rasa khawatir yang mulai memuncak "Gimana kalau terjadi apa-apa sama mereka?"


"Shuutttt, gak boleh ngomong gitu ih. Lebih baik doakan aja mereka pulang dalam keadaan sehat"Desis Laura menarik tangan Dya untuk duduk. Sedari tadi gadis itu mondar-mandir gak jelas membuat kepalanya pusing saja.


Dya mendengus,terus menghubungi Andra dan Bintang. Namun nomor keduanya tetap sama, tidak ada jawaban. Akhirnya Dya meletakkan ponselnya di atas meja.Kemudian memegang kepalanya yang terasa pusing.


Diwaktu yang sama, ponsel Dya berdering yang mengalihkan perhatiannya dan Laura. Dengan semangat 45 Dya meraih ponselnya. Berharap Ayahnya yang memanggil.


Ravin♡


Lagi-lagi Dya mendengus,ternyata sang pujaan hati yang memanggilnya. Dengan senyum yang di buat-buat Dya menekan tombol hijau.


Terlihat wajah tampan Ravin yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk di layar ponsel Dya. Ck... pacarnya itu selalu tebar pesona dihadapannya !


"Hai ayang beb kuu"Sapanya lebay yang membuat Laura melotot geli dengan panggilan Ravin.


Dya memutar bola matanya kesal "Panggil kaya biasa aja"Ketusnya tak bersemangat.


"Kan biasanya kaya gini Beb" Ucapnya sembari memakai Rexona dan parfum. (Bisa dibayangkan?)


"Serah"Dya yang sudah biasa hanya menikmati pesona yang dimiliki oleh Ravin.


"Kok mukanya bete gitu kenapa?"


Mata Dya mulai menggenang, ingin sekali ia bercerita tentang Ayahnya "Gapapa"Jawabnya tersenyum.


"Siapa sih?"Sambar Laura tiba-tiba memunculkan wajahnya di kamera "Wooahhh roti sobek !"Serunya menutup mulut.


Dya refleks mendekap ponselnya "Eonni !"Pekik Dya kesal.


Ravin yang tidak tau apa-apa pun jadi bingung di balik layar. Ia memilih untuk mengenakan baju kaosnya saja. setelah itu mengambil ponselnya memanggil nama 'Anin' yang seperti berbicara pada seseorang.


"Makanya, jangan main nyosor aja !"Gerutu Dya melihat kembali ponselnya yang ternyata, Ravin sudah berpakaian rapi.


"Bicara sama siapa?"Tanya Ravin ketika sudah melihat wajah Ayang beb kesayangannya.


"Sama Eonni"Jawab Dya.


"Hai Ravin !"Seru Laura menyapa Ravin semanis mungkin yang membuat Dya mendelik geli. Untung Ravin sudah pakai baju pikirnya.


"Hai tante"Sahut Ravin kaku,Baru pertama kali ia berbicara pada Laura. Ya meskipun bertemu sering ketika ia menjemput Dya ke kampus.

__ADS_1


"Loh jangan panggil tante dong Vin. Manggilnya Eonni aja sama kaya Dya"Ucap Laura.


"Iya Eonni"


Dya mengalihkan ponselnya pada diri sendiri "Lanjut nanti aja Vin"Ucap Dya langsung mengakhiri panggilannya tanpa di jawab oleh Ravin.


"Kok di matiin sih? guekan belum selesai ngomong"


"Mang Eonni mau ngomong apa?"


"Ya.... nanya kapan halalin kamu gitu"


"Kata Ravin secepatnya"Ucap Dya beranjak berdiri kemudian berlalu pergi.


"Tunggu ! gue ikut!" Teriak Laura menyusul Dya yang berdecak kesal "Ngomong-ngomong tubuh Ravin bagus juga ya, elatis gitu"Pujinya mengingat tubuh Ravin yang bertelanjang dada di ponsel Dya "Seperti pesona.... pesona...."


"Pesona apa?"Dya yang awalnya kesal pun jadi tertarik.


"Seperti pesona...."Masih memikirkan kata yang mana yang cocok. Pesona Pelangi,langit,air terjun atau pesona.... itu terus yang ada di pikiran Laura.


"Seperti pesona dunia laut?!"Celetuk Dya teringat pada Kata-kata Spongebob.


...🏃🏃🏃...


Dya POV


Malam semakin larut....


Dan sunyi....


Hanya ada rintikan hujan yang terdengar....


Kenapa aku dari tadi gak bisa tidur? kenapa rasanya tidak nyaman begini? agrhh, aku jadi gelisah memikirkan Ayah sama Bunda. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Dari tadi aku menepis perasaan khawatir dan tidak nyamanku dengan mendengarkan lagu dan menonton film. Tapi tetap saja pikiranku menuju pada Ayah dan Bunda.


Ingin sekali rasanya aku menangis,semoga Ayah sama Bunda baik-baik saja disana. aduh.... air mataku gak bisa di bedung lagi hiks... kangen Ayah hiks... Bunda.... hiks.


Aku malah menjadi Allan yang menangis hanya kangen sama Ayah dan Bunda. Aku mengambil guling dan mengelap pipiku yang terkena air mata. Aku akui, aku sangat jorok bahkan tidur saja lieran hiks.


Bunyi ponsel membuatku terduduk. Aku meraih benda pipih itu kemudian. Ku lekatkan ke telinga.


"Kamu belum tidur?"Terdengar suaranya di sebrang sana. Ravin pasti kaget aku terima telfonnya malam-malam begini, biasanya jam 21.30 aku sudah tidur.Dan kini waktu sudah pukul setengah dua belas malam.


"Belum"


"Aku pikir kamu udah tidur"


"Belum,kamu sendiri kenapa belum tidur?"


"Gak tau, gak bisa tidur aja. Amnesia kali"


"Insomnia"Ralatku lemah bahkan untuk berbicara saja,sulit bagiku.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"Sepertinya dia menyadari nada bicara ku yang lemah. Huft...


"Gapapa"


"Kenapa? cerita sama aku"


"Beneran gapapa"


"Yaudah kalau gak mau cerita, tutup aja"


"Hmm oke. Jadi dari lima hari yang lalu. Aku dan Allan video call sama Ayah, Bunda. Kata Ayah 'Kakak jaga diri baik-baik ya disana. Mungkin Ayah sama Bunda masih lama disini' hiks...."Duhhh bisa gak sih gak nangis?


"Terus?"


"Terus kata Bunda 'Allan belajar baik-baik ya Nak, kalau mau nanya apa-apa. Tanya sama Kakak ya' dan semenjak lima hari yang lalu nomor Ayah sama Bunda sulit dihubungi. Aku khawatir sama Mereka Vin, hiks...."Tangisku makin menjadi. "Mereka ngomong itu kaya gimana... gitu. kaya mau pergi jauh, hiks...."


"Vin...."


"Ravin !"


Panggilan berakhir


Iiihhh kesel telfon aku di putusin, belum juga selesai bicara. Aku melempar ponselku ke sembarang arah, sialnya malah jatuh dari tempat tidur yang membuat garis lurus melintang di layar. Sial


Beberapa menit kemudian...


Tok... tok... tok...


Terdengar suara ketukan pintu. Orang gila mana malam-malam begini ke kamarku. Eonni juga gak mungkin, dia kan udah nyenyak tidur sama lakinya.


Dengan langkah malas aku membuka pintu.


Brukk !


"Ravin?" Aku terkejut ternyata orang gila yang sedang memelukku itu Ravin. Dari mana anak itu datang? cepat sekali?


"Are you okay?"Tanyanya dengan wajah khawatir. Jadi dia kesini hanya khawatir sama aku? ihhh soswett


.


.


.


.


.


BAB TERGARING🙄


...LIKE KOMEN DUKUNGANNYA...

__ADS_1


__ADS_2