
Tiba di kampus,Dya langsung melepaskan pelukannya dan juga melepaskan helm dari kepalanya kemudian ia serahkan ke Ravin yang nampak kecewa, padahal ia sudah memperlambat jalan motornya agar Dya lebih lama memeluknya. Kenapa ia seperti jemuran sih? perasaannya di gantung terus.
"Kenapa?"Tanya Dya heran yang melihat Ravin menatapnya bengong. Ravin hanya menjawab gelengan kepala "Kalau gitu gue duluan ya, bentar lagi udah ada kelas"Sambungnya melirik Smartwatch ratusan jutanya kemudian berlalu pergi.
"Tunggu !"Ucap Ravin yang membuat Dya berbalik badan. Ravin menyangkutkan helm ke spion motornya kemudian berlari kecil menyusul Dya "Tolong kasi gue kepastian"Ucapannya menautkan jemarinya dengan jemari tangan Dya "Gue udah nyaman sama lo Nin"Sambungnya lagi.
Dya tersenyum yang membuat pipi kanannya terbentuk lubang kecil. Dan hal itu berhasil membuat Ravin ingin menciumnya dan semakin membuatnya menjadikan Dya makmum dalam sholatnya, tapi ia tahan. Ia tidak suka bersikap berlebihan sebelum halal.
"Nyaman doang? sayang nggak?"
"Bahkan lebih dari sekedar sayang"
"Mana buktinya?"Dya mendongakkan kepalanya menatap intens mata Ravin yang jelas-jelas tidak ada keraguan disana.
"One day, after I legalize you (Suatu hari nanti, setelah aku menghalalkanmu)"
Dya tersenyum mendengarnya "Jika perkataan lo hanya sekedar angan-angan gimana? dan misalkan gue ini takdir orang lain gimana?"Tanya Dya, ia sengaja mengintimidasi pemuda itu agar ia bisa melihat seberapa besar cinta Ravin padanya.
"Gue akan minta pada Tuhan agar gue yang menjadi orang lain itu"Ucap Ravin mantap. Sungguh jantungnya berdegup kencang mengatakan Kata-kata itu.
Dya tertegun,ucapan Ravin membuatnya tersanjung dan benar-benar tidak ada keraguan "Berikan aku waktu 24 jam untuk memikirkannya"Ucap Dya berlari dengan napas yang mulai ngos-ngosan. Kalau masalah hati Dya sudah memastikan ia mulai menyukai Ravin, tapi ia butuh waktu untuk memikirkannya jangan sampai ia salah langkah seperti kejadian kemarin-kemarin
Satu bulan pun gue tunggu, asal jangan seumur hidup
...💋💋💋...
Drettt....
Drettt....
Bunyi getaran ponsel mengalihkan perhatian Dya dan Ravin yang kala itu sedang makan siang bersama. Dya merogoh tasnya mengambil ponsel, kemudian menempelkannya ke telinga.
"Iya, Hello"
"......................."
"Oh iya, saya lupa. Kalau gitu saya segera kesana"Ucap Dya memutuskan teflonnya kemudian ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa?"Tanya Ravin ikut berdiri ketika melihat Dya berdiri.
"Gue harus ke sekolahnya Allan,gue lupa kalau hari ini pembagian raport"
"Yaudah kalau gitu gue anterin ya"Ucap Ravin yang di jawab anggukan oleh Dya.
Keduanya pun tergesa-gesa menuju parkiran,karena seharusnya pembagian raport jam 11.30 dan sekarang sudah jam 12.08
"Pegangan"Ucap Ravin yang langsung dibalas pelukan oleh Dya.
Oh ya Tuhan dia itu nyuruh pegangan bukan pelukan, kalau ginikan Ravin jadi mau peluk dia juga. Tak mau buang waktu Ravin langsung melajukan motornya.
******
~SD Permata Hati~
Tok... tok... tok...
"Permisi..."Ucap Dya sembari mengetuk pintu ruangan wali kelas Allan. Tidak ada jawaban Dya membuka pintu lagian ruangan ini untuk umum siapapun boleh masuk.
"Ah... akhirnya datang juga, kalian orang tuanya Dilandra kan?"Tanya seorang guru wanita yang memakai jilbab itu.
"Bu---"
__ADS_1
"Iya Buk kami Papi sama Maminya Dilandra"Potong Ravin mengedip-ngedipkan matanya memberi kode pada Dya yang artinya Iyakan Saja "Iyakan sayang?"Ravin mengelus kepala Dya yang mendelik geli dengan kelakuan si sebleng itu.
Dya tersenyum kikuk "Iya"Jawabnya.
"Kalau gitu silahkan duduk"Ucap Guru yang merupakan wali kelas Allan mempersilakan keduanya untuk duduk "Tunggu sebentar ya,saya ambilkan rapotnya dulu"Ucapnya beranjak dari kursi menuju loker.
"Lo ngapain ngaku-ngaku orang tua adek gue?"Bisik Dya pada Ravin.
"Biar dramatis"Balas Ravin berbisik.
"Kenapa gak Paman sama Bibi aja sih? Papi sama Mami kita belum cocok. Lo kurang brewokan dan gue kurang sanggul khatulistiwa sama penjepitnya"Bisik Dya lagi. Ciri-ciri korban sinetron nih si Dya.
"Iya juga ya"Ucapnya baru menyadari.
Tak lama,guru Allan duduk di kursinya lagi.
"Ini rapotnya,ibu silahkan tanda tangan dulu"Ucapnya memberikan pulpen pada Dya yang langsung menandatangani rapot itu "Di kelas Allan sangat pintar dalam mengeja, dia juga mudah beradaptasi dengan lingkungan dengan teman-temannya ia sering ajak main bla... bla... bla... (Menjelaskan tentang sikap Allan di sekolah)"
*****
"Kita sekalian nungguin Allan aja ya"Ucap Dya sembari berjalan di koridor sekolah "Kalau lo ada hal penting yang harus diurusin,gapapa duluan aja"Sambungannya merasa tidak enak karena telah merepotkan Ravin dari pagi.
"Mang apasih yang lebih penting daripada kamu"Gombal Ravin yang mendapat pukulan kecil di lengannya.
"Ish... gombal receh"Cibir Dya "Oh iya gue lupa kasi tau Zidan"Ucapnya menepuk jidat.
"Kasi tau apa?"
"Kasih tau kalau Allan gue yang ambil,biar Zidan gak jemput"Ribet juga kalau Dya tidak menghubungi Zidan dulu. Bisa-bisa pria itu membuat laporan kehilangan seorang anak.
"Oohh"
Dya mencari nomor Zidan kemudian menghubunginya "Assalamualaikum..."Sapanya.
"......"
"......"
"Tenang aja gue udah makan kok"
"......"
"Waalaikumsalam"Dya memutuskan Sambungannya kemudian memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Perhatian banget ya"Ucap Ravin.
"Apanya?"
"Bodyguardnya perhatian banget sama majikan"
"Iya"
What? cuma gitu doang? gak mau jelasin gitu kenapa si tukang somay perhatian banget? pake nanya udah makan atau belum lagi? mang dia siapa? kakeknya? astaga kenapa perempuan satu ini gak peka kalau gue cemburu?
Sampai di depan kelas Allan mereka menunggu. kebetulan mereka sampai murid di kelas 2C sudah baca doa yang menandakan waktu pulang sekolah. Murid keluar satu persatu hingga Dya melihat adiknya keluar dari pintu kelas dengan muka tak semangat.
"Allan, sini...."Panggil Dya yang membuat Allan berjalan kearahnya.
"Hai, kamu Allan yah?"Tanya Ravin menjatuhkan lututnya ke lantai mengsejajarkan posisinya dengan Allan.
"Iya Om"Jawab Allan lemah.
__ADS_1
"Jangan panggil Om ih,panggil aja Uncle Avin"
"Iya Uncle Avin"Ucap Allan patuh.
"Allan kenapa jawabnya gak semangat gitu?"Dya memegang pipi Allan memastikan anak itu baik-baik saja.
"Allan kangen Bunda kak"Jawab Allan, ternyata anak Bintang itu sedang rindu dengan Bundanya padahal baru aja pagi tadi bertemu.
"Gimana kalau kita jalan-jalan?"Usul Dya yang tidak mau membuat adiknya tidak bersemangat Seperti ini.
"Boleh?"Tanya Allan.
"Boleh dong !"Seru Dya "Lo mau kan nemenin gue ke taman?"Tanya Dya melihat Ravin.
"Hmm"Jawab Ravin singkat dan datar.
"Dih..."
~Taman Ceria~
"Allan mau balon itu Kak"Tunjuk Allan pada balon panda.
"Vin... tolong beliin"Pinta Dya.
"Iya"Jawab Ravin datar,ia ingin melihat Anin sadar atau tidak bahwa dia sedang cemburu mode-mode cuek "Ayo Allan mari kita borong balonnya !"Seru Ravin membawa Allan pada penjual balon,sementara Dya melongo melihat Ravin yang begitu semangat, perasaan di sepanjang jalan Ravin diam dan berbicara singkat padanya. Ada apa ya?
Tak mau ambil pusing, Dya merasa haus dan membeli Es jeruk tak jauh di tempat ia duduk. Tak lama Ravin dan Allan pun datang dengan lima buah balon di tangan Allan yang membuat Dya terkejut.
"Banyak banget belinya?"Tanya Dya.
"Iya, Uncle Avin baik banget kak"Puji Allan sambil memainkan balonnya.
Dya menggeleng mendengarnya "Lo gak mau beli minuman?"Tawar Dya.
"Gak"
Bener nih, pasti ada apa-apa pikir Dya.
"Lo kenapa sih? dari tadi diem mulu. Ditanya cuma jawab Hm,Iya doang. Kenapa?"
"Pikir aja sendiri"
Kening Dya berkerut, memutar kembali ingatannya pada saat di sekolah Allan. Ia masuk ke ruang guru bersama Ravin dan mengambil rapot Allan setelah itu menelpon Zidan dan.... tunggu! apa Ravin cemburu gue nelpon Zidan? masa iya cemburu? No! bukan, "Bodyguardnya perhatian banget ya" kemudian ia jawab 'Iya' dan disitu Ravin mulai cuek. Nah... itu kali masalahnya pikir Dya.
"Ohhh jadi Papi cemburu nih ceritanya?"Goda Dya menggeser posisinya mendekati Ravin yang hanya diam saja "Papi kok cemburu diem aja? coba terus terang sama Mami kalau Papi itu cemburu sama Zidan"Semakin menggoda Ravin yang kini wajahnya mulai memerah.
"Tapi gapapa sih kalau Papi cemburu. Kan itu artinya Papi cinta sama Mami ya gak Lan?"Meminta dukungan Allan.
"Apah?"Allan jadi bingung.
"Gapapa"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Gak panjang juga
...LIKE KOMEN DUKUNGANNYA...