
Ravin POV
Aku berjalan menuju kelas bersama dua prajurit seblengku yang benama Sandy dan Cinta, yang nanya dia perempuan atau laki-laki jawabnya laki-laki tapi namanya perempuan entah kenapa orang tuanya memberi nama Cinta Koala padanya, aku juga tidak tahu mungkin ibunya cinta sama hewan Koala.Biasa kami memanggilnya dengan sebutan Ciola yang di singkat dari namanya. Tidak mungkin juga'kan kami memanggilnya dengan sebutan Cinta? terkesan geli aja gitu ngedengernya.
Aku dan kedua sahabatku berjalan menaiki tangga dan tanpa sengaja aku bertemu dengan gadis yang kemarin aku antar ke rumah sakit, ternyata dia sudah sembuh. Aku terdiam sejenak ketika ia mengulurkan tangannya ke arahku,pandanganku langsung tertuju pada wajahnya yang sedang tersenyum. Aku tertegun dalam diam melihat senyumnya yang begitu manis di tambah lagi dipipi sebelah kanannya memiliki lesung pipit.
Aku mengerjap,aku benar-benar terpesona dengan senyumnya seakan menghipnotisku untuk membawanya ke KUA untuk membayar tunainya dengan emas 34 karat milik ibuku yang di simpannya bertahun-tahun di bawah tanah.
"Ravindra"
Ucapku tanpa menerima uluran tangannya, sebenarnya aku tidak sombong hanya saja aku terlalu gugup, tunggu, apa?! oh tidak! apa aku jatuh cinta? apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
"Cewek cantik kok dianggurin!"Celetuk Sandy menepuk pundakku.
"Tau gitu,gue aja yang nyambut tangannya! yaelah lu mah!"Sewot Cio,anak itu memang gak bisa liat cewek cantik dikit dasar! "Balik ah mau kenalan!"Ia berbalik melangkah menuju.... siapa namanya? Anindya! iya itu namanya.
Aku langsung menarik kerah bajunya mencegah untuk tidak berkenalan dengan Anin,benarkan itu namanya? "Mau kemana lo?"Tanyaku membalikkan posisinya.
"Ck... mau kenalan lah...."Jawabnya menepis tanganku.
"Gak ada! masuk!" Merangkul bahu anak koala itu untuk masuk dalam kelas.
...🐨🐨🐨...
Author POV
Pulang dari kampus Dya dan para sahabatnya mampir ke Cafe yang biasa Dya pakai bernyanyi disana. Ketiganya duduk sambil meneguk habis jus yang mereka pesan,mungkin karena cuaca panas sehingga mereka kehausan.
"Kenapa muka lu?"Tanya Echi yang melihat muka Lara sangat serius memandangi ponselnya.
"Shuttt lagi nonton drakor"Desis Lara tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu.
"Cikilah... kirain apa? rupanya nonton drama"Ucap Echi "Lu gak bosen apa nonton sarangeyo-sarangeyo mulu"Memasukan Power Banknya ke dalam tas sambil mengomel tidak jelas "Sekali-sekali kek sarang Setan!"Sambungannya yang membuat Dya tersedak.
"Lu kenapa Ya?"Panik Lara yang melihat sahabatnya terbatuk-batuk hingga mata Dya berair.
"Lu buta apa? Dya lagi tersedak?"Ucap Echi ikutan panik karena batuk Dya tak kunjung reda.
"Duh... gimana nih?"Tanya Lara.
Echi berfikir sejenak,ia teringat dulu saat adiknya tersedak,ibunya meniup-niup ubun-ubun adiknya,tak ayal hal itu juga ia lakukan pada Dya yang kini meniup ubun-ubun gadis itu.
PLAK!
Lara memukul lengan Echi yang otaknya pintar kelewatan batas.
__ADS_1
"Lo pikir Dya bayi !"
"Ya terus harus gimana?"
"Cara lo salah! bukan gitu! tapi gini"Tanpa Ta Ti Tu lagi Lara....
BUGH... BUGH...
Lara mendaratkan pukulan sedikit keras pada punggung Dya yang kini memuntahkan Boba yang sempat ia telan bulat-bulat tadi. Dan benar saja batuk Dya sudah berhenti.
"Lo ma-mau gue mati ya?!"Sergah Dya pada Lara yang memukul punggungnya terlalu kuat.
"Ya sorry, habisnya lu batuknya parah bener"Ucap Lara.
"Lagian lu segitu amat kagetnya ketika gue ngomong 'Sarang Setan' mang rumah lu sarangnya setan?"Pertanyaan tidak jelas itu keluar dari mulut Echi.
"....."Dya tidak membalas perkataan Echi, matanya fokus pada pemuda yang duduk tidak jauh dari kursi yang ia duduki.
Dahi Echi berkerut kemudian mengikuti arah mata Dya yang memandang pemuda tampan yang sempat ia lihat pagi tadi mengobrol dengan Dya. Sementara Lara kembali fokus menonton acara drama Lee Min Ho'nya yang ia puja-puja.
"Pantesan! dia setannya!"Celetuk Echi mengangguk-ngangguk memandang pemuda itu yang tiada lain adalah Ravin "Lo masih kesel sama dia?"Tanya Echi.
Dya mengalihkan pandangannya pada Echi "Apa?"Menyuruh Echi untuk mengulangi perkataannya.
"Lo masih kesel sama cowok itu" Tunjuk Echi.
"Mang kenapa?"Semakin mengarahkan telunjuknya ke arah Ravin yang merasa dirinya di tunjuk.
Kali ini Dya tidak menurunkan tangan Echi tapi menamparnya hingga Echi mendekap tangannya yang ditampar oleh Dya.
"Tuh.... kan dia kesini ! elu sih pake nunjuk-nunjuk segala!"Gerutu Dya menutup wajahnya dengan buku menu,karena saat ini Ravin,Sandy dan Cio sedang menuju ke arahnya.
"Permisi... apa kalian sedang bicarakan saya? karena tadi saya sempat tersedak"Ucap Ravin melirik Dya yang masih menutup wajahnya "Kalau kalian sedang membicarakan saya,bicara saja pada orangnya langsung"Sambungannya.
"Oya boleh kami duduk?"Tanya Cio langsung duduk di sebelah Lara yang refleks menggeser posisinya, ia bahkan tidak peduli siapa yang ada di sebelahnya.
"Oh... mau duduk? silahkan! boleh! boleh banget malah!"Seru Echi sangat antusias yang kemudian menggeser posisinya juga.
"Jadi siapa yang bicara'kan saya?"Tanya Ravin yang sudah duduk di sebelah Echi, sementara Sandy duduk di sebelah Dya.
"Sopan banget ngomongnya"Gumam Cio yang mendengar Ravin berbicara memakai kata 'Saya'.
"Biar Formal dikit"Balas Ravin yang mendengar gumaman Cio.
"Jadi yang membicarakan A'a itu Dya"Tuduh Echi menunjuk Dya yang langsung melayangkan buku menu yang di pegangnya ke arah Echi.
__ADS_1
Namun....
Dya salah sasaran,ia malah melempar buku itu tepat di muka Ravin yang kini wajahnya mendatar pasrah,sedangkan Cio sudah tertawa terbahak-bahak sampai menabok-nabok tubuh Lara yang risih dengan Cio seperti orang gila sedangkan Sandy hanya bisa tertawa dalam hati karena dia buka tipe orang yang bobrok seperti Cio,ia orang yang selalu menjaga sikap pada orang yang belum lama ia kenal dan Sandy juga orang yang berpendirian.
"Sorry gu-gue sengaja"Ucap Dya yang Kemudian tersadar apa yang telah ia ucapkan "Mak-maksudnya gak sengaja"
Ravin menghela napas, sebenarnya ia ingin marah pada Dya namun ia urung karena mengingat senyuman manis gadis itu yang membuatnya luluh "Lain kali dilihat dulu orangnya,jangan asal lempar aja"Ucap Ravin menatap wajah Dya dengan perasaan tak menentu.
"Masih mending lu di lempar buku dari pada dilempar batu yakan?"Cio menyenggol lengan Lara meminta dukungan dari gadis itu.
"Sok akrab banget sih lo!"Seragah Lara menggeser posisinya menjauhi Cio.
"Betul"Sambung Echi membenarkan Kata-kata Cio "Tapi kalau bisa jangan lempar buku, sekali-sekali lempar uang ya gak?"Kali ini Echi meminta dukungan Cio.
"Nggak"Jawab Cio tidak setuju "Gue udah punya banyak uang,ngapain dilempar uang lagi"Ucapnya bangga.
"Duit orang tua aja bangga"Celetuk Sandy yang sedari tadi berdiam diri.
"Ck... jangan merusak reputasi gue depan cewek dong!"Sewot Cio memandang Sandy tak suka.
Kemudian Cio memperkenalkan diri,dia juga memperkenalkan Sandy dan Ravin pada ketiga gadis itu yang juga memperkenalkan diri. Mereka seperti sudah lama kenal bahkan Echi yang super heboh menjadi pengusir rasa canggung antara Dya dan Ravin.
Ya, diantara mereka cuma Echi dan Cio lah yang paling banyak bicara selebihnya cuma terkekeh oleh kelakar Echi dan Cio. Sementara Lara masih betah menonton Drakor dengan handset di telinganya.
Ravin yang dari tadi memperhatikan Dya yang tidak mengeluarkan reaksi apapun, kecewa karena tidak dapat melihat senyum gadis itu.
"Gue boleh liat senyum lo?"Saking gugupnya Ravin sampai salah pertanyaan.
Hening......
.
.
.
.
.
Catatan penulis!
Seharusnya'kan "Boleh aku melihat senyum kamu?" itu'kan kedengaran lebih manis ya nggak?
Bab selanjutnya misteri,karena tergantung otak Othor yang bekerja,ide diatas pun keluar dengan sendirinya. Maaf jika ada kesamaan nama atau kata itu semua adalah unsur ketidak kesengajaan.
__ADS_1
Kok kalian likenya dikit😞 diatas aja 4 doang😞
...LIKE KOMEN DUKUNGANNYA...