
Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Dan tidak ada yang instan,yang instan cuma Indomie.Ada kalanya manusia merasakan kesedihan, kesenangan dan kehilangan seseorang yang paling berharga.
Hari demi hari berlalu semua berjalan seperti biasa,tapi berbeda dengan hari ini yang penuh duka dan air mata. Kabar buruk bahkan sangat buruk untuk seorang Andra Putra Biantara yang telah kehilangan seorang Ayah.
Kabar buruk itu sampai padanya pada pukul 01.05 dini hari dari sang mama yang berada di Malaysia bersama sang papa yang telah menghembuskan napas terakhirnya delapan menit yang lalu. Jenazah sang papa sudah tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta dan segera di larikan pada kediaman putranya.
Tangis pilu penuh air mata memenuhi rumah besar Andra,Tubuh sang papa yang dulunya gemuk dan sehat kini menjadi kurus dengan di baluti kain kafan yang terpasang di tubuhnya. Seluruh keluarga turut berduka terutama para saudara armahum yang kini sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Papa kak...."Lirih Laura yang kini berada di rengkuhan sang kakak "Kenapa papa ninggalin kita secepat itu..."Air mata mengalir untuk sekian kalinya.
Andra memejamkan matanya dalam-dalam,menahan air mata yang ingin tumpah.Tentunya sebagai seorang lelaki ia harus kuat dan tegar ia mengusap kepala adiknya "Mungkin Allah sayang sama Papa, hingga mengambilnya secepat itu, kita berdoa saja semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik-NYA"
Disisi lain...
"Nona yang sabar, kita diciptakan oleh-NYA tentu akan kembali lagi pada-NYA. Segala sesuatu itu mustahil akan bertahan lama, DIA tidak mengenal barang atau pun manusia. Jika DIA bilang sudah waktunya maka detik itu juga akan terjadi hal yang kita tidak inginkan atau bisa saja hal yang sangat kita inginkan"Ucap Zidan mengelus punggung Dya yang berada di rengkuhan pria itu.
Dya tidak membalas perkataan Zidan,sangat sulit baginya yang di tinggalkan oleh sang kakek yang selalu menimang dan mengajaknya berkeliling dunia bersama Omanya. Telah begitu banyak kenangan yang ia lalui bersama armahum hingga membuatnya menangis tak bersuara sambil meramas-ramas baju yang dipakai oleh Zidan hingga basah.
Pemuda yang bernama Ravin yang turut serta dalam acara duka tersebut menatap tajam dan kesal pada Dya dan Zidan, terlihat jelas di sorot matanya yang penuh dengan api Cemburu yang membara. Ingin sekali rasanya ia memisahkan Dya yang menempel di badan Zidan,bak siput yang merayap di dinding. Namun,apalah daya ia bukan siapa-siapa hanya teman bukan kekasih atau keluarga, terlebih lagi situasi seperti ini sangat tidak mendukung untuk ia berbicara tentang kecemburuannya pada Zidan.
...π€Έπ€Έπ€Έ...
...Niel Biantara...
...Binti...
...Rahudi Biantara...
__ADS_1
Kayu Nisan yang bertulisan tersebut sudah di tancapkan ke tanah yang sudah di taburi bunga-bunga. Air mata kian kembali mengalir,tangis kembali pecah melihat sang Ayah tercinta sudah tiada lagi di dunia.
Tidak dapat di tulis satu-satu yang datang berkunjung ke makam beliau,yang pastinya para keluarga, kerabat dekat dan para tetangga.
Cullen,Dika,Netta,Elsa dan para saudara armahum juga ikut serta.
Acara penuh duka cita sudah selesai, seluruh anggota keluarga kembali kerumah masing-masing,tak lupa mereka memberikan semangat serta ucapan turut berdukacita pada keluarga yang bersangkutan.
"Nin... gue turut berdukacita ya,nangis boleh,tapi sewajarnya jangan berlarut-larut"Ucap Ravin yang kemudian memeluk Dya yang hanya bisa tersenyum lemah,saat ini ia tidak ingin berdebat ataupun marah-marah.
Dya mengangguk menanggapi "Makasih"Ucapnya lemah.
"Gue pulang dulu,jangan lupa makan. Dari tadi gue gak ada liat lo makan"Ravin mengusap kepala Dya penuh kelembutan kemudian berlalu pergi.
Di depan pagar rumah Andra...
"Lo siapanya Anin sih?"Tanya Ravin.
"Kamu tidak usah cemburu, saya dan Nona Dya tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya sebatas teman dan bodyguard"Jelas Zidan yang sudah tau pemuda di depannya itu menyukai Nona mudanya.
Ravin menaikan alisnya sebelah, memikirkan apa yang di katakan Zidan "Siapa yang cemburu? apalagi cemburu sama tukang somay kayak lo,gak level banget,lagian gue cuma nanya biasa aja. Kok lo menyimpulkan gue cemburu?"
Zidan tersenyum sinis kemudian menepuk pundak Ravin "Dan kamu kenapa menyimpulkan saya ini tukang somay sedangkan kamu jelas tahu kalau saya ini bodyguardnya Nona Dya"Setelah berucap demikian Zidan menepuk pundak Ravin lagi kemudian berlalu pergi meninggalkan Ravin yang kesal padanya.
"Woiii gue belum selesai bicara! itu karena muka lo mirip tukang somay di pinggir jalan!"Teriak Ravin sambil mengumpat dalam hati.
...πππ...
__ADS_1
Langit cerah berwarna biru kembali menghiasi pagi hari ini,namun ada satu keluarga yang hatinya tidak secerah langit di pagi hari. Mereka masih dalam keadaan berduka.Jadi,harap maklum jika satu keluarga itu tidak bersemangat dalam beraktivitas.
"Senyum dong beb..."Ucap Ravin yang sedang berjalan beriringan dengan Dya yang terus melangkah tanpa memperdulikan dirinya "Beb... ayolah jangan gini terus"Pinta Ravin terus mengimbangi gerakan kaki Dya.
Seperti biasa Ravin selalu berangkat dan pulang kampus bersama Dya,pemuda itu tiada henti-hentinya menggoda, menggombal dan bercanda pada Dya yang terpaksa tersenyum dan tertawa menanggapi setiap candaan Ravin.
Dya menghentikan langkahnya kemudian mendekati Ravin yang refleks mundur ketika gadis itu mengeluarkan aura berbeda "Tolong Vin,sehariiii aja lo gak usah ganggu hidup gue! gue pusing tau gak! setiap hari lo minta gue senyum,ketawa! tapi lo pernah gak mikir kalau gue senyum itu gak bener-bener tulus! bukan berarti gue senyum itu gak ada beban hidup! mungkin lo adalah salah satu orang yang bisa di tipu dengan senyuman palsu! lo tau gak hati gue sebenarnya? hah?. Yang lo liat itu belum tentu benar!"Ucap Dya sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal "Udah... cukup sampai disini,besok jangan jemput gue lagi. Dan jangan pernah muncul di depan gue lagi"Sambungannya yang kemudian melangkah pergi.
"Apa gue salah bikin lo bahagia?"Tanya Ravin yang membuat langkah Dya berhenti.Ia benar-benar tidak habis pikir dengan perkataan Dya barusan yang membuat hatinya tersentil, seolah dia itu tidak tau apa-apa dan menjadi pengganggu buat orang yang ia cintai "Gue minta lo senyum itu bukan tanpa alasan,gue niat menghibur lo, biar lo merasa apa yang gue rasakan. Gue memang gak tau kalau senyum lo itu palsu karena gue gak bisa membedakan yang mana palsu dan asli tapi gue tau yang mana pengganggu dan yang mana penghibur. Gue juga gak tau kalau lo mempunyai masalah. Gue liat lo kaya gini,jujur gue sedih banget. maka dari itu gue suka liat lo senyum dan ketawa"
"Tapi gue enggak"Sela Dya.
Ravin tersenyum membasahi bibirnya kemudian kembali berkata "Kalau itu mau lo, oke... gue mundur,tapi ada satu hal yang perlu lo tau. Perasaan gue nggak main-main, gue benar tulus cinta sama lo"Ucapannya yang kemudian berlari kecil.
.
.
.
.
.
Catatan penulis!
Lunas ya! sorry upnya lama. karena Author juga punya kesibukan. menuju serius ya. maaf kalau Kata-katanya kurang jelas.
__ADS_1
...LIKE KOMEN DUKUNGANNYA...