It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 10


__ADS_3

đŸŒșHappy ReadingđŸŒș


Masih Hafa POV


‘Siapa laki-laki itu? apa cowoknya? Kok mesra gitu?’


Ya aku melihat Ara, gadis yang beberapa hari ini mengusik pikiran dan hatiku tengah berboncengan mesra dengan laki-laki.


Tangan rampingnya memeluk erat perut cowok yang memboncengkannya, membuatku bertanya-tanya, siapakah dia?


Ku kemudikan mobilku pelan di belakang mereka, hingga cowok itu membelokan motornya di salah satu perempatan, hingga aku tak bisa lagi membuntutinya, karena berlawanan arah dengan jalan menuju rumahku.


Pertanyaan tentang siapa cowok yang bersama dengan Ara terus mengusik ku, tapi aku belum berani mencari tau pada adikku, pikirku pasti dia akan tau, tapi untuk bertanya mengenai kehidupan Ara, rasanya belum menemukan waktu yang tepat.


“Ma, besok Rindi ada undangan nikahan teman” celetuk Rindi tiba-tiba saat kami berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.


“Mau mama temenin?”


“Ga ma, Rindi pergi sama temen-temen, besok pada kumpul di sini”


“ya sudah kalau gitu, tempatnya ga jauh dari sini?”


“Ga ma, itu lhoh, perumahan Citra Gading di situ rumahnya.


“Oh, ya sudah, gapapa”


“Mau naik apa kalian?” tanya Hafa penasaran


“Mobil mas, Bang Ghani besok jemput ke sini bawa mobil”


“Oh, ya sudah kalau gitu”


“Besok sama siapa aja?” lanjutku, 'ada Ara ga ya?'


“temen-temen satu divisi mas, ada mbak Ara juga”


'Yes!!!! ' pekiku girang dalam hati, namun berusaha bersikap biasa,


Aku pun hanya mengangguk dan hanya menyimak kedua wanita kesayanganku mengobrolkan banyak hal.


Hingga saat Rindi berpamitan ke kamar, aku pun ikut berpamitan dan mengetuk pintu kamarnya, rasa penasaranku sepertinya sudah tak bisa aku tahan lagi.


“Dek, mas masuk ya” pinta ku meminta ijin masuk ke dalam kamarnya

__ADS_1


“Iya mas,”


Aku pun masuk dan duduk di pinggir ranjang menghadap ke arahnya yang menatapku heran. Mungkin merasa tak biasa karena aku tiba-tiba masuk ke kamarnya di malam seperti ini.


“Tumben sih mas, ada apa?”


“Ada yang mau mas tanyakan?’


“apa?”


Rasanya lidahku begitu kelu, ada rasa malu menyeruak, namun kembali lagi rasa penasaran ku mendominasi,


“Hmmm,
 teman kamu yang kemarin antar ke rumah”


“Mbak Ara?” tebak Rindi dengan cepat, dan ku jawab dengan anggukan,


“Mas Hafa naksir mbak Ara?” tanyanya dengan antusias membuatku merona karena malu, sepertinya gelagatku sudah tertebak dengan jelas, “Rindi setuju kalau mas Hafa sama mbak Ara” lanjutnya dengan penuh semangat.


“Emangnya Ara belum punya pacar?” ucapku spontan.


“Jadi bener mas Hafa naksir mbak Ara?” ulangnya lagi pertanyaan itu membuatku hanya tesenyum malu.


“Ahhhhh.....akhirnya ada yang bikin mas Hafa tertarik, alhamdulillah!!! terimakasih ya Allah, akhirnya mas ku bisa suka sama cewek juga!!” pekik Rindi begitu senang, lalu menepukan tangannya dengan girang.


“Kamu yakin?”


“Huum, yakin 100 persen, kapan itu aja aku lihat mbak Ara gelisah gitu kok waktu terima undangan nikahan teman ku yang nikah besok itu, trus aku coba cari-cari info katanya emang ga deket sama cowok manapun, rencananya aku mau kenalin ke mas Hafa, eh, malah mas duluan yang nanyain”


“tempo hari mas lihat dia boncengan sama cowok dek, cowoknya kali itu”


“Masak sih mas?” Rindi ikut mengerutkan dahi, “tapi kata Bang Ghani mbak Ara belum punya cowok mas, mungkin adiknya kali mas”


“ga tau juga, itu yang mau mas tanyakan ke kamu”


“Besok Rindi cariin info deh, setau ku mbak Ara itu punya adik cowok mas, besok kan mbak Ara ke sini. Tapi beneran mas Hafa suka sama mbak Ara?”


“hmm,, gimana ya?”


“coba deketin dulu deh mas, Mbak Ara itu baik banget mas, selama Rindi masuk kerja ya, mbak Ara selalu bisa ngemong aku, dan orangnya itu ramah banget, tapi kadang juga galak kalau lagi sama orang produksi yang ngeyel”


“Mbak Ara juga cantik, pinter, mandiri, ga neko-neko dari beberapa cerita temen-temen, sebenarnya banyak yang pengen deketin mbak Ara, tapi mereka minder.”


“Kalau mas merasa yakin sama mbak Ara, Rindi dukung 1000 persen deh, setuju banget pokoknya, pastinya Rindi bakal seneng kalau mbak Ara beneran jadi mbak ipar aku nanti” lanjut Rindi terkikik senang membayangkan impiannya punya kakak cewek akan segera terkabul.

__ADS_1


“Besok kenalin mas dulu dek, takutnya Aranya yang ga suka sama mas nanti”


“Iya mas, siaaaaap!!!” Rindi menampilkan senyum lebarnya sembari meletakakan telapak tanganya di pelipisnya, “jangan minder sih mas, Rindi yakin mbak Ara aka tertarik ke mas Hafa”


“Aammiinn” ucapku tiba-tiba mengaminkan membuat Rindi kembali tertawa girang,


“usianya Ara berapa dek?” tanyaku dengan rasa was-was, melihat wajahnya sepertinya usia kami terpaut jauh


“29 kalau ga salah mas”


“Really??!”


“Iya”


“wajahnya masih imut gitu dek, masa 29?” aku tak menyangka wajah imutnya benar-benar menutupi usia yang sebenarnya,


“iya mas, tahun ini mbak Ara 29, jangankan mas Hafa, aku aja ga percaya kalau ga di lihatin KTP nya waktu tanya umur dulu, aku masuk kemarin aku kira kita seumuran lho mas, ya paling ndak di atas ku dikitlah, eh ternyata terpautnya jauh mas, tapi takjub aja, wajahnya imut-imut gitu, baby face banget” jelas Rindi membuatku kembali merasa takjub sekaligus minder,


“kalau sama mas nanti timpang jauh dong” keluhku dengan suara lirih, membuat Rindi terkikik geli,


“Ya ga dong mas, mas aku ini kan ganteng, udah ah, percaya deh mbak Ara cocok sama mas”


“Besok pokoknya kenalin ke mas ya,”


Rindi pun mengangguk meng-iya-kan permintaanku, melihat malam yang semakin larut, akhirnya aku meninggalkan kamar adikku. Hingga esok harinya, saat gadis yang telah mencuri hati ku itu datang ke rumah, aku segera menemui adikku yang tengah membuatkannya minum.


“Ikut Rindi aja ya mas, Rindi kenalin ke mbak Ara”


Aku pun tersenyum antusias walau dalam hati berdebar tak karuan,


‘Ya Allah, gini amat rasanya mau kenalan sama cewek aja’


Rindi pun akhirnya mengenalkan kami, suaranya yang lembut tapi tegas kembali terdengar saat dia menyebutkan namanya membuat jantungku seakan di ajak lari maraton. Jedag jedug bagai kendang yang di tabuh cepat.


Seolah mendukung ku ingin mengenal gadis yang duduk di hadapanku lebih jauh, mama menanyakan hal-hal pribadi mengenai keluarganya, yang membuatku semakin kagum dengan ketenangan dia dalam menanggapi setiap pertanyaan mama, seolah mereka adalah sepasang anak dan ibu yang terlihat sangat akrab.


Satu hal yang menguatkan cerita Rindi semalam, kalau gadis di depan ku ini memiliki adik laki-laki yang sudah beranjak dewasa, dan mungkin saja laki-laki yang aku lihat tempo hari adalah adiknya.


Dan lagi-lagi obrolannya dengan mama membuatku semakin kagum padanya, membuatku merasa semakin yakin kalau dia adalah gadis yang aku cari selama ini.


“Kamu suka Ara, Fa?”


Tbc

__ADS_1


__ADS_2