
🌺Happy Reading🌺
Akhirnya setelah sarapan mereka berangkat masing-masing dengan Ara mengemudikan motor sang suami, sementara Hafa bergegas ke bengkel cabangnya. Rindi terlihat senang dengan santainya membonceng Ara, sesekali mereka mengobrol kan banyak topic hingga mereka sampai di kantor.
Ara pun mengabari suaminya kalau ia dan sang adik telah sampai di kantor dengan selamat, membuat Hafa yang juga baru saja sampai di bengkel cabangnya merasa lega. Entah kenapa sejak mengijinkan istrinya berangkat sendiri menggunakan motor, ia merasa tak tenang.
Hingga sore hari, karena tak begitu banyaknya pekerjaan membuat Ara dan timnya bisa pulang ontime tanpa harus lembur seperti hari-hari sebelumnya. Tak lupa Ara mengabari sang suami saat dirinya hendak pulang ke rumah, Hafa pun meminta nya pulang dengan hati-hati, dan mengontrol kecepatannya.
“Iya mas, iya… Ara jalan dulu ya, udah di parkiran ini” ucap Ara saat ia dan adik iparnya telah sampai di parkiran motor, ia pun ingin bersiap mengenakan jaket dan helmya.
“iya… kabarin mas kalau sudah sampai rumah, mas pulang telat ini” jawab Hafa yang nyatanya sampai saat ini pekerjannya belum juga selesai.
“Iya mas, hati-hati juga mas nanti”
Setelahnya Ara memutus sambungan telponnya setelah mengucapkan salam dan mendengar salam yang di jawab di seberang sana.
Kedua kakak beradik itu pun segera bersiap dengan alat pelindung diri mereka untuk naik motor. Setelah melihat sang adik juga telah siap dengan jaket dan helmnya, Ara pun melajukan kendaraannya, dan berbaur dengan kendaraan lainnya. Selama perjalanan Rindi pun sesekali mengajak kakak iparnya untuk mengobrol, hingga tanpa mereka sadari ada kendaraan yang melaju kencang di belakang mereka.
Brakk!!!!
Terdengar benturan yang cukup keras saat motor yang mereka kandarai bergelut dengan aspal jalan. Dan terdengar lagi benturan lain saat kendaraan lain juga ikut bertabrakan.
Suasana riuh seketika melanda jalan di mana Ara masih terkulai lemah di pinggir jalan, sementara adik iparnya merintih kesakitan.
Pengguna jalan yang melihat kejadian itu sontak menjadi histeris dan ada pula yang bergegas menolong beberapa korban kecelakaan yang di akibatkan kendaraan yang mengalami rem blong.
Proses evakuasi pun dilakukan tak lama setelah petugas medis dan polisi datang, Semua korban langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan.
***
Tap…Tap…tap…
Terdengar langkah kaki yang begitu cepat di koridor rumah sakit yang begitu ramai akan keluarga korban kecelakaan yang di bawa ke sana.
“Suster korban kecelakaan atas nama Humaira Mentari dan Rindi Widiasari ada di sebelah mana?” tanya seorang pria yang tak lain adalah Hafa.
Flashback on
Beberapa saat yang lalu Hafa mendapat kan telepon yang memberitahukan bahwa istri dan adiknya terlibat dalam kecelakaan beruntun akibat rem blong salah satu kendaraan di jalan arah menuju rumah mereka.
__ADS_1
Setelah menerima panggilan itu, dunia Hafa seakan runtuh, kejadian kelam beberapa tahun silam saat kehilangan sang adik kembali tergiang dalam ingatannya.
“Ya Allah…. Jangan kau ambil dulu istri dan adik hamba ya Allah….” Gumam Hafa selama dalam perjalanan menuju rumah sakit. “selamatkan mereka ya Allah”
Pekerjaannya yang belum selesai ia tinggalkan begitu saja untuk bisa segera ke rumah sakit dan memastikan keadaan istri dan adiknya.
Saat tiba di rumah sakit, ia melihat begitu banyak anggota keluarga korban kecelakaan yang berada di sama membuat Hafa semakin gusar,
‘Apakah korbannya banyak? Kenapa banyak orang di sini?’
Hafa pun segera menuju petugas yang terlihat sedang memegang data pasian dan mengarahkan beberapa keluarga yang menanyakan keberadaan korban.
Flashback Off
Suster yang mendengar nama dua korban di sebut segera mencari daftar nama pasian di tangannya.
“Keduanya masih berada di UGD pak”
“Bagaimana keadaan keduanya sus?” tanya Hafa yang masih dalam wajah paniknya.
“silakan di tanyakan lebih lanjut dengan dokter yang berada di UGD ya pak”
Adanya batasan jumlah keluarga yang bisa masuk ke dalam ruangan membuat Hafa begitu mudahnya masuk seorang diri dengan dua keluarga yang tengah di rawat di dalam sana.
Setelah kembali bertanya dan mengetahui bed sang istri dan adiknya, Hafa pun bergegas menghampiri mereka.
Deg!
“Astaghfirullah dek” pekik Hafa saat melihat adiknya terbaring dengan beberapa perban di tangan dan kakinya.
“Mas…” pekik Rindi yang kemudian tanpa ia sadar air matanya keluar begitu saja.
Hafa pun segera berdiri di samping sang adik yang tengah duduk bersandar, dan kebetulan ada dokter di sana yang baru saja selesai menangani sang adik.
“Bagaimana keadaan adik saya dok?”
“Tidak ada yang perlu di khawatirkan pak, hanya luka luar yang akan sembuh dalam beberapa hari”
“Alhamdulillah” ucap Hafa begitu lega setelah mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisinya adiknya.
__ADS_1
Rindi pun masih terisak, bahkan saat Hafa sudah mendekapnya, isakan tangisnya tak kunjung reda.
“Masih ada yang sakit dek?” tanya Hafa hati-hati karena tak mengetahui yang di rasakan adiknya.
Rindi pun menggelengkan kepalanya “mbak Ara… mas” lirih Rindi di sela isak tangisnya. Sedari tadi ia begitu cemas memikirkan kondisi kakak iparnya.
Hafa pun melepas rangkulannya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari istrinya.
“Mbak mu di mana dek?”
Rindi hanya menggelengkan kepala, tak tau di mana bed kakak iparnya, ia hanya teringat saat kakaknya akan di bawa ke rumah sakit, kondisi kakaknya sudah tak sadarkan diri.
“maaf Dok, apa istri saya anda juga yang memeriksanya?” tanya Hafa saat melihat sang dokter hendak meninggalkan beda adiknya.
“Istri anda? Atas nama siapa?”
“Humaira mentari”
“Oh, iya, saya juga memeriksanya”
“Bagaimana kondisi istri saya dok?” tanya Hafa yang tengah di liputi rasa khawatir.
Dokter pun mengajak Hafa menuju bed dimana sang istri terbaring, yang ternyata berada di ujung dan telah tertutup gorden.
“kondisi saat ini telah stabil, namun kami perlu memantau lebih lanjut, mengingat adanya benturan kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk kandungan istri Anda”
Deg!!
‘kandungan?’
“Tunggu dok, maksud Dokter istri saya saat ini sedang hamil?” tanya Hafa ragu,
“Iya, istri anda sedang hamil, apa anda belum mengetahuinya?”
Hafa menggeleng cepat, kemudian menatap sang istri yang masih tak sadarkan diri dengan mata berkaca-kaca.
“ah, begitu, Ya saat ini istri anda sedang hamil, setelah ini kami akan memindahkannya ke ruang perawatan dan melakukan pemeriksaan lanjutan”
Hafa pun tergugu di samping sang istri, ujung matanya begitu penuh dengan air yang siap melunjur melewati kedua pipinya, namun sebisa mungkin ia tahan. Tak menyangka ada berita bahagia dalam kondisi duka seperti ini. Kemudian Ia meminta dokter untuk melakukan perawatan terbaik untuk istrinya.
__ADS_1
Tbc