
🌺Happy Reading🌺
“Jadi nak Hafa, mengenai permintaan mu yang kamu sampaikan tadi….” Papa Ilham menghela nafasnya dan menatap mata sang putri dan tamunya bergantian. “coba tanyakan terlebih dulu dengan putri bapak”
Ara yang merasa menjadi topik dari ini pembicaraan mengerutkan dahinya, karena tak mengerti dengan apa yang di maksud papanya. Apa yang mas Hafa minta tadi? Kenapa harus bertanya padaku dulu?
Hafa pun mengangguk, kemudian beralih menatap gadis pujannya yang duduk dengan raut kebingungan di sampingnya.
“ghmmm” Hafa berdehem sembari berusaha mengatur degup jantungnya, sungguh rasanya begitu sulit untuk mengungkapkannya,
“Begini Ara,…… dek,…. seperti yang aku sampaikan kemarin kalau tujuan aku datang ingin main ke sini, namun, disisi lain ada hal yang ingin aku sampaikan dan aku minta, tadi aku sudah menyampaikan kepada bapak dan ibu kalau di ijinkan aku ingin menjalin hubungan serius dengan mu dek”
Deg!
Speechless, Ara terdiam tak bisa mengatakan apapun, dirinya masih mencerna setiap kata yang di sampaikan pria tampan yang kini duduk di sampingnya dan menghadapnya.
“Maksud mas apa?”
“Mas ingin menjalin hubungan serius dengan mu dek, mas menyadari di usia mas saat ini sudah tak sepantasnya jika kita menjalin hubungan pacaran “ ucap Hafa dengan tenang dan merubah panggilannya “maka dari itu, mas ingin menjalin hubungan yang serius, kalau kamu bersedia mas ingin menjadikan kamu istri mas dek”
Tes!!
Tanpa Ara sadari air matanya menetes dari kedua ujung matanya, ada rasa haru menyeruak dalam dadanya, Ya Allah apakah ini jawaban dari setiap doaku? Apakah pria ini yang aku tunggu? Apakah mas Hafa adalah jodoh yang engkau kirimkan kepadaku?
“Mas serius?” ucap Ara dengan terbata,
“hmm, mas serius dek, mungkin ini terlalu cepat kalau di hitung dari awal pertemuan kita, sejujurnya dari awal pertemuan kita, mas sudah tertarik padamu, ada rasa yang memang tak bisa mas jelaskan bagaimana, tapi ada getaran yang membuat mas ingin lebih dekat dengan mu, mas benar-benar menginginkanmu berada di sampingku"
"apakah mas tidak main-main? Bukankah mas belum mengenalku terlalu dalam?"
__ADS_1
"ya, kita bisa saling mengenal setelah menikah, bukankah itu lebih baik?"
Ara hanya terdiam dengan wajah berkaca-kaca, sesungguhnya ia bahagia ada yang menginginkan dirinya tapi ia juga takut mengecewakan pria yang kini dengan berani memintanya di depan orang tuanya.
" insyaAllah tidak akan ada kekecewaan dek, percayalah kalau mas mengambil keputusan ini tidak lah tergesa-gesa, sejujurnya mas sudah melibatkan Allah dalam keputusan mas, setelah shalat istikharah mas semakin yakin untuk meminangmu dek, kalau memang kamu belum bisa menjawab sekarang, mas akan memberikanmu waktu.” lanjut Hafa dengan menampilkan senyum manisnya, lega rasanya bisa mengungkapkan isi hatinya, namun ada juga ketakutan kalau gadis pujaan yang duduk di depannya ini tak menerima dirinya.
Ara mengangguk seraya mengusap air mata di yang mengalir di pipinya, “beri Ara waktu mas, sejujurnya Ara senang karena akhirnya ada yang berani meminta Ara untuk menjadi seorang istri, apalagi di hadapan kedua orang tua Ara langsung, terimakasih,..... tapi kalau mas sudah melibatkan Allah saat mengambil keputusan ini, tolong ijinkan Ara juga melibatkan Allah untuk menjawabnya mas, beri waktu Ara, 3 hari, insya Allah dalam 3 hari Ara akan menjawabnya”
Hafa pun mengangguk, meski di dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa karena tak langsung mendapat jawaban, tapi dia merasa lega karena telah menyampaikan niatan tulusnya meminang gadis pujaannya, ia pun menghargai permintaan gadis pujaannya meminta waktu untuk menjawabnya, toh hanya 3 hari, dalam 3 hari ia akan mendapatkan jawabannya, hanya dirinya harus bersiap jika memang jawaban yang ia dapatkan nantinya akan mengecewakannya.
Sepasang paruh baya yang duduk di seberang mereka pun ikut terharu, tak menyangka akhirnya ada pria yang berani meminang putrinya secara langsung di hadapan mereka.
“Nak Hafa…” panggil papa Ilham membuat sang pemilik nama seketika menoleh dan menatap pria paruh baya yang memanggilnya.
“Terimakasih kamu sudah berani menyampaikan permintaan mu, sesuai dengan yang Ara ucapkan tunggu jawaban kami dalam 3 hari”
“Lanjutkan makanmu nak, habiskan minumnya dan tinggalah di sini dulu, nanti ikut makan siang dengan kami” timpal mama Mira mencairkan suasana.
“iya bu, terimakasih”
Setelah suasana sedikit cair, mama Mira pun beranjak dari ruang tamu menuju dapur untuk memasak makan siang.
Ara pun bersiap untuk bersiri hendak membantu sang mama,
“Mau ke mana kak?” tanya Farhan yang baru saja ingin duduk bergabung, sedari tadi ia hanya berdiri di ambang lorong masuk ruang tamu, mendengarkan ucapan tamu pria yang dengan beraninya meminta sang kakak tercinta menjadi istrinya.
“Mau bantu mama di dapur?”
“Emang kakak bisa? Tangannya gak sakit?”
__ADS_1
“di coba dulu” ucap Ara “Ara tinggal bentar ya mas” pamitnya pada Hafa yang kini mengobrol dengan sang papa.
“hmm” Hafa tersenyum mengangguk pertanda mempersilakan gadis pujaannya itu meninggalkan ruang tamu.
***
Selepas makan siang Hafa berpamitan untuk pulang ke rumah, dan membiarkan Ara beristirahat.
“duh, yang baru dilamar” goda mama Mira kepada putri sulungnya,
“Ah mama ih, Ara masih belum jawab lho”
“memangnya kakak masih ragu sama nak Hafa?”
“Hanya ingin memantapkan saja ma, kalau menurut mama dan papa apakah mas Hafa adalah pria yang baik untuk Ara?”
“Kesan pertama cukup bagus kak, jarang ada pria yang berani langsung meminta anak gadis orang di depan orang tuanya. Papa acungi jempol keberaniannya, dan kalau secara kepribadian, sedikit banyak papa telah mengenalnya, Hafa adalah pria yang cukup ulet dan bertanggung jawab, jadi papa rasa ia pantas untukmu kak, papa merestuinya.”
Ara mengangguk mendengar jawaban sang papa, kemudian menatap sang mama dan sang adik yang masih duduk di depannya.
“Mama juga merestuinya kak, tapi semua kembali ke kamu karena kamu yang akan menjalaninya.”
“Adek juga setuju kak, sejujurnya dari awal ketemu mas Hafa, adek udah lihat kalau mas Hafa ada rasa sama kakak, dan melihatnya hari ini datang ke sini dan meminta ijin ke papa mama membuat adek iri, berani banget tuh cowok, salut banget aku sama mas Hafa”
Ara pun mencerna setiap ucapan yang keluarganya sampaikan, ia pun akan meminta petunjuk Sang Pemilik Kehidupan agar memudahkannya ia mengambil keputusan.
"Ya Allah berikanlah keyakinan pada hamba kalau memang Hafa adalah jodoh yang Engkau kirimkan untukku, berilah kemantapan dalam hati hamba untuk menerima pinanganya, berikanlah petunjukmu ya Allah. Segalanya hamba pasrahkan atas kehendakmu Ya Allah, Aamiin"
Tbc
__ADS_1