
🌺Happy Reading🌺
Pagi harinya, seperti biasa, Ara dan Rindi di antarkan Hafa terlebih dulu sebelum menuju bengkel cabangnya.
“Bantu jagain mbak mu ya dek” pinta Hafa sebelum keduanya turun dari mobil.
“Siap mas…” jawab Rindi sumringah, akhirnya bisa berangkat bareng kakak iparnya lagi.
“Mas juga hati-hati, kabarin Ara kalau sudah sampai bengkel”
“iya, baby baik-baik sama mama ya,” jawab Hafa seraya mengusap perut sang istri, sebelum kedua wanita kesayangannya turun dari mobil.
“Seneng deh mb, lihat mas Hafa kaya gitu” ucap Rindi dalam perjalanan menjuju ruang mereka, sembari menggandeng lengan sang kakak.
“Lah, emang biasanya gak seperti itu?”
“Ya semenjak mas Hafa nikah, jadi kelihatan happy terus mbak, beda banget sama dulu”
Ara pun terkekeh pelan, “masa sih?”
“Iya mbak, beneran deh, apalagi semenjak papa meninggal, yang Rindi lihat wajah serius nya terus, kaku gitu, ya meski tetep ‘care’ sama aku sama mama, tapi lebih seneng lihat yang sekarang”
“Ya Alhamdulillah dong, sekarang mas mu gak kaku”
“hmm…. Iya sih, apalagi bentar lagi bakal ada baby di rumah, mama sama mas Hafa pasti seneng banget, dan pasti rumah bakal makin ramai” Rindi pun terkekeh, membayangkan tak lama lagi rumahnya akan ada tangisan bayi.
***
Beberapa minggu telah berlalu semenjak kejadian kecelakaan yang menimpa Ara dan adik iparnya. Ara pun telah resmi resign setelah penggantinya sudah bisa menghandle pekerjaan yang di limpahkan padanya.
“Yang, mas antar Rindi dulu ya” pamit Hafa pada sang istri yang tengah mencuci piring bekas sarapan mereka. “Mas langsung berangkat nanti”
“Hmm…” jawab Ara kemudian menyalami sang suami,
Sudah seminggu ini Ara berada di rumah tanpa melakukan hal apapun, perutnya yang mulai terlihat buncit meski masih kecil dan itu membuatnya merasa gemas namun juga kadang merasa bosan karena tak banyak aktivitas. Meski ada mama mertua dan asisten rumah tangganya, namun ada rasa bosan di waktu-waktu tertentu.
Apalagi semenjak kecelakaan, Hafa benar-benar tak mengijinkannya naik motor, bahkan motor yang sudah di perbaiki pasca kecelakaan pun tak pernah di bawa pulang ke rumah. Pergi ke manapun Ara selalu di antar, atau naik taksi dan itu pun harus ada yang menemani, tak boleh pergi sendiri.
“Ma, mau bikin apa?” tanya Ara saat melihat mama mertuanya sibuk di dapur setelah kedua anakya berangkat kerja.
__ADS_1
“Bikin Bolu kukus, hari ini Tuti gak datang , ada arisan keluarga katanya, makanya mama mau buatin buat Tuti”
“Oh, mau di antar ke sana ma?”
“Iya, mumpung acaranya masih nanti siang, jadi masih keburu buat bikininnya”
“Kanapa gak pesen aja sih mah? Atau belikan yang lain? Mama mau buat berapa kilo ini?” usul sekaligus tanya Ara saat melihat jam sudah menunjukan hampir pukul 8, dan butuh waktu agak lama untuk mengukus adonan bolu yang sudah di cetak.
“Oh iya, cukup gak ya waktunya?” mama Hesti mulai berpikir ulang, tadinya ia ingin memanfaatkan bahan yang ada, mengingat Tuti juga memberi tahunya mendadak, baru pagi tadi memberi tahu kalau tak bisa datang karena ada acara keluarga di rumahnya.
“Kita belikan kue di dekat Toko papa aja ma, jam segini sudah buka, nanti kita antar sekalian ke tempat mbak Tuti.”
“Agak jauh ya? deket bengkel Hafa sepertinya ada toko kue juga deh, coba kamu telpon suami kamu, mama siap-siap dulu kalau gitu”
“Iya ma”
Ara pun bergegas menuju kamarnya, mengambil ponsel dan segera menghubungi suaminya.
“Assalamu’alaikum dek”
“Wa’alaikumusalam…. Mas sudah sampai bengkel?”
“Eh, mas di bengkel cabang ya?”
“Iya sayang, kenapa?”
“Ara sama mama mau ke Toko Roti deket bengkel mas, kata mama jam segini udah buka? Beneran ga?”
“oh, Medina Bakery, biasanya udah sih, tumben mau ke toko roti jam segini?”
“Ara tadi kan lihat mama sibuk di dapur, katanya mau buatin bolu kukus buat acara keluarganya mbak Tuti, hari ini mbak Tuti ijin gak masuk juga, mama pengen buatin bolu, tapi Ara usulin buat beli aja, takutnya waktunya gak cukup kalau bikin sendiri, acaranya nanti siang ini”
Hafa hanya ber oh ria mendengar penjelasan sang istri mengenai rencana sang mama,
“Ara pikir tadi mau mau beli di dekat Toko papa, tapi kata mama kejauhan, dan bilang deket bengkel mas ada” lanjut Ara
“Iya dek, lebih deket ke Medina Bakery, mau berangkat sekarang? Mau mas jemput?”
“Ara sama mama naik taksi aja deh mas, mas kan baru sampai, gak capek apa? Emang gak ada kerjaan juga di sana?”
__ADS_1
Hafa pun melihat sekelilingnya, benar saja, ada beberapa hal yang harus ia urus, jadi tak mungkin juga menjemput istri dan mamanya.
“ya udah deh, naik taksi aja dek, jangan ojek ya Yang, ingat kata mas”
“Iya masku sayang, Ara pesen taksi online nih, nanti Ara kirimin fotonya Ara yang naik taksi sama mama”
Hafa yang mendengar jawaban sang istri pun terkekeh pelan, “oh ya, mas sepertinya ada nomor nya Medina Bakery, coba kamu telpon dulu aja ya, buat pastiin udah buka atau belum”
“Oke, makasih mas… Ara tutup ya, mau siap-siap juga ini”
“Hmm… hati-hati sayang, jangan lupa kirimim fotonya nanti”
Hafa pun menutup telponnya setelah mengucapkan salama, kemudian segera mengirimkan nomor Medina Bakery pada istrinya.
Ara yang sudah mendapat ijin pergi dari sang suami pun tersenyum senang, akhirnya bisa keluar juga. Tak ingin buang-buang waktu ia pun segera bersiap kemudian menghubungi toko roti yang akan dia kunjungi.
“Gimana Ra?” tanya mama Hesti pada menantunya yang telah duduk menunggu di ruang tamu sembari memainkan ponselnya.
“Sudah buka ma, Ara juga sudah pesen taksi online buat ke sana ma”
Mama Hesti mengangguk, kemudian mengajak menantunya keluar rumah, “sudah mau sampai belum taksinya?”
“Udah ma, udah masuk kompleks kok, kita tunggu depan gerbang aja ma” jawab Ara mengikuti langkah mama mertuanya keluar rumah,
Tak berapa lama kemudian, mobil berwarna putih dengan plat nomor sesuai dengan yang tertera dalam aplikasi ponsel Ara terlihat berhenti di depan gerbang rumah berpagar hitam tempat Ara dan mama Hesti menunggu.
“Dengan Ibu Humaira ya?” tanya pengemudi taksi mengkonfirmasi calon penumpangnya.
“Iya pak, benar”
Ara dan mama Hesti pun menaiki kursi penumpang, setelahnya sang sopir pun melajukan mobilnya.
“Mama, hadap sini” pinta Ara meminta sang mama menghadap kamera ponselnya, “Ara mau kirim ke mas Hafa, buat laporan kalau kita beneran naik taksi” jelas Ara saat melihat mertuanya terlihat enggan untuk berfoto.
Ckrek!
Setelah mengambil foto dengan background kondisi dalam mobil , Ara pun segera mengirimkannya kepada sang suami, yang tanpa lama langsung berubah dengan centang biru, yang berarti fotonya telah di lihat.
“Terimakasih ya Ra”
__ADS_1
Tbc