It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 40


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


“Ini menantu pak Ilham?” tanya seorang pra paruh baya.


Papa Ilham yang masih mengobrol dengan beberapa tetangga pun menoleh ke arah sosok pria yang mengenakan peci putihnya.


“Eh iya pak Burhan, kenalkan Haffafa menantu saya”


Hafa yang di sebut pun segera mendekati pria paruh baya yang bernama Pak Burhan itu dan menyalaminya.


“Maaf saya baru pulang tadi sore, jadi tak bisa hadir di acara Pernikahan putri pak Ilham”


“Ah, tidak apa pak Burhan, mohon doanya saja agar pernikahan putri kamu, Sakinah, Mawaddah, Warahmah”


“Aamiin” bukan hanya pak Burhan, tapi beberapa orang yang masih berada di sana pun meng-amin-kan doa papa Ilham.


“Semoga Nak Hafa betah ya nanti jadi warga sini” lanjut pak Burhan yang kemudian mereka pun berbasa-basi sebentar lalu pulang ke rumah masing-masing.


Rumah tampak sepi, sepertinya mama Mira telah istirahat di kamarnya. Farhan yang sudah merasa lelah pun langsung ke kamar begitu pun papa Ilham.


Cklek!


“mas sudah pulang?” tanya Ara yang turun dari ranjang menyambut sang suami yang baru saja membuka pintu kamarnya.


“Hmmm, warga sini ramah-ramah ya dek”


“hmm… ya gitu mas, nanti mas akan tau sendiri ke depannya”


Ara pun mengambilkan baju Hafa yang telah ia masukan di lemari tadi sore. Setelah berganti pakaian Hafa pun menyusul sang istri yang duduk bersandar di atas ranjang sembari memainkan ponselnya.


Grep!

__ADS_1


Hafa pun memeluk erat Ara dari samping membuat Ara tersentak kaget karena pelukan suaminya yang tiba-tiba.


“Akhirnya mas bisa peluk kamu dek” Hafa pun menggoyangkan tubuh sang istri ke kiri dan ke kanan karena gemasnya. Hafa pun menyandarkan kepalanya di pundak istrinya, menikmati rasa nyaman yang baru saja ia dapatkan.


Ara yang mendengar celetukan suaminya itu tersenyum kemudian mengusap lengan sang suami yang melingkar di perutnya. “Terimakasih ya mas”


“Mas yang harusnya berterimakasih karena kamu sudah mau jadi istri mas dek”


Keduanya bertatapan, senyum keduanya mengembang begitu lebar. Sorot mata kerinduan tersirat dari bola mata mereka. “Kamu tau dek? Mas seneng banget kamu sudah di sini sama Mas, Mas rindu dek” rengek Hafa mengertakan pelukannya.


Ara pun terkekeh, ia pun senang akhirnya menikah dan memiliki suami. Ketakutan, keresahan, kekhawatirannya selama ini seolah menguap begitu saja setelah menyandang gelar sebagai seorang istri.


“Ara juga seneng mas, tolong bombing Ara kedepannya ya mas, ingatkan Ara juga memang berbuat salah, atau belum bisa jadi istri yang baik untuk mas”


“Sama-sama sayang, ingatkan mas juga kalau nanti berbuat salah, dan keluar dari jalur yang seharusnya. Kita sama-sama ya” ucap Hafa dengan lembut, membuat Ara langsung menganggukan kepalanya.


Hafa pun mengurai pelukannya dan menarik tubuh sang istri untuk begantian bersandar pada tubuhnya.


“ga lah mas, malah ramai. Ara akan ikut mas dimana pun mas tinggal”


“Alhamdulillah… terimakasih sayang. Jujur saja, mas mungkin bisa mencari rumah untuk kita tinggali berdua, tapi rasanya berat meninggalkan mama dan Rindi dek, selama ini mas yang menjaga mereka, dan mas mohon bantu mas untuk menjaga mereka, mas akan berusaha bersikap adil dan sesuai dengan status masing-masing”


“Iya mas, Ara paham, Ara tak keberatan tinggal bersama mereka, kita saling mengingatkan nanti jika memang apa yang kita lakukan tidak pantas dan jauh dari koridor yang seharusnya”


“yach… sebaiknya kita tidur, mas tau kamu pasti lelah”


“Iya mas, hmm… besok ada orang yang ke sini juga untuk bantu persiapan ke tempat mas besok minggu”


“Hmmm, makanya kita istirahat, biar besok fresh saat sambut yang datang ke sini”


“mas sudah ngantuk?” tanya Ara mengangkat kepalanya dan menatap sang suami yang masih mendekapnya.

__ADS_1


“Belum terlalu sih, kenapa? Ada yang mau di bicarakan ?” tanya Hafa menatap lembut sang istri dan melihat gelagat keraguan sang istri yang hendak berbicara.


“Hmm… soal pekerjaan Ara, apa mas masih mengijinkan Ara bekerja?”


“tentu saja sayang, mas tau kamu sudah lama bekerja di sana lama, tapi kalau mas boleh minta, saat nanti kamu hamil kamu resign dan fokus pada mas dan keluarga saja. InsyaAllah mas akan berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga kita”


“Terimakasih mas” jawab Ara dengan mata berbinar, kemudian ia mendekap erat sang suami dan menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya.


“Oh ya Allah dek….Alhamdulillah, sekarang ada yang meluk kalau tidur” kelakar Hafa setelah mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala sang istri. “Nyaman banget Yang”


Ara pun semakin tersipu, sejujurnya jantungnya berdegup begitu kencang, ini pertama kalinya ia tidur satu ranjang dengan seorang pria. Apalagi sampai berpelukan seperti ini.


“Good night sayang” ucap Hafa lagi sebelum memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Hingga pukul 02.35 Ara terbangun dan merasakan berat di perutnya, ternyata keduanya masih berada dalam posisi yang sama, saling berpelukan memberikan kenyamanan satu sama lain.


Ara pun mendongakan kepala, melihat wajah Hafa yang tertidur pulas. Ia pun tersenyum, Ia pandang lekat wajah pria yang kini menjadi suaminya. Ia sungguh mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu tampan di hadapannya. Ia pun bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah menciptakan makhuk yang begitu sempurna seperti suaminya.


Setelah memandang sang suami cukup lama Ara pun berusaha bangkit, perlahan ia pindahkan lengan Hafa yang melingkar di perutnya. Entah karena gerakannya yang begitu halus, terlalu lelah atau memang dasarnya kalau tidur sulit terbangun Hafa benar-benar tak terusik dengan gerakan Ara yang beranjak dari ranjang.


Ara pun segera ke kamar mandi dan setelahnya mengambil air wudhu, hingga saat ia keluar dari kamar mandi ia di kejutkan dengan sosok pria yang tadinya masih tidur terlelap kini malah berdiri di depan kamar mandi menatapnya dengan wajah kantuknya.


“Mas bangun?” tanya Ara dengan polosnya.


“Kamu ga ada dek, ga ada yang di peluk?” Hafa yang masih marasa kantuk pun menyandarkan kepalanya di pundak sang istri.


“Mas.. Ara udah wudhu lho, mas wudhu gih, kita shalat Tahajud sama-sama”


Hafa pun mengangkat kepalanya, menatap wajah teduh sang istri yang masih basah karena air wudhu. Rasa kantuk yang sebelumnya mendera, kini berganti dengan rasa bahagia yang begitu membuncah. Tak ingin sang istri terlalu lama menunggu Hafa pun segera bersiap mengambil air wudhu dan segera menyusul sang istri yang telah menyiapkan perlengkapan ibadahnya.


Sungguh mereka sangat bersyukur bisa menikmati momen yang begitu syahdu ini bersama-sama. Tiada kata yang patut terucap selain mengAgungkan nama Allah atas rasa nikmat dan rezeqi yang mereka terima. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustkan?

__ADS_1


Tbc


__ADS_2