It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 56


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


“Wih, rame bener?” pekik Ara girang saat melihat hiruk pikuk warga yang berlalu lalang disana. “Ada pasar malam ternyata, kok kamu gak bilang sih dek?


“Lupa kak” celetuk Farhan yang memang tak memberi tau kakaknya. Dulu saat kakaknya belum menikah, setiap kali ada pasar malam di lapangan ini mereka selalu pergi berdua, entah hanya ingin menikmati kuliner yang ada atau sekedar melihat-lihat.


Hafa pun mencari tempat parkir yang agak longgar kemudian kelimanya turun untuk berburu kuliner yang ada di sana.


“Mas mau apa?” tanya Ara yang kini menggandeng lengan sang suami,


Mereka berjalan beriringan menyisir stand makanan yang ada di sana,


“Katanya Farhan tadi minta capcay, cari itu dulu aja, nanti lihat menu selain cap cay apa aja?”


“Mas Hafa emeng the best” timpal Farhan yang berjalan di samping kedua kakaknya,


Mama Mira dan Papa Ilham yang berjalan di belakang ketiganya tersenyum senang, terlebih saat ini anak sulung mereka tengah bergelayut manja pada suaminya.


Mereka masuk di salah satu tenda kemudian duduk lesehan di salah satu bagian yang kosong. Ara pun segera memesankan menu yang mereka pilih untuk makan malam kali ini.


Disaat menunggu pesanan mereka, ponsel dalam tas Ara bordering menunjukan ada panggilan masuk.


“Rindi telpon mas” ucap Ara saat melihat Id pemanggil di layar ponselnya.


“Angkat aja dek”


Ara pun segera menggeser tombol hijau dan mengucapkan salam begitu sambungan telponnya terhubung.


“Mbak sama mas Hafa gak pulang ya?”


“Gak dek, kenapa? Mama gak kenapa-napa kan?”


“Gak mbak, Rindi sepi nih di rumah, mama udah tidur”


Ara pun terkekeh kemudian mengubah panggilannya ke mode video membuat ia bisa melihat Rindi yang cemberut di seberang sana.


“Maafin ya, kami mau nginep di rumah papa”


“hmm,,, iya gapapa, eh kok rame banget sih? mbak lagi di mana?”

__ADS_1


Ara pun menyalakan camera belakang dan mengedarkan camera ponselnya untuk memperlihatkan area sekelilingnya.


“A… mbak Ara jahat ih, ke pasar malam Rindi gak di ajak” pekik Rindi kesal setelah melihat area pasar malam yang begitu ramai, dan ia pun melihat kakaknya dan keluarga kakak iparnya yang juga berada di sana.


“mbak juga baru tau kalau ada pasar malam dek, hehe”


“Mbak Rindi ke sini aja” timpal Farhan yang mendengar pekikan adik dari kakak iparnya itu.


“Haish,… mana bisa Han” ucap Rindi yang memasang wajah cemberut.


“Lain kali ke sini lagi deh, ajak mama juga” ucap Ara menenangkan adiknya.


“yach.. emang tutupnya masih lama mbak?”


“Nanti mbak cari info deh, kalau minggu depan masih buka, kita ke sini malam minggu besok”


“Beneran ya mbak?”


“Iya…. Asal masmu mau antar” ucap Ara melirik sang suami yang duduk di sampingnya.


“Iya, besok malam minggu ke sini lagi” timpal Hafa sebelum mendengar rengekan adik bungsunya. Ia yakin adiknya akan terus merengek hingga keinginannya terpenuhi.


Ara pun kemudian mengajak adik iparnta berbasa-basi sebentar sebelum mereka mengakhiri panggilan telponnya karena makanan yang mereka pesan di hidangkan di hadapan mereka.


Hingga pukul 10 malam kelimanya masih berada di area pasar malam, bahkan mama Mira yang semula tak ingin membeli apapapun akhirnya malah memborong panci yang terlihat menggoda untuk di jadikan tambahan koleksi perlengkapan dapurnya. ‘padahal di Tokonya ada juga, tapi katanya beda’,


Ara pun tak kalah dengan sang mama, namun ia bukan memborong perlengkapan dapur, melainkan daster yang terlihat begitu nyaman jika di gunakan. Ia pun juga membelikan untuk kedua mamanya dan juga adik iparnya.


Setelah puas berburu kuliner dan beberapa barang lainnya, Ara pun mengajak suami dan keluarganya untuk pulang ke rumah, karena sudah merasa sangat lelah.


***


Beberapa hari telah berlalu, dan sesuai janjinya Hafa mengajak keluarganya kembali ke pasar malam dan kali ini bertambah dengan sang mama dan juga adiknya. Mereka begitu menikmati kuliner maupun hiburan yang di sajikan di sana.


Kebahagiaan bersama keluarga membuat Ara yang sebelumnya kepikiran karena belum kunjung hamil kini sedihnya sirna dan tak lagi memikirkannya secara berat. Hingga saat ini pun mereka belum sempat memeriksakan lebih lanjut lantaran kesibukan keduanya.


Beberapa hari terakhir Ara harus lembur, begitupun dengan Hafa yang sudah memulai sibuk dengan bengkel cabang yang akan ia buka.


“Dek mas, harus pergi ke bengkel cabang untuk melihat proses renovasinya” ucap Hafa di suatu pagi sebelum mereka turun untuk sarapan bersama.

__ADS_1


“Mas mau di sana sampai sore?”


“Belum tau juga dek, beberapa alat yang perlu di pasang juga akan datang hari ini”


“Hmm.. Ara naik motor aja kalau gitu mas, sepertinya Ara bakal pulang on time hari ini”


“Mas anter dulu aja dek”


“Kan bengkel cabang berlawanan arah mas, nanti mas malah bolak-balik, belum lagi kalau pulang nanti mas gak bisa jemput”


“Naik taksi dek, kalau mas gak bisa jemput nanti”


“Ara naik motor aja ya, gak begitu jauh ini, nanti Rindi Ara boncengin”


“Tapi…”


Drrrt….drrrt….


Belum Hafa menyelesaikan kalimatnya ponsel dalam sakunya berdering yang ternyata panggilan dari orang yang bertanggungjawab dalam proses renovasi cabang.


Hafa pun menerima panggilan telponnya dan berbicara sebentar, kemudian menutup panggilan dengan menghela nafas.


“Mas gak bisa antar juga dek” ucap Hafa dengan lesu,


“Gak papa mas, Ara sama Rindi naik motor aja, lagian kan udah beberepa kali juga kita berangkat sendiri naik motor kan” jawab Ara menghibur suaminya yang terlihat begitu khawatir karena tak bisa mengantarkannya ke tempat kerja, padahal kejadian seperti ini tidak hanya terjadi kali ini saja. Beberapa kali memang Ara dan Rindi memang berangkat sendiri ke kantor menggunakan motor, tanpa di antar Hafa.


Setelah mendengar penjelasan sang istri, akhirnya Hafa mengijinkan Ara dan adiknya berangkat dengan motor maticnya, namun wejangan demi wejangan tetap ia sampaikan pada istrinya.


Akhirnya setelah sarapan mereka berangkat masing-masing dengan Ara mengemudikan motor sang suami, sementara Hafa bergegas ke bengkel cabangnya. Rindi terlihat senang dan dengan santainya membonceng Ara, sesekali mereka mengobrol kan banyak topic hingga mereka sampai di kantor.


Tak begitu banyaknya pekerjaan membuat Ara dan timnya bisa pulang ontime tanpa harus lembur seperti hari-hari sebelumnya. Tak lupa Ara mengabari sang suami saat dirinya hendak pulang ke rumah, Hafa pun meminta nya pulang dengan hati-hati, dan mengontrol kecepatannya.


“Iya mas, iya… Ara jalan dulu ya, udah di parkiran ini”


“iya… kabarin mas kalau sudah sampai rumah, mas pulang telat ini”


Ara pun melajukan kendaraannya, dan berbaur dengan kendaraan lainnya. Rindi pun sesekali mengajak kakak iparnya untuk mengobrol, hingga tanpa mereka sadari.


Brak!!!!

__ADS_1


Tbc


__ADS_2