
🌺Happy Reading🌺
“Bagaimana para saksi?”
“SAH….!!” Pekik para saksi bersamaan menggema di suasana hening nan sakral.
Beberapa kerabat papa Ilham pun di buat speechless dengan mahar yang di sampaikan saat prosesi Ijab Kabul. Ada yang merasa takjub adapula yang merasa heran, bagaimana seorang montir bisa memberikan mahar uang dengan nominal yang begitu besar? Pikir mereka.
Dalam penentuan mahar pun Ara tak meminta secara spesifik nominal yang diminta, namun Ara memang menghendaki maharnya berupa uang tunai. Nominal seratus juta yang disebutkan sebagai mahar merupakan keinginan Hafa sendiri untuk di berikan pada istrinya, dan lagi ia tak bermaksud pamer, karena nominal segitu menurutnya masih tidak ada apa-apanya di banding dengan kesediaan Ara untuk menjadi istrinya.
Setelahnya penghulu pun memimpin doa yang di aminkan semua yang hadir untuk menyaksikan proses Akad Nikah berlangsung. Di lanjutkan rangkaian acara selanjutnya dari penandatanganan buku nikah, penyerahan mahar, nasihat pernikahan, hingga penutup.
Ada rasa haru menyeruak dalam dada ketika Ara mencium tangan Hafa untuk pertama kalinya, dan Hafa pun mencium kening Ara dengan khidmat setelah membisikan doa di puncak kepalanya setelah keduanya di nyatakan sah sebagai suami istri.
Acara pun berlanjut hingga di tutup dengan foto bersama sebelum keduanya berganti pakaian untuk acara Resepsi yang akan di gelar 1 jam setelah acara Akad nikah selesai.
“Akhirnya kamu sudah jadi istri mas dek” bisik Hafa menggoda Ara yang kini berdiri merangkul lengannya saat berpose foto bersama keluarga. Keluarga besar Ara tampak berjejer di samping kedua mempelai dan ada pula yang setengah duduk di depan, agar bisa masuk dalam datu frame.
“Mesra-mesranya nanti ya mas, kita foto dulu” celetuk Farhan yang tengah mengarahkan keluarga besarnya untuk berpose di depan kamera.
Celetukan dari Farhan yang keras pun membuat semua orang terkekeh.
Para keluarga pun berpose dengan berbagai gaya, dengan menampilkan senyum manis mereka agar terlihat bagus dan cantik di kamera.
***
Acara resepsi yang telah berlangsung kurang lebih dalam waktu dua jam itu, akhirnya selesai setelah MC menutup dalam memandu acara. Acara yang berlangsung di hari Jumat membuat acara tidak bisa berlangsung lama. Kesepakan keluarga memang menentukan acara akad dan resepsi di kediaman Ara berlangsung di Hari Jumat sesuai keinginan Ara, dan acara di laksanakan di pagi hari, sementara acara di kediaman Hafa akan di gelar di hari Minggu. Selisih 1 hari dari acara di kediaman Ara.
Hafa dan Ara pun melangkah beriringan ke kamar Ara yang akan menjadi kamar mereka berdua, setelah keluarga Hafa pulang meninggalkan kediaman Ara. Hafa pun dengan sigapnya membantu Ara yang memang kesulitan berjalan dengan gaun lebarnya.
Ara mengajak pria yang kini telah jadi suaminya masuk ke dalam kamar, yang terlihat masih sedikit berantakan setelah tadi di gunakan untuk merias dirinya dan para sepupunya.
__ADS_1
Saat keduanya masuk kamar, Hafa pun mencium harum parfum khas yang biasa Ara gunakan, ada rasa senang dan bahagia yang membuncah, akhirnya penantiannya telah berakhir. Gadis yang beberapa bulan ini telah mengusik hatinya kini telah menjadi istrinya.
“Mas siap-siap pergi ke masjid aja, Ara akan melepas riasannya sendiri” pinta Ara saat Hafa hendak membantu melepas beberapa aksesoris yang menempel di kepalanya.
“Kamu yakin dek?”
“Iya, mas nanti telat kalau bantu Ara dulu, itu kamar mandi Ara kalau mau mandi dulu.”
Hafa pun mengangguk, kemudian bersiap untuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit Hafa pun keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan pakaian kokonya.
“Papa nunggu di depan mas, di ajak berangkat sama-sama” ucap Ara yang kebetulan juga telah selesai melepas berbagai aksesoris di kepalanya.
“Iya, di masjid yang deket rumah aja kan ini?”
“Iya, masjid yang pernah mas datangi dulu”
Hafa tersenyum kemudian mencium kening istrinya “ Mas ke masjid dulu dek”
Ara yang mendapat perlakuan manis itupun merekahkan senyum manisnya. Pipinya yang memang masih merona karena make up semakin merona karena sikap romantis sang suami.
***
Setelah melakasanakan ibadah shalat jumat, pihak WO pun memulai merapikan perlengkapan di bantu para kerabat dan tetangga yang memang sedari awal membantu persiapan.
Ara kini telah berganti dengan pakaian santainya begitupun dengan Hafa yang telah mengganti baju kokonya.
“meski pakai WO para warga sini tetep solid buat membantu ya dek?” celetuk Hafa saat melihat beberapa tetangga bekerja sama membereskan lokasi resepsi tadi berlangsung.
“Iya mas, malah biasanya itu kalau ada yang nikahan itu ga usah pakai WO, nanti para warga yang akan membantu dari menyiapkan tempat, menyiapkan beberapa perlengkapan hingga yang memasak hidangan.”
“Iya kah?”
__ADS_1
“Hmm… warga sini masih gitu sih, enaknya hidup di desa itu kaya gitu, semuanya serba bantu membantu”
“Cuma ini kemarin papa nyaranin pakai WO, biar Ara dan keluarga ga terlalu capek buat urus ini itu, jadi semuanya udah di serahin ke WO gitu.
“Hmm… salut sama mereka”
Sore hari, kediaman Ara benar-benar terlihat sepi karena pihak WO maupun warga telah pulang ke rumah masing-masing. Semua perlengkapan telah di bereskan hanya tinggal tenda yang memang belum di bongkar karena akan di bongkar setelah acara di kediaman Hafa esok hari Minggu.
Mama Mira dan Ara pun menghangatkan makanan yang masih ada, dan akan di sajikan untuk makan malam hari ini.
Setelah ibadah maghrib papa Ilham mengajak menantu dan putra bungsunya ke ruang makan yang menyatu dengan dapur.
“Silakan mas” ucap Ara setelah menyiapkan makan untuk sang suami.
“Terimakasih dek”
“Semoga betah di sini ya Haf, sering berkunjung juga ke sini, rumah ini juga rumah kalian” ucap papa Ilham setelah menyelesaikan makan malamnya. Kelimanya masih duduk melingkar di meja makan, memakan bebarapa cemilan yang ada.
“Iya pa, insyaAllah kami akan sering-sering berkunjung kemari”
“ya kondisi warga sini seperti yang kamu lihat tadi siang, besok ajak Hafa berkeliling desa Ra, biar mengenal desa juga”
“iya pa”
Merekapun mengobrolkan banyak hal, hingga terdengar adzan isya berkumandang, dan papa Ilham pun mengajak kedua putranya ke Masjid untuk berjamaah.
“jamaah di sini banyak ya dek?” tanya Haffa saat melihat banyak warga yang datang ke masjid lebih banyak dari waktu maghrib tadi.
“iya mas, biasanya isya lebih banyak, karena sudah pada pulang kerja”
“hmmm” Hafa pun mengangguk, lalu mengikuti langkah mertuanya yang sudah masuk dan berdiri di shaf depan.
__ADS_1
“Ini menantu pak Ilham?”
Tbc