It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 47


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


“Ya harus dong, truk aja banyak yang gandengan, kalau gak di gandeng, takut ilang nanti. Apalagi di sini, kalian itu mengkhawatirkan”


Sontak saja semua karyawan tergelak dengan ucapan balasan dari Hafa. Ara yang mendengar gurauan suami dan karyawannya itu hanya tersenyum, merasa senang karena hubungan mereka terlihat hangat dan akrab.


“Semua sudah berangkat ya?” lanjut Hafa dengan raut seriusnya, membuat semua karyawan tadinya tertawa kini ikut diam dan saling memandang, memastikan rekan mereka yang belum hadir siapa.


“Saya ingin memperkenalkan istri saya secara resmi pada kalian”


“Cie…. Istri cuy!!!” celetuk salah satu karyawan lagi, membuat Hafa tersenyum.


“Kalian sudah lihat kemarin, ini istri saya Humaira Mentari, kalian bisa memanggilnya Ara…” lanjut Hafa kemudian menatap istrinya dengan penuh kelembutan.


“Dek,… ini anak-anak di bengkel mas” Hafa pun menunujuk dan menyebutkan nama anak buahnya satu persatu. Setelah sesi perkenalan, Hafa pun mengajak sang istri masuk ke ruangannya.


Ruangan yang hanya tersekat kaca dan terdapat rak dan lemari di salah satu sisi ruangan. Namun juga terdapat satu set sofa yang berada di salah satu sudut.


“Maaf ya dek, ruangnya kotor, tidak seperti tempat kerjamu yang bersih dan full AC” ucap Hafa tak enak saat melihat sang istri memperhatikan setiap sudut ruangan kerjanya.


Ara yang mendengar permintaan maaf sang suami pun menoleh, dan mengulas senyum. “Cukup bersih kok mas”


Bukan Ara yang sembarang bicara, memang ruangannya cukup bersih meski beberapa alat berada di rak yang berada di salah satu sudut.


Hafa pun mengajak sang istri duduk di sofa yang membelakangi area luar ruangan, sehingga tak akan terlihat jelas dari luar. Tanpa sungkan Hafa pun merangkul sang istri, meraih tangannya dan sesekali mengecupnya dengan penuh kelembutan.


“Beginilah suasana kerjaan mas dek”


Ara mengangguk, kemudian ia kembali memperhatikan sekelilingnya, mengamatai bagaiamana suaminya menata tempat kerjanya dan juga, bagaimana para karyawan mempersiapkan segala peralatan sebelum bengkel di buka.


“Mas sudah buka bengkel ini berapa lama?”


“hmm, lumayan lama sih, dari waktu mas masih kuliah semester akhir”

__ADS_1


“pantes udah segedhe ini? Kepikiran buat cabang mas?” tanya Ara, jiwa perencanaanya tiba-tiba muncul begitu saja saat melihat potensi yang bagus dari perkembangan bengkel suaminya.


“Kepikiran sih, masih cari lokasi yang pas juga”


“memang rencana mas mau buka dalam kota apa luar kota?” kini Ara duduk menghadap suaminya yang tengah bersandar santai sembari mengotak-atik ponselnya.


“Kalau dalam kota bisa, ya dalam kota dulu dek, biar bisa handle juga, kalau luar kota nanti ribet di bagi waktunya.” Merasa di tatap sang istri, Hafa pun meletakan ponselnya di atas meja, kemudian fokus ke arah sang istri yang sepertinya sangat antusias dengan rencana pembukaan cabang bengkelnya.


Ara pun mengangguk, dalam kepalanya terlihat berpikir dan jelas ada beberapa rencana yang mungkin saja bisa di lakukan untuk membantu suaminya.


“Kamu mikirin apa sih dek?” tanya Hafa heran saat melihat sang istri mengerutkan dahi dengan tatapan lurus ke depan seolah membayangkan sesuatu, “jangan bilang sudah mapping plan untuk pembukaan cabang bengkel mas ya?”


Ara yang mendengar tebakan suaminya pun menoleh dan nyengir memperlihatkan gigi putihnya, “hehe, gak tau kenapa langsung kepikiran aja mas”


Hafa pun terkekeh, kemudian mengacak rambut sang istri dengan gemas, kemudian mendekap sang istri sembari menguyel-uyelnya. “Gemesin banget sih istri mas ini” kecupan singkat ia daratkan di puncak kepala sang istri, “lupa kalau istri mas ini ahlinya dalam perencanaan” lanjutnya lagi.


Keduanya tertawa pelan, Ara yang mendapat pujian pun tersenyum malu, “Gak juga sih mas, dalam dunia bengkel kan Ara masih belum mengerti”


“iya, Ara mengerti mas, tapi jangan sungkan untuk berbagi dengan Ara ya mas, gak ada salahnya kita saling bantu, apalagi kita udah jadi suami istri”


Senyum Hafa semakin lebar, “tentu saja sayang, kita lebih terbuka ke depannya ya, kamu juga, jangan ada yang di tutupi, apalagi kalau ada masalah”


Dalam dekapan hangat sang suami, Ara pun mengangguk kemudian membalas rangkulan erat Hafa yang terasa begitu nyaman. Hingga terdengar dering panggilan dari ponsel Hafa, membuat sepasang pengantin baru itu mau tak mau melepas pelukan mereka.


***


Setelah dua jam berada di bengkel, Ara melihat bengkel terlihat cukup ramai dengan kedatangan pelanggan, baik yang membawa kendaraan roda dua atau pun mobil mereka. Para karyawan terlihat sibuk hilir mudik melayani pelanggan yang datang dengan berbagai keluhan.


Ara yang tak ingin mengganggu suaminya bekerja pun memutuskan untuk berkeliling bengkel dan melihat situasi di sekitarnya. Setelah meminta ijin sang suami ia pun berjalan perlahan keluar bengkel, berdiri di halaman dan melihat beberapa kios ataupun bangunan lainnya yang berdiri kokoh mengapit bengkel yang lumayan luas itu.


Senyum Ara seketika merekah saat melihat pedagang yang tengah mendorong gerobaknya menyusuri jalan sekitar. Tanpa pikir panjang, Ara pun segera menghampiri gerobak yang dia lihat itu, untung saja tas kecil yang berisi ponsel dan dompetnya ia bawa, jadi tak perlu masuk lagi untuk mengambilnya.


Ara pun berjalan cepat menghampiri pria paruh baya yang tampak sedikit lelah mendorong gerobaknya, dan setelah berada di dekatnya ia memesan untuk di bungkuskan yang sekiranya akan cukup untuk semua karyawan suaminya, suaminya dan tentu saja untuknya sendiri.

__ADS_1


“Terimakasih banyak pak, semoga laris ya pak” ucap Ara sumringah setelah menerima kantong berisi pesanannya.


“Terimaksih neng” jawab si pedagang tak kalah sumringahnya.


Ara pun bergegas pergi, dengan satu kantong cukup besar berada di tangan kirinya. Tak cukup dengan satu kantong di tangannya, Ara pun berkeliling dan mencari kuliner lain yang sekiranya menggoda lidahnya.


Hingga tanpa sadar, Ara telah meninggalkan bengkel lebih dari satu jam lamanya. Ia yang masih mengantri untuk di buatkan es doger pun mendengar ponselnya berdering.


“iya mas” jawab Ara setelah menjawab salam.


“Kamu di mana dek?”


“hmmm… “ Ara pun memperhatikan sekitarnya, ternyata ia telah berjalan agak jauh dari bengkel suaminya. “Ara di depan Toko Rizky nih mas”


“di mana?” tanya Hafa meyakinkan jika dia tak salah dengar keberadaan istrinya, pasalnya jarak Toko Rizky dengan bengkenya lumayan jauh.


“Depan Toko Rizky, kenapa mas?’


“Ngapain kamu di sana dek? Astaga itu agak jauh lho” tanya Hafa dengan nada gemasnya.


“Beli es doger mas” jawab Ara dengan polosnya, “ini masih antri”


“Ya Allah dek….. kamu tunggu situ, mas jemput” pekik Hafa lagi kemudian memutuskan sambungan telponnya.


“Mbak mau beli berapa?” tanya penjual es doger pada Ara setelah selesai melayani pembeli lainnya.


“e…..”


Tbc


Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩


Love you All 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2