
🌺Happy Reading🌺
Mbak tuti mengangguk, namun seperti ada yang mengganjal pikirannya,
“Soal gaji mbak Tuti tak perlu khawatir, saya tak akan menguranginya” lanjut Hafa seolah tau apa yang di resahkan asisten rumah tangga keluarganya.
“Mbak Tuti tidak masalah dengan ini kan?” kini Ara yang menanyakan, karena baru kali ini bertemu dengan asisten rumah tangga yang selama membantu keluarga sang suami.
“Ndak mbak, hanya saja saya merasa tak enak, saya sudah di gaji sama tapi malah kerjaan saya di kurangi” mbak Tuti tampak menunduk, tak berani menatap Ara.
“Mbak tenang aja, maaf, bukan maksud saya mengambil alih pekerjaan mbak Tuti ya, hanya saja saya sebagai istri juga ingin melayani mas Hafa sebagai suami saya, tanpa penjelasan lebih pun saya rasa mbak Tuti juga sudah paham maksud saya” jelas Ara dengan penuh keramahan.
“Iya mbak, saya paham, terimakasih mbak”
Obrolan kedua wanita beda usia itu membuat wanita paruh baya yang menyimak tersenyum senang.
“Mungkin ke depannya saya akan meminta mbak Tuti untuk membantu di hal yang lain”
“Iya mbak”
“Jangan sungkan sama saya ya mbak” lanjut Ara dengan tersenyum lebar, terkekeh melihat asisten rumah tangga sang suami yang tampak lugu dan penurut.
***
Setelah makan siang bersama dengan sang mama Hafa mengajak sang istri untuk beristirahat di kamar. Ara yang memang merasa lelah pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Capek dek?”
“Hmm… baru terasa capeknya mas, tadi biasa aja lho” keluh Ara sembari mendekap satu-satu nya guling yang ada di atas ranjang.
“Ganti baju dulu dek, gak gerah pakai baju itu?”
Ara pun menurut dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, kemudian berbaring lagi di atas ranjang di mana sang suami tengah bersandar sembari memainkan ponselnya.
Hafa pun menoleh ke arang sang istri yang bebaring memeluk gulingnya, membuat Hafa segera meletakan ponselnya di atas nakas, kemudian menggeser guling dalam dekapan sang istri, dan berganti merengkuh erat sang istri agar memeluknya.
“Kamu pengen honeymoon gak dek?”
__ADS_1
Ara yang sudah di landa rasa kantuk pun mendongakan kepalanya menatap sang suami, yang baru saja mengecup puncak kepalanya.
“Kalu kamu mau, mas pengen ajak kamu honeymoon”
Ara pun hanya menggeleng, kemudian menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami, tempat ternyaman dan membuatnya merasa terlindungi.
“kenapa?”
“di rumah aja lah mas, capek, cuti juga tinggal dua hari emang mau ke mana?”
“Ya deket-deket sini aja lah dek”
“gak usah deh mas, mas kan kalau pagi dan sore juga antar jemput Rindi, nanti malah mas kepikiran. Lagian Ara juga gak lagi pengen ke mana-mana”
Hafa pun mengangguk, mengerti rasa lelah sang istri. Beberapa hari mengurus acara pernikahan mereka, di tambah lagi harus melayaninya tentu saja membuat Ara begitu merasa lelah.
“Lain kali kalau ingin pergi bilang mas ya dek”
Ara hanya mengangguk perlahan, kemudian terlelap ke alam mimpi yang membuat Hafa terkekeh karena gemas.
‘kamu kok gemesin banget sih dek,… Terimakasih ya Allah Engkau telah jadikan dia jodoh hamba’
Sore harinya, Ara bersiap memasak untuk makan malam setelah membereskan cucian pakaiannya dan sang suami. Mbak Tuti telah pulang beberapa menit yang lalu, sementara suaminya kini tengah membersihkan diri dan bersiap untuk menjemput adik bungsunya.
“Dek, mas jemput Rindi dulu ya” pamit Hafa saat Ara tengah berdiri di depan kompor sembari menumis bumbu tumisnya.
“Hati-hati mas”
“Mama mana dek?” tanya Hafa sembari melingkarkan lengan kekarnya di perut sang istri.
“Ke belakang tadi, ke kamar mandi sepertinya”
“kamu masak apa?”
“Tumis brokoli mas, ada bahannya di kulkas ini, nanti sama goreng ikan”
Hafa mengangguk, masih dalam posisi mendekap sang istri dan menumpukan dagunya di pundak sang istri.
__ADS_1
“Katanya mau jemput Rindi sih mas, buruan berangkat gih, Rindi bentar lagi pulang” pinta Ara yang mulai merasa suaminya malah mengeratkan pelukannya.
“Bentar lagi sih Yang” Hafa enggan bergerak, merasa nyaman dengan posisinya selama ini, hingga terdengar suara deheman dari belakang mereka mambuat Hafa mengangkat kepalanya tanpa melepas rengkuhan tangannya.
“ck, mama ih” decak Hafa pelan “mas berangkat dulu Yang” lanjut Hafa kemudian mengecup pipi sang istri sebelum berlalu keluar dari dapur dan berpamitan pada sang mama.
Mama Hesti hanya tersenyum menggelengkan kepalanya, “Kamu pakai apa sih Ra, bisa buat anak mama jadi semanja itu?”
Kalimat yang di lontarkan mama Hesti membuat pipi Ara kian merona yang sebelumnya sudah merona karena merasa malu kepergok bermesraan di dapur, sekarang di tambah dengan lontaran ucapan yang entah maksudnya pujian atau ledekan.
“Kamu hebat bisa bikin dia kaya gitu, selama ini mama lihat Hafa dengan segala kedewasaannya, apalagi setelah adiknya Rafif meninggal, sisi manja itu tak pernah muncul Ra, dan sekarang mama seneng, akhirnya sikap manjanya masih tetap ada” ucap mama dengan rasa haru namun senyum lebar tetap tersungging dari bibirnya.
Ara tak bisa menanggapi ucapan sang mama mertua, selain dengan senyuman yang tersungging dari bibir tipisnya.
Keduanya pun kemudian melanjutkan ritual masak mereka. Mama Hesti yang mendapat teman masak terlihat sangat bersemangat. Sayangya bahan yang tersedia di kulkas terbatas, jadi tidak bisa masak dengan banyak menu.
“Besok ikut mama belanja ya sayang? Bahan di kulkas sudah habis gitu”
“Oke ma… tadinya Ara mau tanya sama mas Hafa di mana pasarnya atau tempat biasa mama belanja, eh mama udah ajakin duluan”
Mama Hesti terkekeh pelan, “besok harinya kita shoping, mama pengan masak banyak sama mantu mama”
“Hehe, secukupnya aja ma, nanti mubadzir kalau terlalu banyak”
“kalau kebanyakan biar di bawa sama Tuti juga, lagian besok masih di rumah kan? pasti habis sama tuh anak”
Ara hanya mengangguk saja, mengiyakan sang mama mertua yang tampak bahagia. Tak tega rasanya ingin menolak atau menyanggahnya.
“Mama kalau belanja jam berapa?” keduanya asyik mengobrol sembari menyelesaikan masakan mereka.
“mama sih fleksibel ya, kadang nunggu Tuti datang dulu baru ke pasar, kadang di antar juga sama Hafa pagi-pagi”
“hmm, kalau besok pagi nunggu mbak Tuti datang, yang buat sarapan ga ada bahan lagi ma, itu tinggal telur doang”
“atau nanti malam mau ke supermarket sayang? Di sana kan juga ada sayur dan bahan segar? Biar besok pagi bisa masak."
“Ara ikut aja deh ma, nanti Ara ijin mas Hafa dulu ya ma, kalau boleh kita belanja nanti”
__ADS_1
“Oke sayang”
tbc