
🌺Happy Reading🌺
“Masalah kalau kamu belum begitu mahir dek” timpal mama Hesti yang akhirnya menyahut, tak ingin anak bungsunya itu terus mencecar menantunya.
“Makanya Rindi perlu belajar ma” rengak Rindi yang masih bersikap keras kepala, dan meminta dukungan dari sang mama.
“Kamu kan bisa pakai mobil dek, bukankah kamu sudah bisa?” timpal Ara kembali
“Rindi pengen motor mbak!!” ucap Rindi makin ketus, namun bibirnya juga mencebik kesal, merasa kakak iparnya sekarang tak mendukung dirinya.
“mas Hafa tak akan pernah mengijikanmu dek, mama juga tak akan mengijinkannya, kalau kakakmu tak menginginkannya” ucap mama tegas, berharap putri bungsunya ini meredakan kekesalannya,
“Mama pilih kasih sekarang?”
“Bukan gitu dek, mama hanya tak ingin kakakmu kembali terpuruk karena traumanya dek”
Deg!!!
‘Trauma? Mas Hafa punya trauma?’
“Maksud mama apa?” tanya Rindi terbata, karena selama ini ia tak mengetahui perihal trauma yang pernah di alami kakaknya.
Mama Hesti yang mendengar pertanyaan putrinya itu langsung menghela nafas dalam, sejujurnya ia tak ingin kembali membicarakan kesedihan yang mereka alami beberapa tahun silam, namun ketidak tahuan anak bungsunya saat kejadian menyedihkan itu membuatnya bersikap keras kepala seperti sekarang ini.
“Ma….” Panggil Ara lirih, tak ingin mama menceritakan peristiwa menyedihkan itu.
“Gapapa Ra, adik mu harus tau”
“Aku harus tau apa ma?” tanya Rindi sekali lagi, ia merasa tercubit kala melihat wajah sedih sang mama, dan juga kakak iparnya tampak murung dengan helaan nafas panjangnya.
“Kamu tau kakakmu Rafif meninggal?” tanya mama membuka cerita masa lalu.
“Hmm…. Kakak meninggal waktu aku masih kecil”
“Kamu tau apa yang menyebabkan kakakmu meninggal?”
Rindi hanya menggelengkan kepalanya, ia tak mengingat kejadian beberapa tahun silam, ia hanya ingat waktu kakaknya meninggal banyak orang ke rumah, dan setiap hari-hari tertentu ia dan keluarganya akan mengunjungi makam kakak keduanya itu.
__ADS_1
“Kakakmu meninggal karena kecelakaan motor”
Deg!!
Rindi seketika merasa sesak dalam dadanya, mengetahui bahwa penyebab kematian kakak keduanya.
“Jadi…”
“Ya.. kakakmu meninggal saat mengendarai motor, kakakmu di tabrak saat berangkat ke sekolah, dan yang menabrak kakak mu waktu itu adalah gadis yang tak mahir mengendari motornya.”
Air mata mama Hesti mengalir deras di kedua pipinya, membuat Ara langsung mendekat dan mendekap sang mama mertua.
“Cukup ma…” pinta Ara dengan pilunya, tak ingin mertuanya semakin sedih saat menceritakan kronologi kejadian yang menimpa putra keduanya.
Ara pun mengajak sang mama ke kamar untuk menenangkan dirinya. Ia pun memapah sang mama perlahan, lalu membantunya untuk duduk bersandar di atas ranjang.
“Mama gak papa Ra” lirih mama yang tak ingin menantunya itu merasa khawatir apalagi kondisinya yang saat ini sedang hamil. Ia tak ingin menantunya merasa terbebani dan menyebabkan stress yang bisa berdampak buruk pada kandungannya.
Setelah beberapa saat mama Hesti meminta menantunya keluar dan melanjutkan makan malamnya. Ia akan beristirahat di kamar saja.
“Lanjutkan makan mu dek” pinta Ara dengan memperlihatkan senyum tipisnya, tak ingin adik iparnya semakin merasa sedih.
“Rindi gak nafsu makan mbak” Rindi masih menundukan kepalanya, “Maafin Rindi mbak”
Ara yang duduk di samping adiknya pun merengkuhnya dan mengusap punggungnya perlahan.
“Udah, gapapa. Jadi kamu sudah tau tau kan? kenapa selama ini mas Hafa larang kamu belajar motor?”
Rindi menganggukan kepala, masih dalam rengkuhan kakak iparnya.
“Bukannya mas Hafa gak sayang kamu dek, tapi mas Hafa sangat menyayangimu, mas Hafa tak ingin kamu mengalami kecelakaan, mas Hafa tak ingin kehilangan mu seperti kehilangan Rafif dek”
Rindi mengangguk mengerti, air matanya luruh begitu saja mengalir di kedua pipinya.
“Kamu ingat saat kita kecelakaan kemarin? Mas Hafa begitu sedih dek, namun di depan kita mas Hafa berpura-pura kuat, ia berjuang setegar mungkin karena harus menjaga kita dek”
Sekali lagi Rindi mengangguk, kemudian melepas rengkuhan kakaknya, ia usap air mata yang mengalir deras di kedua pipinya, sekarang ia mengerti akan kekhawatiran kakaknya.
__ADS_1
“Dan permintaan mu tadi, mungkin mengusik sisi rapuh masmu, jadinya dia mendiamkanmu dek, tapi percayalah, mas Hafa hanya butuh waktu, kondisinya yang lelah harus mendengar permintaanmu membuatnya begitu sensitive dek, rasa sedih dan khawatirnya jadi satu, mungkin karena tak ingin lepas control, mas Hafa lebih memilih mendiamkanmu dek.”
“Maafin Rindi mbak” Rindi terisak di depan kakak iparnya, ia menyadari betapa egoisnya dirinya, betapa tak bersyukurnya dirinya akan limpahan kasih sayang kakaknya. Ia harusnya bersyukur karena selama ini sang kakak begitu menjaganya, bahkan rela mengantarkan ke manapun dia mau, meski tubuhnya sudah lelah kerena menjadi tulang punggung keluarga setelah papa meninggal.
“Kalau kamu mau pergi berangkat kerja sendiri, mbak akan bantu bulang mas Hafa agar kamu berangkat mengemudikan mobil”
Rindi pun menggelengkan kepala dalam isak tangisnya, ia tak ingin lagi membebani sang kakak.
“Udah jangan nangis lagi ya, mbak akan sedih juga nanti, hmmm”
Perlahan Rindi menghentikan tangisannya, lalu Ara pun mengajak membereskan meja makan jika memang adiknya tak ingin makan malam, ia akan menyimpan makanan yang ada agar tak basi dan bisa mereka makan esok hari.
“Rindi mau minta maaf sama mas Hafa mbak” ucap Rindi saat melihat kakaknya menyiapkan piring berisi nasi dan lauk pauk untuk di bawa ke kamar.
“Besok saja, biarkan mas mu menenangkan diri dulu, besok pagi pasti sudah seperti biasanya”
Rindi pun mengangguk dan menurutu apa yang di ucapkan kakak iparnya, setelah meja makan kembali bersih, Ara dan Rindi pun menuju kamar mereka setelah memastikan pintu dan jendela depan terkunci.
Cklek!!
Ara memasuki kamar dengan membawa sepiring makan malam untuk suaminya. Ia melihat suaminya telah duduk bersandar di atas ranjang, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Makan dulu mas” ucap Ara dengan lembut dan duduk di samping sang suami setelah meletakan piringnya di atas nakas.
“Mas gak nafsu dek” jawab Hafa, tangannya meraih tangan sang istri dan mengecupnya perlahan.
“Maafin mas ya sayang”
“ssstt… mas gak ada salah, gak perlu minta maaf” Ara tersenyum manatap suaminya yang saat ini sedang bersedih, “sekarang mas makan ya”
“Kamu sudah makan?” bukannya menjawab Hafa malah berbalik bertanya pada istrinya,
“Gimana Ara mau makan kalau suami Ara tak mau makan, hmmm?”
Hafa pun menghela nafas kemudian mengusap pipi sang istri di lanjut dengan menyentuh pelan ujung hidungnya, “jangan di ulangi lagi ya, kamu harus makan, ingat ada baby di sini yang juga butuh nutrisi dari mamanya” lanjut Hafa dengan mengusap perut sang istri yang sedikit membuncit.
Tbc
__ADS_1