
🌺Happy Reading🌺
Menjelang makan malam kediaman Hafa kini terlihat sepi, hanya tinggal Om Radit beserta anak istrinya yang masih berada di sana, sementara kerabat lain sudah pulang sejak sore tadi.
Setelah menjalankan ibadah maghrib berjamaah dengan sang suami, Ara pun keluar kamar menuju dapur, ia melihat dua wanita paruh baya sedang menyiapkan beberapa hidangan yang di taruh di meja makan.
“Ada yang bisa Ara bantu ma?”
Kedua wanita paruh baya itu pun menoleh dengan menampilkan senyum mereka.
“eh, sudah sayang, kamu panggil suami mu aja, kita makan sama-sama” jawab mama Hesti yang tengah meletakan wadah sop di atas meja.
“iya ma” tanpa protes, Ara pun segera kembali ke kamar dan memanggil suaminya yang ternyata sudah berjalan menuju tangga.
“Kok naik lagi dek?”
“Mau panggil mas buat makan bersama” Ara kini menggandeng lengan sang suami dan bersama-sama menuruni tangga.
“Ya Allah mbak, lama-lama Rindi jadi pengen kalau tiap hari lihat kalian kaya gini, ck” pekik Rindi yang melihat pasangan pengantin baru itu berjalan mesra sembari mengobrol ringan.
“Tutup mata dong dek kalau gitu”
“Ya kali setiap lihat kalian Rindi harus tutup mata, ck”
“ya kalau gitu nikah dong dek” timpal Ara dengan santainya.
Rindi yang mendengar itu segera melototkan matanya, menatap sang kakak yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Aish… mbak Ara ih, Rindi masih kecil, belum boleh tau” Rindi pun mencebikan bibirnya kemudian mengikuti kedua kakaknya yang tengah berjalan menuju ruang makan.
“kata siapa masih kecil? Sudah segedhe gitu kok masih kecil”
“ih… mbak Ara ih” sungut Rindi, dalam hati ingin mengatakan kalau pasti kakaknya tak akan mengijinkannya menikah muda, dan lagi saat ini saja ia tak punya kekasih, siapa yang mau di ajak nikah.
Ara pun terkekeh, kemudian memandang sang suami yang terlihat memandang Rindi dengan tatapan berbeda.
“Makan dulu mas” Ara menggenggam erat tangan sang suami dan mengaja suaminya makan.
“Semoga kamau betah di sini ya Ra” ucap mama Hesti di tengah acara makan malam mereka.
“InsyaAllah ma, suami Ara di sini, insyaAllah Ara juga akan betah di sini ma”
“hmm, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan di rumah ini, sekarangg ini juga rumahmu, jangan sungkan sama mama”
“Iya ma, terimakasih”
__ADS_1
Ara tersenyum menatap mertuanya yang kini mentapnya dengan penuh kehangatan.
“Om dan keluarga besok pagi pulang ya” om Radit mengutarakan jadwal kepulangannya pada semua anggota yang berada di meja makan.
“Iya om, terimakasih atas bantuan om” kini Hafa yang menjawab mewakili keluarganya.
“ini sudah kewajiban om Fa…. Kapan-kapan ajak Ara main ke tempat om”
“Iya om, nanti Hafa ajak ke sana”
Mereka pun kemudian larut dalam obrolan ringan hingga adzan isya berkumandang.
***
Huff
Hafa merebahkan tubuhnya di ranjang setelah membersihkan diri sebelum beranjak tidur.
“Mas capek?” tanya Ara yang kini tengah bersandar di sembari memainkan ponselnya.
“Hmm…. Baru terasa capeknya dek”
“Mau Ara pijit?”
“Ga usah dek, mas tau kamu juga capek” Hafa mengulurkan tangannya meminta sang istri masuk dalam rengkuhannya.
“Besok sepertinya mas harus ke bengkel dek”
“Kok tiba-tiba?”
“tadi sore ada yang info kalau besok ada peralatan yang masuk. Sebenarnya ini sudah mas tunggu dari minggu lalu, tapi baru bisa di kirim”
“Hmm, ya sudah, gapapa mas, mau gimana lagi? Atau ada anak-anak mas yang bisa urus?”
“bisa sebenarnya cuma selama ini pembayaran selalu mas sendiri yang urus”
“hmm,” Ara tersenyum mengusap wajah sang suami yang terlihat lalah. Kepalanya yang ia letakan di atas lengan sang suami membuat ia lebih leluasa memandang pria tampan yang kini jadi suaminya.
Hafa pun menatap wajah sang istri, mengusap pipi lembutnya, kemudian mendaratkan kecupan di keningnya. Ada rasa bahagia yangbegitu membuncah, jantungnya berdegup begitu kencang. Melihat gadis cantik yang telah megusik hatinya kini berada di depannya tanpa jarak, membuat matanya berbinar dengan sejuta makna.
“Boleh mas minta hak mas dek?” tanya Hafa setelah mendaratkan kecupan di bibir sang istri untuk pertama kalinya.
“hmmmm” Ara menatap sang suami dengan tersenyum lembut, ia sadar cepat atau lambat sang suami akan memintanya, dan ia pun tak boleh menolak jika memang kondisinya memungkinkan.
“Boleh?” tanya Hafa lagi meminta persetujuan.
__ADS_1
Ara mengangguk sebagai jawaban, yang membuat Hafa segera mengecup bibri istrinya lagi, dengan penuh kelembutan, dan selanjutnya hal yang Hafa inginkan segera terpenuhi, Ara menyerahkan dirinya seutuhnya untuk sang suami. Sesuatu yang ia jaga selama ini berhasil ia serahkan kepada pria yang telah menghalalkannya. Hingga keduanya terlelap tidur setelah saling memberi dan menerima. Akhirnya keduanya telah menjadi suami istri yang sesungguhnya.
***
Menjelang subuh Hafa bangun terlebih dulu, ia tatap sang istri yang maish terlelap dalam dekapannya. Senyum lebarnya terbit di bibirnya mengingat apa yang mereka lakukan semalam.
“Terimakasih sayang” ungkap Hafa sembari mendaratkan kecupan di kening sang istri.
Hafa pun segera membangunkan sang istri, dan keduanya pun membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah subuh berjamaah.
“Mas jadi ke bengkel hari ini?” tanya Ara saat keduanya sedang merapikan
“Hmm, iya dek, nanti habis antar Rindi mas ke bengkel dulu”
“Ara perlu siapkan bekal ndak?”
“Gak usah, nanti mas usahakan sebelum makan siang sudah pulang. Atau kamu ikut aja Yang” rengek Hafa sembari kembali mendekap sang istri.
“Mas pengen Ara ikut?”
“hmm” Hafa mengangguk sembari bergelayut manja pada sang istri, membuat Ara terkekeh, tak menyangka suaminya akan bersikap manja seperti ini.
“Nanti Ara malah ganggu?”
“Nggak dek, beneran deh, ikut ya, mumpung kamu maish cuti dek… ya,…. Ya”
Sekali lagi Ara terkekeh, kemudian mengangguk setuju. Lagi pula ia akan merasa bosan juga tidak melakukan apapun di sini, sementara suami dan adik iparnya akan pergi bekerja.
“Abis itu ambil motor Ara boleh mas?”
“Ngapain ambil motor dek?”
“Ya buat ke mana-mana sih mas, mas ada motor emangnya di sini?”
“di rumah gak ada, ada di bengkel” jawab Hafa apa adanya, tak ingin menyembunyikan apa yang dimilikinya.
“Really?”
“Iya, selama ini sebenarnya mas punya motor di bengkel, tapi emang gak pernah di bawa pulang takut di pakai Rindi nanti, dari dulu kan dia ngotot banget pengen belajar motor”
“hmmm…. emang kenapa mas kalau belajar motor? Gak ada salahnya juga kan?” jawab Ara sembari mengusap lengan sang suami yang mendekapnya. Memang ia sering mendengar Rindi bercerita kalau sang kakak tak mengijinkannya belajar motor, namun sampai sekarang ia belum tau alasannya.
“ceritanya panjang dek” jawan Hafa dengan nada lesunya.
Tbc
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩
Love you All 😍😍😍