
🌺Happy Reading🌺
Sore harinya keempat orang dalam satu divisi itu pun berjalan beriringan. Mereka keluar dari area kantor menuju tempat parkir bersama-sama.
“Kamu ga di jemput Rin?” tanya bang Ghani yang melihat Rindi ikut berjalan ke tempat parkir motor.
“Rindi nebeng mbak Ara dulu bang, nanti di jemput mas Hafa di resto”
“ohw….”
Setelah beberapa menit, tiga motor keluar dari parkiran dengan Ara yang berada paling depan. Ara mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang dengan Rindi yang membonceng duduk di belakangnya.
“Mas Hafa nanti nyusul beneran mbak?” tanya Rindi saat mereka sudah berada di jalan menuju resto. Pasalnya tadi yang mengatakan Hafa akan menjemput Rindi di resto adalah Ara. Rindi belum menghubungi sang kakak.
“iya dek, nanti mas Hafa ikut makan juga”
“Ohw...”
Jarak resto yang dekat dengan kantor membuat mereka tiba di sana dengan waktu yang cukup singkat.
“Langsung masuk aja bang, Zal, Ara sudah reservasi tempat tadi”
“Oke”
Kedua rekan pria Ara segera memasuki resto setelah menanyakan tempat yang telah Ara reservasi sebelumnya, sedangkan Ara dan Rindi masih berada di meja pemesanan untuk mengkonfirmasi menu dan menyampaikan tambahan menu karena Hafa akan bergabung dengan mereka.
“Mas Hafa ke sini jam berapa mbak?” tanya Rindi saat keduanya berjalan menuju salah satu Gazebo yang akan menjadi tempat mereka makan.
“bentar lagi mungkin sampai”
Rindi mengangguk kemudian bergabung dengan dua rekannya yang tengah duduk menikmati semilir angin sore di Gazebo yang berada di pinggir kolam ikan.
Tak berapa lama kemudian berbagai menu yang di pesan Ara tiba dan di sajikan di meja bundar yang tepat berada di tengah Gazebo.
Setelah memastikan menu yang di pesan telah lengkap, pelayan yang mengantarkan segera meninggalkan meja Ara, bersamaan dengan Hafa yang datang dan langsung menyapa kedua pria rekan Ara maupun Rindi.
Setelahnya Hafa pun langsung duduk di samping Ara setelah menyapa kedua gadis itu dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Silakan di makan bang, Zal, semuanya harus habis ya” ucap Ara saat kedua pria itu menatap berbagai menu dengan penuh binar.
“Siappp… mantap ini mbak, makasih ya” timpal Rizal yang bersiap mengisi makanan dalam piringnya.
Ara pun mulai melayani calon suaminya yang tampak duduk santai di sampingnya, sedangkan Rindi juga telah memulai mengambil makanan untuk mengisi piringnya.
Perlakuan Ara yang menyiapkan makanan Hafa pun tak luput dari pandangan dua pria yang tengah menyuapkan makanan ke mulut mereka, berbeda dengan Rindi yang cuek dengan tingkah keduanya, membiarkan pasangan kekasih yang sudah resmi bertunangan itu mengumbar sikap romantisnya.
“Silakan mas”
“Makasih dek” ucap Hafa lembut dengan senyum tersungging di bibirnya, membuat kedua pria di depannya tersedak hampir bersamaan.
“Kalian….?” Tanya bang Ghani menggantungkan ucapannya melirik sepasang kekasih yang hanya menatapnya dengan senyum tipis mereka.
“hehe,… kenalin bang, Zal, mas Hafa calon suami Ara” ucap Ara akhirnya,
“What’s!!!!”
“Mbak serius?”
Ucap keduanya bersamaan, membuat ketiga orang lainnya tersenyum lebar dengan keterkejutan kedua pria itu.
“Kalian ini ya? bener-bener surprise!!” celetuk bang Ghani lagi lalu melanjutkan makannya.
“Jangankan abang, Rindi aja juga di buat terkejut bang, mau denger cerita Rindi gak?”
“Apa Rin?” bukan bang Ghani yang penasaran, tapi Rizal yang menimpali bertanya.
“Rindi aja taunya mas Hafa kalau mau lamar mbak Ara waktu udah tiba di rumah mbak Ara. Sebelum pergi ke sana Rindi gak di kasih tau apa-apa, cuma di kasih tau kalau mas Hafa mau lamar gadis, eh Rindi kaget banget taunya mbak Ara yang mau di lamar, keterlaluan ga tuh?”
“Gak, kamu pasti heboh nanti kalau tau dari awal” timpal bang Ghani yang memang sudah memahani karakter anak-anak satu divisinya. “Kali ini abang dukung mas mu”
Jawaban yang di lontarkan Bang Ghani membuat Rindi mencebikan bibirnya. Sontak saja mereka terkekeh karena tingkah keduanya.
Kelimanya pun melajutkan makan mereka di selingi dengan obrolan-obrolan ringan yang membuat suasana terasa hangat.
Hingga adzan maghrib berkumandang, kelimanya masih berada di Resto untuk menghabiskan makanan penutup. Merekapun melaksanakan ibadah maghrib berjamaah, setelahnya berpencar untuk pulang ke rumah masin-masing.
__ADS_1
“Mas antar dulu ya dek” ucap Hafa yang begitu mengkhawatirkan calon istrinya yang akan pulang sendirian, terlebih hari sudah malam, kondisi jalan banyak yang gelap.
“Gak usah mas, Ara berani pulang sendiri, lagian Ara nanti mau mampir ke supermarket, mau beli beberapa bahan sayur”
“Emang ga bisa besok aja belanjanya?”
“Besok pagi-pagi ke pasar juga mas, bahan yang belum ada, Ara mau buatin bekal untuk Farhan mas, lusa kan dia sudah berangkat KKN”
“Kalau gitu kita antar mbak dulu juga gapapa mbak” timpal Rindi yang menyimak obrolan sepasang kekasih itu.
“Gak usah dek, mbak sendiri aja, beneran deh, ga akan ada apa-apa, kamu kan tau mbak sering pulang malam juga kan?”
Rindi pun hanya mengangguk mendapat pertanyaan dari calon kakak iparnya, memang benar adanya kalau calon kakak iparnya ini sering pulang malam sendirian apabila kerjaan sedang banyak dan urgent untuk segera di selesaikan.
“Ara pulang duluan ya mas, kalau kita debat gini terus yang ada Ara akan pulang semakin malam, ya? boleh kan?”
Hafa menghela nafas kasar, kemudian mengangguk lalu mengusap pelan kepala calon istrinya.
“Hati-hati dek, kabarin mas kalau sudah sampai rumah”
“Iya, Ara pamit ya, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumusalam” jawab kakak beradik itu dengan menatap Ara yang berjalan menuju motornya terparkir, hingga Ara berbaur di jalan dan tak lagi dalam pandangannya, Hafa baru menaiki mobilnya.
Di saat seperti ini, Hafa benar-benar ingin segera menghalalkan gadis pujaannya, setelah menikah mereka bisa tinggal dalam satu rumah, dirinya tak perlu di lema, saat harus mengantar jemput adiknya, ia pun bisa sekaligus bersama gadis pujaannya. Tak perlu bimbang untuk memilih salah satunya.
Terkendala rumah yang jarak lebih jauh dari rumahnya membuat Hafa begitu mengkhawatirkan gadis pujaannya yang pulang seorang diri, terlebih jalan yang harus di lalui ada beberapa area persawahan yang gelap dan sepi. Meski Ara sudah terbiasa, dan dia adalah gadis yang mandiri, tapi tetap saja sebagai pria yang seharusnya menjaganya, Hafa tetap saja merasa khawatir.
“Mas Hafa tenang aja sih, dulu sebelum kenal dengan mbak Ara, juga ga ada yang antar jemput mbak Ara tuh, mbak Ara baik-baik aja, percaya deh!”
“Ya kan sekarang beda dek, ada mas sekarang”
“Sabar aja sih mas, ga sampai dua bulan, nanti mbak Ara kan tinggal sama kita mas”
Huff
Tbc
__ADS_1
Mohon dukungannya 🤩🤩
Love you All 😍😍😍