It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 50


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Selepas ibadah maghrib, sembari menunggu Hafa pulang dari Masjid, Rindi tampak bergelayut manja pada kakak iparnya, seharian tak bersama di tempat kerja membuatnya merasa ada yang kurang.


“Besok mbak udah masuk sih? sepi tau di ruangan gak ada mbak”


“Masa sih? bukannya kalau gak ada mbak, kalian malah bisa lebih rame ya?


“ck, gak ada yang nemenin Rindi makan siang di ruangan mbak”


“Ya bisa makan di kantin dek, kana da Rizal sih, bekalnya kamu bawa ke kantin dek”


“Tadi Rizal turun ke lapangan mbak, bang Ghani di ajak meeting sama Pak Rusli, jadi Rindi sendirian” keluh Rindi dengan kepala yang masih bersandar di pundak sang kakak, sementara mama Hesti tampak asyik menonton acara TV.


“aduh, kasian sih adik kakak, kan bisa gabung sama divisi lain dek, ruangan cuma sebelahan ini” goda Ara pada adik iparnya yang tampak mencebikan bibirnya.


“Emang gak bisa ya cutinya di batalin kak?”


Ara pun terkekeh, merasa gemas dengan tingkah adik iparnya,


“Sembarangan kalau ngomong, mbak mu cuti kok di suruh batalin aja sih dek, gak kasian sama mas apa?” bukan Ara yang menjawab melainkan Hafa yang baru saja masuk rumah dengan pakaian kokonya.


“haish… ya kan acaranya udah selesai sih mas, bisa dong mbak Ara masuk, mas gak kasian juga sama Rindi?”


“Ini nih, anak kecil” ucap Hafa yang kemudian menyentil kening sang adik yang masih bergelayut manja pada istrinya. “gak ngerti banget yang namanya pengantin baru, ck”


Mama Hesti hanya terkekeh mendengar tingkah kedua anaknya, selalu saja berdebat, tapi kalau yang satu tidak terlihat akan mencari.


“udah sana, ini istri mas, gak boleh peluk-peluk” Hafa menarik sang adik agar menjauh dari istrinya.


“Ih…. Pelit amat sih mas…..”rengek Rindi, yang masih ngotot ingin bermanja pada sang kakak ipar, sementara Hafa segera menghalangi dengan merengkuh sang istri.


“hush,,, hush,.. gak boleh, cuma mas yang boleh peluk”


Rindi pun semakin mencebikan bibirnya, kemudian menoleh kepada sang mama yang duduk di sofa single di samping mereka.


“ma….. mas Hafa jahat ih….” Rengeknya, jurus andalan kalau sang kakak jahil padanya.


“Mas Hafa ternyata jahil ya” lirih Ara sembari mencubit perut sang suami, sementara Hafa hanya terkekeh pelan melihat adiknya yang begitu kesal.

__ADS_1


“Kalian ini, udah pada dewasa kok kaya masih bocah sih” gerutu mama, namun tak urung tersenyum dengan kelakukan mereka.


“udah ah, ayuh makan malam, Ara sudah lapar mas” bujuk Ara agar sang suami segera melepas dekapannya.


Mendengar sang istri tengah kelaparan, Hafa pun segera melepas rangkulannya dan menggandeng sang istri ke ruang makan.


“Mas gak ganti baju dulu?”


“gak usah gapapa. Ayuh katanya sudah laper?”


“Ya mas ganti baju dulu dong, Ara siapin makan mas, mas ganti baju dlu”


***


Ke empat penghuni di kediaman Hafa kini tengah duduk melingkar di meja makan, mereka tampak manikmati makanan yang tersaji di depan mereka.


“Ara mau ijin keluar sama mama boleh mas?” tanya Ara di sela makan mereka.


“Mua ke mana dek?”


“Belanja mas, bahan makanan di kulkas habis, buat besok pagi udah gak ada mas”


“mau belanja di mana?”


“Mas antar aja”


“Rindi juga ikut, masa di tinggal sendiri” Rindi langsung menyahut mendengar pembicaraan mereka.


Setelah selesai makan malam, Ara pun segera kembali ke kamr setelah membersihkan meja makan, ia akan mengambil dompet dan ponselnya untuk keperluan belanja.


“Loh mas, Ara kira nunggu di depan” pekik Ara saat melihat sang suamu masih duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya.


“Mas tunggu kamu dek,”


Ara pun segera membuka lemari, mengambil cardigan serta dompetnya, lalu maraih ponselnya yang berada di atas nakas.


“Ini kamu pegang dek” Hafa yang telah berdiri pun menyodorkan sebuah kartu ke arah sang istri.


“Ini untuk Ara mas?”

__ADS_1


“Hmm.. untuk kebutuhan rumah juga ya dek, keuangan kamu yang pegang.”


“Lalu mas?”


“kalau mas butuh nanti mas minta kamu dek” ucap Hafa dengan santainya, membuat Ara terdiam seolah berpikir,


“Kalau gitu di balik aja mas, kalau mau apa-apa Ara yang minta ke mas aja”


Hafa akhirnya terkekeh mendengar ucapan sang istri, “ya ampun dek, mas makin gemas tau gak?”


“Kamu pegang ya sayang, kartu ini emang buat kamu, nafkah dari mas buat kamu, sama buat kebutuhan rumah juga” lanjut Hafa dengan lembut menjelaskan. “udah, ayuh turun, mama sama Rindi pasti udah nunggu”


Tak ingin mendebat sang suami, Ara pun segera memasukan kartu yang di berikan sang suami ke dalam dompetnya dan segera menggandeng lengan sang suami untuk turun ke bawah menghampiri mama mertua dan adik iparnya.


***


Hafa yang tak mengerti urusan dapur pun hanya mengikuti ketiga wanita kesayangannya sembari mendorong troli di belakang mereka. Rindi yang sebelumnya tak paham dengan semua bahan masakan pun dengan antusias ingin belajar mamasak. Tentu saja mama Hesti sangat senang mendengarnya dan dengan pelan menjelaskan beberapa bahan yang mereka beli.


“Mas ada pengen di masakin apa gitu ndak?” kini mereka berdiri di stand ikan segar, sementara Rindi dan mama Hesti tampak memilih bahan lainnya.


“terserah kamu aja dek, apapun masakan kamu pasti mas makan” ujar Hafa yang memang tak mau ambil pusing dengan berbagai bahan yang ada. Setiap kali mamanya belanja, ia tak pernah meminta ini itu, bahkan kadang ia hanya menunggu sang mama di mobil.


Dengan gesit Ara pun memilih beberapa bahan yang sekiranya cocok dan dan hendak ia masak, kemudian memasukannya dalam troli yang di dorong sang saumi.


Tanpa merasa kesulitan Ara berpindah dari rak satu ke rak yang lain membuat Hafa yang hanya mendorong trolinya menggelengkan kepala, merasa takjub dengan langkah gesit dan cekatan sang istri. Ia pun mengagumi sosok istri yang baru dinikahinya beberapa hari, namun terlihat sangat paham dengan berbagai kebutuhan dapur. Tak hanya doyan jajan tapi kemampuan masak istri memang tak perlu di ragukan.


“Dek, bikinin mas kwetiau bisa?”


“Mas pengen kwetiau?’


Hafa pun mengangguk dengan antusias, kebetulan rak di depan mereka ada berbagai jenis mie yang di kemas dengan berbagai ukuran.


“Bisa, besok malam Ara masakin kalau gitu” Ara pun mengambil beberapa bungkus mie kwetiau dan memasukannya dalam troly, kemudian melangkah mendekati kedua wanita beda usia yang tengah berdiri di depan rak bumbu.


“mama udah belum?”


“sudah nih, kamu sudah selesai?” mama Hesti menolah ke arah troli dan meletkan beberapa botol bumbu yang di pilihnya tadi.


Tbc

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩


Love you All 😍😍😍


__ADS_2