
🌺Happy Reading🌺
“Ya kan belum tentu bisa jadi istrinya mas sekarang” goda mama lagi, “coba kalau dulu Rindi kamu belikan mobil, pasti Rindi berangkat kerja sendiri, dan kamu tak perlu antar jemput Ara, kamu tak akan melihat Ara … mas…..”
Hafa kemudian tersenyum mendengar godaan sang mama. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang ada, mungkin benar adanya kalau ia membelikan adik kendaraan sedari dulu ia tak akan bertemu dengan Ara yang kini menjadi istrinya, namun tak juga mengingkari takdir yang sudah Allah gariskan kalau saja memang Ara jodohnya pasti Allah mempertemukan mereka bagaimanapun caranya. Dan garis takdir mereka di pertemukan melalui hubungan pertemanan Ara dan Rindi yang menjadi satu tim di tempat kerja.
Rasa kesepian yang dulu menghinggapi kini terganti dengan bahagia yang membuncah, kalau dulu selalu selalu fokus dengan kedua wanita kesayangannya kini bertambah dengan wanita lain yang amat di cintainya, di tambah tak lama lagi buah hati mereka yang akan hadir untuk melengkapi kebahagiaan keluarganya.
Hafa pun amat bersyukur dengan kondisi yang sekarang, kalau dulu ia merasa berat untuk membagi setiap masalah yang ada kepada mama atau adiknya, sekarang ia bisa menceritakan masalahnya pada sang istri untuk mencari solusi bersama, dan itu sangat menenangkan dirinya.
Hafa sangat bersyukur mendapatkan jodoh sosok wanita yang begitu hebat, wanita yang begitu mandiri, wanita yang begitu menyayangi keluarga dan yang terpenting selalu bisa mengerti dirinya. Apalagi sebentar lagi sang istri akan memberikannya seorang anak sebagai keturunannya, sungguh kebahagiaan yang tak perlu di dustakan lagi.
Setelah berbicara sebentar dengan sang mama, Hafa pun segera menyusul sang istri di ruang makan. Sementara sang mama menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
“Sudah selesai dek?” tanya Hafa yang melihat piring di depan sang istri telah kosong.
“Sudah mas, tapi lagi makan bakwan? Mas mau?” Ara meminta suaminya untuk duduk di sampingnya, lalu menyodorkan piring berisi bakwan “Enak banget ini”
Terlihat Ara masih begitu menikmati bakwan goreng buatan asisten rumah tangganya.
***
Sore harinya Hafa bersiap menjemput adiknya dengan menggunakan mobil barunya. Ia akan meminta adiknya untuk mengemudi dalam perjalanan pulang nanti, sekaligus memastikan kembali kemampuan mengemudi sang adik.
Tin! Tin!
Hafa membunyikan klakson saat sampai depan gerbang tempat kerja sang adik dan melihat Rindi tengah duduk memainkan ponselnya seorang diri.
Rindi pun mendongak, dan melihat mobil baru berwarna merah berhenti tak jauh darinya, ia pun mengerutkan dahinya, hingga Hafa keluar dari pintu samping kemudi, membuat Rindi semakin merasa heran.
“Mas bawa mobil siapa?” tanya Rindi yang belum paham kepemilikan mobil yang kakaknya bawa, kalau pun itu mobil pelanggan di bengkel, rasanya tak mungkin, karena kakaknya tak pernah menggunakan mobil pelanggan untuk urusan pribadi.
“Masuk aja, kamu yang kemudi”
“Gak ah mas, mobil baru gini, Rindi takut ah” ucap Rindi takut-takut malah membuat mobil yang masih mulus ini lecet karena ulahnya.
“Cepet dek, tuh dah ganggu yang di belakang,” jawab Hafa cepat yang ternyata sudah berdiri di samping pintu penumpang dan bersiap masuk ke dalamnya.
Tin! Tin!
__ADS_1
Tak ingin menganggu akses jalan lebih lama, Rindi pun segera masuk dan mulai mengemudikan mobil berwarna merah itu perlahan menuju jalan ke rumahnya bergabung dengan kendaraan lainnya.
“Ini mobil siapa mas?”
“Nanti kamu juga akan tau” begitu jawab Hafa sembari mengamati cara sang adik mengemudi.
Rindi pun mengerucutkan bibirnya, namun tak mengalihkan fokusnya pada jalanan yang tampak begitu ramai, ia mengemudi dengan hati-hati agar tak membuat mobil merah itu lecet karena ketidak fokusannya.
Tak berapa lama kemudian, mereka memasuki halaman setelah Hafa membuka gerbang depan rumahnya.
Rindi memarkirkan mobil merah itu di depan teras. Kemudian Hafa mendekati mobil yang telah terpakir setelah menutup kembali gerbang depan, bersamaan dengan sang adik yang keluar dari pintu samping kemudi.
“Besok berangkat kerja sendiri ya? pakai ini,”
“Maksud mas apa?” Rindi bertanya gagap, matanya sudah berkaca-kaca, menebak apa jawaban sang kakak, apakah sesuai pikirannya atau tidak.
“Ini mobil kamu”
“mas…” rengek Rindi yang tanpa sadar telah menumpahkan air matanya, 'apa karena ucapannya kemarin kakaknya ini membelikannya mobil, sebagai ganti tak di ijinkan naik motor?' Rasanya sungguh menyesal kamarin bersikap seperti itu pada sang kakak. Ia sungguh merasa tak enak hati.
“Iya, ini mobil kamu, jadi kamu bisa pergi sendiri tanpa mas antar”
“Mas udah gak mau anterin Rindi lagi?” tanya Rindi yang semakin terisak di depan sang kakak.
Hafa yang melihat adiknya semakin terisak pun langsung mendekap adiknya dan berusa menenangkannya,
“Sssstt… kok malah nangis sih? harusnya seneng dong?” goda Hafa pada adiknya.
“Mas masih marah karena ucapan Rindi kemarin ya?”
“Ndak dek…. Udah jangan nangsi lagi dong, malu ih, udah gedhe gini masih aja cengeng” Hafa malah terkekeh melihat tingkah kekanakan adiknya.
“lalu kenapa udah gak mau anterin adek lagi, malah beliin adek mobil”
“Emang kamu gak suka sama mobilnya?” bukannya menjawab Hafa malah berbalik bertanya “gak seneng mas beliin mobil?”
“ya seneng lah” ceplos Rindi membuat membuat Hafa tersenyum semakin lebar.
“Nah tuh… kalau gak seneng, mas balikin lagi ke dealernya”
__ADS_1
“Ih… kok gitu, ya gak bisa gitu dong” pekik Rindi kesal, rasa sedihnya seketika berubah dengan rasa kesal pada sang kakak yang menggodanya.
“Makanya gak usah nangis, kalau gak mau mobilnya di kembalikan lagi”
Dua wanita beda usia yang menyaksikan pembicaraan kedua kakak beradik di teras itu pun tersenyum kemudian saling tatap.
Sementara Rindi mengangguk di depan sang kakak, ia mengusap air matanya yang mengalir di kedua pipinya.
“Besok bisa berangkat kerja sendiri ya?” tanya Hafa lagi
“Hmm…. Makasih ya kak” kini Rindi merangkul erat sang kakak, bersamaan dengan dua wanita beda usia yang sedari tadi memperhatikan, mendekat ke arah mereka.
“Duh senengnya” ucap Ara ikut menggoda adik iparnya.
“Mbak Ara…!!!.” pekik Rindi kemudian beralih merangkul kakak iparnya.
“Makasih ya mbak”
“Makasih juga ma” lanjut Rindi merangkul sang mama.
“Seneng dek?” tanya mama Hesti yang tersenyum kemudian merapikan rambut sang putri yang terlihat sedikit berantakan.
“Heemm…. Seneng mah… apalagi warna mobilnya, Rindi seneng banget”
Ketiganya tersenyum semakin lebar melihat putri bungsu di keluarga Hafa tersenyum bahagia.
“Makasih ya mbak Ara...udah pilih warna merah"
"kok tau kalau mbak yang pilih warnanya?" tanya Ara yang tak mengira sang adik tau kalau dia yang memilih warna.
"Tau lah.... Kalau mas Hafa yang pilih gak mungkin warna ini, paling yang di pilih warna hitam, selera kebanyakan orang tua, lihat aja mobilnya juga hitam, motor kemarin juga hitam"
"eh sembarangan kalau ngomong!" timpal Hafa tak terima "warna hitam itu netral ya, kawula muda juga banyak yang suka warna hitam"
"iya, yang jelas warna ini pasti bukan selera mas, mas kan udah tua"
Ups!!!
Tbc
__ADS_1