
🌺Happy Reading🌺
Mama Hesti segera menemani menantunya dengan menenteng tas berisi perlengkapan persalinan yang sudah di siapkan sang menantu jauh hari sebelumnya, kemudian ia menghubungi putranya yang tengah bekerja.
“Assalamu’alaikum ma” jawab Hafa di seberang sana.
“segera ke rumah sakit Citra Medika ya, Ara mau melahirkan” ucap mama Hesti cepat setelah menjawab salam sang putra.
Deg!
Hafa yang mendengar ucapan sang mama seketika menghentikan aktivitasnya, Ia terpaku di tempatnya. Hafa pun teringat regekan sang istri tadi pagi yang tak mengijinkannya untuk pergi, ia juga sempat mendengar desisan pelan saat dirinya mengecup purut besar sang istri, yang ia ia pikir adalah karena tendangan putranya yang begitu aktif.
‘Ya Allah dek…. Maaflkan mas yang tak menuruti keinginan mu tadi pagi dek’ gumam Hafa dalam hati,
“Mas… ?? Hafa….!!!” Pekik mama Hesti di seberang sana karena sang putra tak kunjung menjawab ucapannya,
“I… iya ma” jawab Hafa dengan gugupnya,
“Cepat ke sini!!”
“Iya ma” jawab Hafa dengan cepat. Setelah menutup panggilan telponnya, ia segera meraih kunci mobilnya yang berada di atas meja dan segera bersiap menuju rumah sakit yang di sebutkan sang mama dalam sambungan telpon tadi.
Seteleh berbicara dengan salah satu karyawan yang menghandle bengkel cabang, Hafa bergegas memacu mobilnya bergabung dengan kendaraan lain di jalan yang masih cukup padat.
Selama perjalanan tak hentinya Hafa berdoa untuk kelancaran sang istri dalam proses melahirkan putranya. Sungguh rasanya begitu gugup, namun Hafa berusaha untuk setenang mungkin agar bisa tetap fokus dalam mengemudikan mobil kesayangannya.
Ia ingin segera sampai di rumah sakit, di mana saat ini istrinya tengah berjuang melahirkan penerusnya.
“Sayang… tunggu mas ya… maaf karena tak menemani mu sejak tadi” gumam Hafa pelan dalam perjalanannya.
Perjalanan dari bengkel menuju rumah sakit terasa begitu lama karena padatnya kendaraan yang memenuhi jalan, membuat Hafa semakin di landa rasa gugup.
Akhirnya setelah 1 jam berkutat di jalan, Hafa bisa memarkirkan kendaraannya di parkiran rumah sakit di mana sang Istri sedang di tangani.
“Ma…!” pekik Hafa memanggil sang mama saat melihat mama Hesti tengah duduk di depan ruang bersalin.
“Gimana kondisi Ara ma?”
“Ara di dalam mas, terakhir tadi masih pembukaan 3, kamu masuk aja”
“Boleh ma?”
“Hmmm, tadi dokternya juga cari kamu sebagai suaminya”
Tanpa bertanya lebih lanjut, Hafa pun masuk ke dalam ruangan yang d tunjuk sang mama. Ia sangat berharap kondisi anak dan istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
Saat memasuki ruangan, terlihat sang istri yang tengah mendesis menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya, membuat Hafa seketika tertegun, ia pun ikut merasa sakit, dan tak tega melihat sang istri yang kesakitan berjuang melahirkan putranya.
“Dek…. Sayang….” Lirih Hafa mendekati sang istri yang tengah berbaring di atas ranjang perawatan.
Ara pun menoleh menatap sang suami yang sudah berkaca-kaaca dengan air mata yang sudah menumpuk di ujung matanya.
“Mas…” lirih Ara, kemudian tersenyum menyambut ayah dari bayi yang di kandungnya.
“Bapak suami ibu Ara?” tanya salah satu perawat yang melihat pria tinggi itu mendekati pasiennya,
Hafa hanya mengangguk, kemudian mengecup kening sang istri yang tengah di penuhi peluh.
Ara pun kini merasa lebih tenang karena sang suami telah berada di sampingnya, ia pun akan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan putranya.
Setelah menahan sakit beberapa jam, akhirnya perjuangan Ara berakhir dengan tangis bahagia kala mendengar tangis pertama putra pertama mereka.
Hafa dengan setia terus memberikan support pada sang istri yang berjuang melahirkan keturunannya.
Air matanya pun ikut menetas melihat perjuangan sang istri, dan juga rasa haru begitu menyeruak kala mendengar putranya lahir dengan kondisi sehat.
“Alhamdulillah…” pekik Hafa lega kemudian mengecup kening sang istri yang basah karena peluh perjuangannya,
“Terimakasih sayang…. Terimakasih karena telah melahirkan anak untuk ku, kamu hebat sayang… terimakasih” ucap Hafa bertubi-tubi pada sang istri yang tengah tersenyum sembari mengatur nafasnya.
Sungguh rasa lega dan bahagia yang ia rasakan tak dapat di uraikan dengan kata-kata, keduanya bersyukur putra yang mereka nantikan selama sembilan bulan telah lahir dengan keadaan sehat, sungguh ini adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan untuk mereka.
“Gimana kondisi istri dan anak kamu mas?” tanya mama Hesti yang telah menunggu dari tadi.
“Alhamdulillah ma, kondisinya mereka sehat”
“Alhamdulillah… cucu mama cowok?”
“Iya mas, Alhamdulillah sesuai hasil USG lalu, anak Hafa cowok ma”
Hafa pun merengkuh sang mama dalam pelukanannya, berkali-kali Hafa melontarkan ucapan maaf karena belum bisa menjadi anak yang cukup baik untuk sang mama, dan juga mengucapkan terimakasih atas perjuangan sang mama dalam melahirkan dan memebesarkannya.
Semua rasa rakit yang sang istri rasakan saat melahirkan putranya membuatnya teringat akan kenakalan dan juga perilaku nya yang membuat sang mama sakit hati dan kecewa, perilaku yang tak pantas di tujukan untuk sang mama yang telah bertaruh nyawa dalam melahirkannya ke dunia, sungguh ia tak akan pernah bisa membalas bagaimana perjuangan sang mama saat melahirkan dan membesarkannya. Tak seharusnya ia membuat sang mama sakit, seharusnya ia menjadi anak yang patuh dan berbakti. Dalam hati ia bertekad untuk memperbaiki sikap dan perilakunya, tak ingin mengecewakan sang mama lagi. Sungguh perjuangan dan pengorbanan seorang ibu tak ada yang bisa menandinginya.
Mama Hesti yang mengerti sikap sang putra pun hanya tersenyum dan menepuk pelan punggung snag putra, baginya putranya sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang luar biasa dan membanggakan dirinya.
***
“Assalamu’alaikum….” Ucap Farhan dengan girangnya saat memasuki ruang rawat inap dimana Ara terbaring dengan mendekap sang putra.
Semua orang yang berada di ruangan pun menoleh dan menjawab salam dari pria dewasa yang kini telah resmi menjadi seorang paman.
__ADS_1
“Widih…. Ponakan om ganteng banget sih” celetuk Farhan saat melihat baby tampan yang kini masih di gendong Ara.
“Iya dong om” timpal Ara mewakali sang putra,
Kedua orang tua Ara yang telah datang sejak satu jam yang lalu tersenyum senang melihat kebahagiaan yang menyelimuti kerluarganya. Kini keduanya telah resmi menjadi seorang kakek dan nenek, status dan panggilan yang sudah lama mereka tunggu.
Farhan pun merasa begitu bahagia kini sang kakak sudah benar-benar hidup dalam kebahagiaan, setelah masa penantian yang cukup berat, dengan berbagai sindirian dan cercaan yang menguras emosi dan menyakiti hatinya, namun kesabaran sang kakak selama ini berbuah manis dengan kehadiran suami yang begitu pengertian dan semakin lengkap dengan kehadiran putra mereka yang menggemaskan.
Tak berapa lama kemudian pekikan girang datang dari wanita ceria yang datang bersama dengan kekasihnya.
“Wih…. Cakepnya….” Kagum Rindi pada sang keponakan yang kini berada dalam gendongan Farhan.
Putra Hafa dan Ara tampak anteng dalam gendongan sang paman, membuat Rindi begitu iri dan ingin juga menggendongnya.
“Dek, gantian dong? Mbak juga pengen gendong” pinta Rindi dengen menyodorkan tangannya.
“Bentar lah mbak, Farhan juga baru saja gandongnya nih”
Jawaban Farhan membuat Rindi mengerucutkan bibirnya karena sebal, membuat semua orang tertawa karena kelakuan mereka berdua.
Kehadiran Farhan yang suka jahil, Rindi yang suka heboh dan ceria seketika meramaikan suasana yang sebelumnya tenang dan damai. Memang kalau mereka berdua dalam lokasi yang sama, suasna pasti akan menjadi lebih heboh dari yang seharusnya.
Mengabaikan mereka berdua, Rizal yang datang bersama dengan Rindi yang kini telah menjadi kekasihnya pun megucapkan selamat kepada mantan rekan kerjanya yang akan menjadi kakak iparnya.
Suasana hangat begitu terasa di ruang perawatan Ara, baby tampan nan menggeamaskan itu pun akhirnya bergantian berpindah dari gendongan satu orang ke orang lainnya, dari kakek, nenek, oma, aunty dan omnya semua berebut untuk menggendongnya. Sementara kedua orang tua baby menggemaskan itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan keluarga mereka.
“Lihat sayang, mereka berebut gitu, sepertinya kita memang harus buat baby lagi agar mereka tak berebut lagi” bisik Hafa pada sang istri dengan cengirannya membuat Ara mencebik kesal.
“Lukanya aja belum kering mas, udah mikir bikin baby lagi”
Hafa pun tertawa kemudian mengecup kening sang istri, ia pun merengkuh sang istri dan mengucapkan banyak terimakasih karena telah memberikan kebahagiaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
“Terimakasih Humairaku…”
"Terimakasih juga suamiku"
Ara pun tersenyum dalam dekapan sang suami, ia pun merasa sangat bersyukur dengan kebahagiaan yang kini ia rasakan. Tak hentinya ia mengucap syukur pada Sang Pencipta atas anugrah yang diberikan padanya.
END
Ye…. Sudah selesai ya cerita mengenai Ara dan Hafa… 🎊🎊🎊
Maafkan kalau ceritanya membosankan dan kurang menarik, semoga othor bisa berkarya lagi dengan cerita yang lebih menarik…🙏🙏🙏
Terimakasih atas semua dukungan yang para reader berikan,🤩🤩🤩
__ADS_1
Terimakasih untuk semua coment nya, maafkan karena tidak saya balas satu persatu, tetapi othor sangat senang dengan semua support dan comentnya.🤗🤗🤗
Love You All…. 😍😍😍