
🌺Happy Reading🌺
Keesokan harinya, Ara terbangun dari tidurnya dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, sepertinya jatuh dari motor kemarin memberikan efek nyeri yang begitu terasa pada tubuhnya. Perlahan ia bangkit dari ranjang dengan tertatih, kaki kanannya begitu terasa nyeri, lututnya terasa sakit untuk di lipat, bahkan untuk berjalan saja rasanya begitu sakit. Ia lihat telapak tangannya yang terluka, terlihat bengkak dengan rasa yang juga begitu nyeri.
“Astaghfirullah, kok sampai gini sih” gumam Ara sembari menahan sakit.
Semalam sebenarnya ia telah merasakan nyeri pada tangan dan kakinya yang terluka tapi tak menyangka efeknya akan sampai seperti saat ini.
“Masa iya harus ijin kerja sih, mana pendingan kerjaan banyak banget lagi” gumam Ara lagi, ia pun berusaha bangkit lagi untuk segera menunaikan ibadah wajibnya. Setelahnya, ia berjalan tertatih ke luar kamar, dan menacari sang mama yang tengah berkutat di dapur.
“Ma…” panggil Ara lirih saat melihat sang mama tengah berdiri sembari mengaduk kopi yang akan di hidangkan untuk papa Ilham.
“Farhan udah bangun belum ma?” lanjutnya sembari duduk karena tak kuat menahan perih di lututnya.
“Udah, itu di depan sama papa, kenapa cari adek?” jawab mama Mira kemudian berbalik menghadap sang putri.
“Astaghfirullah kak, kenapa?” seketika mama Mira terlihat panik karena melihat sang putri merintih kesakitan dengan wajah sedikit pucat.
“sakit ma” keluh Ara sembari menunjuk tangan dan kakinya yang terluka.
“sudah kakak obati lagi belum?”
“Sudah ma, tapi masih sakit, buat gerak sakit”
Tanpa banyak bicara lagi mama Mira pun ke depan memanggil dua pria kesayangannya, dan tak lama kemudian ketiganya datang dengan wajah panik mereka.
“Kakak sakit?” tanya Farhan yang melihat sang kakak bersandar di kursi ruang makan.
“nyeri aja, anterin kakak ke dokter ya,”
“iya kak, ayuh kak”
“hmmm, siap-siap dulu, nanti sekalian anterin kakak berangkat kerja juga”
“Ga ijin kerja aja sih kak, ga usah di paksain kerja” timpal papa Ilham yang begitu khawatir.
“kerjaan Ara banyak pa, kemarin kan habis cuti, sebisa mungkin Ara berangkat dulu pa”
“Ya kasian bandan mu kak”
“Ara coba berangkat dulu deh pa, nanti kalau emang ga kuat, ya Ara ijin pulang lagi”
Papa Ilham pun menghela nafas, mencoba mengerti kemauan sang putri, putrinya ini memang sedikit keras kepala kalau sudah berkemauan, hufff
“Ya sudah, dek, antar kakak pakai mobil, nanti papa ke toko pakai motornya kakak aja”
“iya pa” jawab Farhan kemudian bergegas ke kamar untuk membersihkan dirinya.
Ara pun kembali ke kamar dengan dibantu sang mama, bahkan di siapkan air hangat untuk mandi, setelah mama keluar, Ara pun membersihkan dirinya lalu bersiap dengan perlahan.
“Kak, udah siap?” teriak Farhan dari luar kamar sang kakak dengan gelisah, pasalnya sudah cukup lama kakaknya di dalam kamar, dan ia telah selesai bersiap sedari tadi, tapi kakaknya tak kunjung keluar kamar, membuatnya semakin khawatir. Jam sudah menunjukan hampir pukul 6 tapi kakaknya masih saja belum ada tanda-tanda membuka pintu kamar atau memanggil jika butuh bantuan.
__ADS_1
“hmm, bentar” pekik Ara dari dalam kamar membuat Farhan sedikit merasa lega, setidaknya kakaknya tak pingsan di kamar.
“Kakak butuh bantuan?”
“Ga dek, udah kok” jawab Ara sembari membuka pintu kamar, sembari menenteng tas kerjanya.
“sini adek bawain tasnya.” Farhan pun mengambil tas di tangan sang kakak, lalu dengan sigap membantunya berjalan keluar kamar,
“sarapan dulu?”
“Nanti aja ma, abis dari dokter nanti” jawab Ara masih dalam papahan sang adik.
“ya sudah, hati-hati, kabari mama nanti kalau sudah sampai”
“Iya ma, kami berangkat dulu”
Sepasang paruh baya itu menatap kedua anaknya dengan tatapan penuh khawatir, hanya hembusan nafas panjang dan doa yang ia panjatkan semoga si sulung akan baik-baik saja.
“Kita makan dulu ma, kakak gapapa, efek jatuh kemarin aja jadi badannya sakit kaya gt, lagian lukanya pas di lutut, sendi geraknya dia, jadi ya kaya gitu”
“iya pa, ga biasanya Ara sakit pa, eh sekalinya sakit kaya gitu, mana gara-gara jatuh, dia naik motor dari jaman SMA kan ga pernah jatuh, lah jatuh malah bonceng adiknya”
“hmmm, berdoa saja anak-anak kita akan baik-baik saja, biar jadi pelajaran juga untuk lebih hati-hati ke depannya”
“Iya pa”
***
“Sakit banget ya kak?” tanya Farhan saat melihat sang kakak sesekali meringis kesakitan.
“Udah mendingan dek, tadi abis mandi air anget lebih enakan badannya, cuma nyeri aja di lutut sama tangan kalau di gerakin”
“Maaf ya kak, gara-gara adek kakak jadi sakit kaya gini”
“gapap dek, bukan sepenuhnya salam kamu juga, emang ayamnya aja tuh yang lagi pengen ngajak main” ucap Ara sembari tertawa pelan, mengingat kejadian yang menimpanya kemarin.
“ya kalau aja adek hati-hati kan mungkin ga sampai kaya gini kak”
“udah, ga usah di bahas lagi, jadiin pelajaran aja ke depannya lebih hati-hati lagi.”
“Iya kak” Farhan pun mengangguk pelan, meskipun rasa bersalah itu masih bersemayam dalam hatinya.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang Farhan kemudikan memasuki halaman klinik yang terlihat ramai.
“Wih, antrinya banyak bener” celetuk Ara saat melihat beberapa motor terparkir di halaman, dan terlihat beberapa orang masih berada di teras menunggu atrian di panggil sesuai nomor urut mereka.
“Iya, kakak di mobil dulu aja, adek ambilkan nomor antrian dan lihat tempat duduk di dalam ada yang kosong atau tidak”
“Hmm, ya sudah sana,”
Drrt…drrtt…
__ADS_1
Baru saja sang adik turun dari mobil ponsel di dalam tas Ara bergetar ada notifikasi pesan masuk di aplikasi chatnya.
‘Assalamu’alaikum dek…'
'udah siap berangkat kerja belum nih? '
'jangan lupa sarapan dulu ya'
'hati-hati kalau berangkat kerja’
Ara tersenyum membaca pesan yang baru saja masuk, ada rasa hangat yang masuk menggelitik hatinya, tak dapat di pungkiri hatinya merasa bahagia mendapatkan perhatian dari seseorang yang ia menyayanginya.
^^^'wa’alaikumusalam mas'^^^
^^^'Ara udah siap mas,'^^^
^^^'sarapan nanti mas'^^^
^^^'Ara lagi di klinik ini’'^^^
Secepat kilat pesan yang Ara kirimkan langsung terbaca, dan ponsel Ara pun bergetar dan menampilkan nama Hafa tertera di layar.
“Iya mas” jawab Ara
“Siapa yang sakit dek?”
“Ara mas, luka habis jatuh kemarin nyeri mas, tadi bangun juga badan Ara sakit semua”
“di klinik mana? Mas ke sana ya?”
“ga usah mas, abis dari klinik Ara langsung ke kantor kok”
“kok ga di pakai istirahat dulu sih?”
“Kerjaan udah numpuk mas, Ara masih bisa kok”
“kasian badannya dek, jangan di paksain kalau emang lagi sakit, buat istirahat dulu”
“iya mas, nanti kalau Ara ga kuat baru ijin pulang”
“hmmm,…” Hafa pun gemas sendiri dengan jawaban keras kepala dari gadis pujaan hatinya “sekarang di klinik mana? Sama siapa?”
“sama Farhan, itu lagi ambil nomor antrian”
“Di klinik mana dek?” ucap Hafa ikut keras kepala
“deket rumah mas, ga usah ke sini mas, Ara gapapa kok. Emang nya mas ga antar Rindi kerja”
“Dek….”
Tbc
__ADS_1