
🌺Happy Reading🌺
Keesokan harinya, saat semua anggota tengah menikmati sarapan, terdengar salam dari luar membuat Hafa yang mengenal suara itu segera menghentikan makannya dan keluar ke arah pintu depan.
“Kamu sudah datang Dim?”
“Iya mas, maaf baru sempat antar, kemarin habis dari bengkel saya langsung antar ibu ke tempat saudara, jadi tak sempat kemari”
“Oke gapapa. Masuk dulu” tanpa mendengar jawaban lain Hafa pun melangkah terlebih dulu ke dalam dan mengajak Dimas ke ruang makan untuk sarapan bersama.
“Tumben mas Dimas mampir ke sini pagi-pagi?” celetuk Rindi setelah mengetahui tamu yang datang adalah karyawan sang kakak.
“iya, anterin motor mas Hafa Rin” jawab Dimas setelah menyapa mama Hesti dan Ara.
“Mas Hafa beli motor?” pekik Rindi girang dengan mata penuh binar.
“ndak, itu motor sudah lama, selama ini mas taruh bengkel” jawab Hafa dengan santainya kemudian melanjutkan sarapannya.
“Ah .... yes!!!” pekik Rindi lagi, lalu menatap kakak iparnya “berarti Rindi boleh belajar naik motor?”
“No!! tetep gak boleh, motornya cuma buat keperluan mendesak aja, biar di pakai mbak mu”
Sontak saja Rindi mengerucutkan bibirnya, kesal dengan jawaban sang kakak, ‘udah ada motornya masih aja gak di bolehin sih?’
“Selama mas masih bisa antar, kamu dan mbak Ara akan mas antar” lanjut Hafa yang melihat adiknya tampak kesal, sementara Ara hanya tersenyum melihat adik iparnya.
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka, kemudian Hafa beranjak mengantarkan sang adik, sekaligus ke bengkel untuk mengantar Dimas yang tadi mengantarkan motornya.
Sementara Ara di rumah untuk menemani sang mertua dan beberes rumah. Tak berapa lama kemudian Mbak Tuti juga datang, jadilah mereka bertiga bekerjasama membersihkan rumah, kemudian memasak bersama untuk makan siang.
“Mas, Ara mau ijin pulang ke rumah papa mama, ambil barang Ara mas” ucap Ara setelah mereka menyantap makan siang.
“Kemarin belum semua nya dek?”
“Belum mas, Ara pikir nanti bisa berangsur bawanya, lagian juga rumah masih bisa di jangkau, jadi gak Ara bawa semua”
“Mau pulang sekarang? Atau besok aja?”
__ADS_1
“kalau mas gak capek sekarang juga boleh mas”
“di rumah ada orang?”
“Farhan di rumah, tadi Ara sudah tanya”
Hafa pun mengangguk, kemudian bersiap mengantarkan sang istri ke rumah orang tuanya.
***
“Assalamu’alaikum!!” pekik Ara saat memasuki rumah yang tampak sepi,
“Wa’alaikumusalam” jawab Farhan yang kini berada di depan TV.
“Amoy!!!” pekik Ara girang karena kucing kesayangannya itu berlari mendekat untuk menyambutnya.
“Haish… tau aja yang punya pulang, aku jadi di cuekin” gerutu Farhan yang di tinggalkan kucing gendut berwarna hitam dan putih itu.
Kucing menggemaskan itu mengeong dan minta di elus, membuat Ara begitu gemas dan menggendongnya sembari mendekati sang adik yang baru saja berdiri setelah bermain dengan kucing kesayangannya.
Farhan pun menyalami kakak dan kakak iparnya, kemudian ketiganya duduk di sofa yang menghadap televisi.
“Gak mas, laporan KKN udah adek kumpul kemarin, hari ini gak ada kegiatan.”
“Mas…Amoy boleh Ara bawa gak?” pekik Ara menyela kedua pria kesayangannya yang tengah asyik mengobrol.
“Eh,.. eh… jangan di bawa amoy nya,” belum juga Hafa menjawab, Farhan langsung menimpali tak mengijinkan kucingnya di bawa.
“Kenapa?”
“Nanti gak ada yang nemenein adek, lagian papa juga gak akan bolehin, tiap malam aja si Amoy di gendong kalau habis pulang dari Toko”
Farhan menceritakan mengenai kucing kesayangan sang kakak selama di tinggal setelah menikah, dan ikut ke rumah suaminya.
“Yah… kagen dong nanti” Ara tampak lesu, sementara Si Amoy tampak tertidur nyaman di pangkuan Ara. Sudah kangen sepertinya, hingga begitu nyaman dan tertidur pulas.
Hafa pun terkekeh pelan, ia pun merasa gemas dengan kucing yang istrinya pangku, namun dirinya sendiri merasa khawatir nanti bisa merawatnya atau tidak, meski ada Ara yang akan merawat, namun saat di tinggal kerja, mamanya pasti akan kerepotan mengurusnya.
__ADS_1
“Kalau kangen nanti kita ke sini dek” tutur Hafa dengan lembut, agar istrinya tak semakin bersedih.
Ara pun mengangguk. Kemudian ketiganya larut dalm obrolan random, sebelum Ara mengemas beberapa barang yang akan dia bawa ke rumah suaminya.
“Mas, mampir ke Toko dulu ya, nemuin papa mama” kini keduanya berada di kamar Ara dan bersiap untuk keluar dari kamar, dengan beberpa barang yang akan mereka bawa.
“Hmm, boleh, ajak Farhan sekalian dek”
Tak lama kemudian ketiganya berada dalam satu mobil dalam perjalanan ke Toko milik orang tua Ara. Sesampai nya mereka di sana, Hafa hanya memarkirkan kendaraannya di halaman toko.
“Aduh…. Cie… pengantin baru nih” goda salah satu karyawan yang melihat Ara masuk beserta suami dan adiknya.
Suasana Toko tampak lengang membuat mereka tak sungkan untuk menggoda. Setelah berbasa-basi dengan karyawan toko, Ara menyusul suami dan adiknya yang lebih dulu masuk ke ruangan sang papa.
Keempat orang berbeda usia itu tampak mengobrol santai, saat Ara memasuki ruangan yang tak begitu besar itu. Papa Ilham tampak senang mengobrol dengan menantunya, sementara Farham sesekali menimpali.
“Oh ya kak, motormu mu gak kamu bawa ke rumah suamimu?” tanya papa Ilham di sela obrolan mereka, setelah teringat kendaraan yang biasa anak sulungnya pakai untuk bekerja masih berada di rumah.
“Gak pa, biarkan motornya di rumah saja, di rumah sudah ada motor mas Hafa”
Papa Ilham hanya mengagguk, “lagian mas Hafa gak ijinin Ara berangkat kerja sendiri pa, mas Hafa akan antar jemput Ara” lanjut Ara menjelaskan perihal ijin dari suaminya.
“wih, mantap…. “ sahut Farhan yang merasa senang karena sekarang kakak semata wayangnya ada yang akan selalu menjaganya.
“ya sudah kalau gitu. Lebih aman juga” timpal papa menyetujui
Setelah cukup lama mengobrol Ara pun mengajak suaminya untuk keluar, jika berada di Toko Ara tak akan melewatkan untuk membeli makanan yang di jual di sekitar Toko. Minimal satu jenis makanan pasti akan di beli.
Farhan pun mengikuti kedua kakaknya. Hafa yang melihat kedua kakak beradik itu hanya tersenyum menggelengkan kepala,
“bener-bener pasangan kakak adik yang kompak ya kalian ini?” gumam Hafa saat melihat Ara dan Farhan tampak antusias memesan makanan.
“Kompak kenapa mas?” tanya Ara yang mendengar gumaman sang suami.
“Kalian ini bener kompak kalau soal jajan, makanan, gak ada beda sama sekali”
Ara pun terkekeh mendengar celetukan suaminya, kemudian mengajaknya duduk setelah selesai memesan makanan yang akan mereka santap.
__ADS_1
“Habis ini langsung jemput Rindi ya dek”
Tbc