
🌺Happy Reading🌺
“Oh ya mas, acara keluarga besok minggu di tempat budhe Nita di alihin ke rumah, kata mama sekalian syukuran wisudanya Farhan”
“iya, papa tadi juga bilang rencananya mau gitu”
“kita nginep di rumah papa sampai habis acara boleh?”
“Boleh, nanti kita bantu persiapan acara juga dek, cuma ingat!! Kamu jangan sampai kecapekan”
“iya mas, Ara akan istirahat kalau sudah capek, lagian anak mas ini pinter banget jagain mamanya, bikin mamanya jadi tukang tidur” ucap Ara di akhiri dengan kekehan sembari mengusap perutnya.
“Karena dedek tau, kalau mamanya gak mau diem, mesti aja ada yang di urusin, ya kan dek?” ucap Hafa seraya mengecup perut sang istri yang membuat Ara semakin terkekeh.
Hingga siang hari keduanya masih berada di gazebo tempat mereka duduk hingga satu persatu para wisudawan keluar dari ruang aula, yang menunjukan bahwa rangkaian acara telah selesai.
Mereka kembali berkumpul dan melakukan foto bersama dengan fotografer yang Hafa sewa kemarin khusus untuk acara sepesial adik iparnya. Mereka ingin mengabadikan momen special ini agar bisa di lihat sewaktu-waktu untuk mengenang momen yang begitu penting hari ini.
Keluarga Farhan pun menemui beberapa teman Farhan yang ikut wisuda hari ini beserta keluarganya, tak lupa mereka saling mengucapkan selamat dan juga mengambil foto bersama untuk kenang-kenangan.
Setelah puas dengan mengambil foto mereka, Hafa mengajak mertua dan adik iparnya menuju salah satu restoran yang tak jauh dari kampus. Kemarin dirinya sudah melakukan reservasi meja untuk keluarga untuk perayaan sang adik yang telah menyelesaikan pendidikannya.
“Wih, mantap nih!” celetuk Farhan yang melihat berbagai menu yang telah di pesan kakaknya untuk makan siang kali ini. “Makasih banyak kak, mas”
Kelimanya begitu menikmati berbagai menu yang tersaji, dan jangan lupakan bumil cantik yang berada di tengah mereka. Ia tak sungkan untuk mencicipi semua menu, dan juga memakan dalam jumlah yang cukup banyak.
Hafa dengan penuh perhatian mengambilkan dan menyuapi sang istri agar makan dengan lahap, namun sesekali ia juga menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Habis ini rencana mau kemana dek?” tanya Ara di sela acara makan mereka.
“kerja lah kak, Adek udah di terima kerja di tempat magang kemarin”
“Oh ya? Alhamdulillah… kok gak bilang sih?” celetuk Ara girang. Pasalnya tempat magang adiknya kemarin merupakan salah satu perusahan besar, bahkan lebih besar di banding tempat kerjanya dulu.
Sungguh rasanya begitu bangga dengan pencapaian sang adik. Adik kecilnya kini telah menjelma menjadi pria yang begitu tampan dengan sederet prestasi yang membanganggakan keluarganya.
“Mau bikin surprise kak, adek juga baru tau kemarin, dan senin depan adek udah bisa masuk kerja” jawab Farhan dengan cengiran khasnya.
__ADS_1
“Alhamdulillah” pekik Ara dan Hafa bersamaan, sementara kedua orang tau mereka hanya tersenyum bahagia sudah mengetahui kabar gembira ini, karena kemarin setelah menerima pemberitahuan Farhan langsung memberitahukan kedua orang tuanya.
***
Selama beberapa hari Ara dan Hafa menginap di kediaman papa Ilham, hingga tiba pada hari Minggu semua keluarga besar dari papa Ilham berkumpul di rumah papa Ilham dalam agenda rutin mereka, sekaligus acara syukuran wisuda putra bungsunya.
Rindi dan mama Hesti juga tampak ikut berkumpul dan berbaur dengan keluarga besar Ara, beberapa keluarga dari pihak mama Mira pun juga hadir di sana.
Semua tampak berbaur dan bercengkrama dengan ramah, bahkan teriakan anak-anak yang bermain juga terdengar di rumah papa Ilham yang cukup penuh dengan orang-orang yang duduk di sana.
Farhan yang menjadi bintang utama pun berbaur dengan para sepupunya, sementara Ara tampak duduk dengan mengusap perut buncitnya di temani Rindi, adik iparnya.
“mbak capek?” tanya Rindi yang melihat kaka iparnya itu tampak pucat dan terlihat snagat lelah.
Keduanya duduk terpisah dari anggota keluarga lain, yang berada di depan, sementara mereka berdua berada di ruang makan.
“lemes aja dek, sedari tadi berdiri dan jalan ke sana kemari”
“Rindi panggilin mas Hafa ya?”
Ara mengangguk pelan, “panggilin aja ke sini dek, gak usah bilang apa-apa”
“Mas… di panggil mbak Ara” ucap Rindi pelan di samping sang kakak,
Hafa pun menoleh dan langsung berdiri mendengar nama sang istri yang di sebut adiknya, kemudian ia pun berpamitan pada para sepupu iparnya untuk menemui istrinya terlebih dulu.
“Mbak mu kenapa dek?” tanya Hafa dengan nada khawatir saat melangkahkan kakinya mengikuti Rindi yang sudah berjalan terlebih dulu ke ruang makan.
“Lihat aja sendiri mas, Rindi hanya di minta mbak Ara panggil mas Hafa aja”
Tak ingin membuang waktu, Hafa pun melangkah cepat untuk menemui istrinya, dan benar saja rasa kahwatirnya terjawab dengan kondisi Ara saat ini.
Tampak Ara yang memejamkan matanya sembari duduk bersandar, tangan kanannya mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit.
“Dek…” panggil Hafa pelan, membuat Ara membuka matanya. Manik hitam Ara memandang sang suami yang terlihat khawatir,
“kenapa sayang? Hmmm?” tanya Hafa yang kini berjongkok di depan sang istri sembari mengusap perut buncitnya.
__ADS_1
“capek, pengen tidur” rengek Ara pelan,
“Kita istirahat di kamar ya, mas temenin”
Ara mengangguk dengan wajah lemasnya, sementara Hafa tersenyum gemas. Ara semenjak tadi ingin istirahat dengan mendekap suaminya, maka dari itu tawaran dari sang suami langsung di setujui, sungguh suami yang begitu pengertian.
Keduanya pun bangkit dari posisi mereka, dan berdiri untuk melangkah meninggalkan ruang makan.
“Kalau ada yang cari, bilang aja kami istiahat gitu ya dek” ucap Hafa yang kini telah merangkul sang istri dan bersiap untuk memapahnya.
“Iya mas” ucap Rindi patuh tanpa membantah, ia juga tak tega melihat kakak iparnya terlihat begitu lelah.
Setelah keduanya sampai di kamar, Ara langsung membaringkan tubuhnya dan meminta sang suami untuk mendekapnya. Ia menghirup aroma tubuh yang suami yang membuatnya begitu merasa nyaman.
“Capek banget sayang?” tanya Ara pelan sembari mengusap pelan rambut panjang sang istri.
“Hmmm” jawab Ara dengan memejamkan matanya,
“tidur kalau gitu, tadi sudah makan kan?”
“Sudah banyak” jawab Ara pelan, masih dengan mata yang enggan untuk terbuka.
Kecupan sayang yang begitu lama Hafa daratkan di kening sang istri sebagai penghantar tidurnya. Ia pun terus mendekap sang istri dan sesekali mengusap surai hitamnya.
Berkali-kali Hafa bersyukur dengan anugrah yang Tuhan berikan untuknya, istri yang begitu baik, yang kini begitu manja dengannya, dan tak bisa jauh darinya.
“Sehat-sehat di dalam perut mama ya sayang, papa menunggu kamu di sini dek” gumam Hafa yang kini beralih mengusap perut sang istri.
“Ya Allah,, berikan kesehatan untuk anak dan istri hamba ya Allah, mudahkanlah istri hamda dalam mengandung anak kami, aamiin”
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
Mohon maaf baru update kembali 🙏🙏🙏
Mohon dukunganya 🤩🤩🤩
__ADS_1
Love you all 😍😍😍