
🌺Happy Reading🌺
Jika di ruang makan Ara dan mama Hesti berbincang sekaligus menikmati cemilan sebelum sarapan dengan menu utama di ruang makan. Berbeda di lantai dua rumah, tepatnya di kamar Hafa, Rindi tampak menunduk takut pada sang kakak yang duduk di sisi ranjang.
“Kenapa dek?” tanya Hafa yang tak kunjug mendengar suara adiknnya setelah meminta ijin masuk.
“em…. Rindi…. Rindi ingin minta maaf mas,” ucap Rindi akhirnya, ia pun memainkan jari-jarinya yang ia silangkan di depan perutnya, dengan tatapan yang masih menunduk, tak berani menatap sang kakak.
“Maafkan Rindi kemarin mas, gak seharusnya Rindi berkata dan bersikap seperti itu sama kakak”
“Hmmm” jawab Hafa dengan menahan tawa melihat tangkah adiknya yang menurutnya begitu lucu, apalagi dengan rambut yang masih berantakan dengan muka yang begitu kusut dan jangan lupakan lingkar mata hitamnya. Merasa kasihan sebenarnya, tapi ia ingin menggoda adik bungsunya itu.
“Rindi bener-bener minta maaf mas, Rindi gak akan ulangin lagi”
“Kamu yakin?” tanya Hafa masih dengan nada dinginnya?’
“Iya mas, Rindi janji gak akan ulangin lagi, Rindi gak akan minta di ajarin naik motor lagi”
Wajah cantik itu perlahan semakin terlihat acak-acakan, tanpa bisa di tahan, air mata yang sedari tadi ingin ia tahan akhirnya tak terbendung lagi dan mengalir di kedua pipi mulusnya, membuat Hafa yang melihatnya semakin merasa tak tega.
Hafa pun bangkit dari duduknya kemudian merengkuh adik bungsunya dalam dekapannya, yang membuat Rindi semakin terisak.
“Sssst…. Mas udah maafin kamu dek… udah gak usah nangis lagi” lirih Hafa mengeratkan dekapan pada adiknya.
“Mafin Rindi mas” ucap Rindi lirih dalam dekapan sang kakak.
Ia sangat menyayangi kakak sulungnya ini. Hafa adalah sosok kakak yang penuh perhatian dan bertanggung jawab penuh pada keluarga, tempatnya bersandar setelah kematian sang papa. Kakaknya ini selalu mendukung dan melindinginya. Ia pun semakin terisak mengingat sikap tak baiknya kemarin, Ia amat menyesali akan sikap dan ucapannya, seolah taka da rasa terimakasih karena kasih sayang sang kakak selama ini, padahal hanya karena masalah sepele. ia pun tak mengerti kenapa kemarin ia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya, bahkan membuat kakak dan mamanya merasa sedih.
“udah ya, jangan nangis lagi, nanti adik cantik kakak ini tak cantik lagi, hmmm”
Hafa melepaskan rengkuhannya, kemudian mengusap air mata di kedua pipi adiknya. Hafa pun tersenyum melihat wajah adiknya yang memerah, karena isak tangisnya.
“udah segedhe gini masih aja cengeng sih” lanjut Hafa sembari memencet hidung adiknya yang terlihat menggemaskan karena berwarna merah, seperti badut pikirnya.
“Ih mas… “ rengek Rindi lalu mengusap hidungnya, ia pun kembali mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
“Udah, sana mandi, gak usah mikir macem-macem, nanti si Rizal gak jadi naksir kamu lagi” goda Hafa yang ia yakini kalau sang adik belum mandi karena masih terlihat berantakan.
__ADS_1
“mas….!!!” Rasa sedihnya tadi kini berganti rasa kesal karena kakaknya malah menggoda dirinya.
“apa?! Gak mau ngaku kalau udah deket sama Rizal?”
“Mas Hafa rese ih!” kesal Rindi lalu menghentakan kakinya sebelum meninggalkan kamar sang kakak, sementara Hafa terkekeh melihat tingkah adiknya yang masih kekanakan itu.
Huff…
Hafa menghela nafas kemudian melangkah keluar kamar untuk menyusul istrinya yang ia yakini tengah berada di dapur.
“Asyik banget sih” celetuk Hafa saat melihat kedua wanita kesayangannya tampak asyik mengobrol dengan menikmati tempe mendoaan dan juga sepotong brownies di depan mereka.
“Hmmmm…. Mas udah mandi?” tanya Ara yang kemudian bangkit saat melihat suaminya mengecup pipi sang mama sebagai sapaan paginya.
“Udah sayang” jawab Hafa lalu duduk di samping tempat duduk sang istri.
Ara pun segera menghidangkan teh yang baru saja ia seduh, kemudian memberikan potongan brownies yang belum ia makan di depan suaminya.
“Rindi mana mas?”
“Sudah ke kamarnya, kusut banget tuh mukanya, mas suruh dia mandi” jawab Hafa setelah meneguk tah hangat buatan istrinya, selalu terasa nikmat dengan rasa manis yang pas.
“sama Ara?”
Hafa hanya mengangguk, “mau kemana?”
“ke Dealer ma, lihat mobil yang cocok buat Rindi” ucap Hafa pelan,
Mama Hesti yang mengerti maksud dari ucapan putranya itu hanya mengangguk, “jangan sampai istrimu kelelahan nanti”
“Iya ma, Hafa akan jaga istri Hafa”
Mama Hesti kini mengangguk, “jangan siang-siang nanti, pagi saja kalian berangkatnya”
“Mungkin jam 9 atau jam 10an ma, Hafa antar Rindi dulu”
Sekali lagi mama mengangguk, kemudian mereka melanjutkan obrolan ringan sembari menunggu putri bungsunya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Rindi masuk ke ruang makan dengan pakaian rapi dan juga tas kerjanya.
Ia pun menghampiri sang mama dan merangkulnya dari samping.
“Maafkan Rindi semalam ya ma” ucap Rindi yang masih enggan melepaskan rangkulannya, ia pun menyandarkan kepalanya di pundak sang mama.
Usapan lembut ia rasakan di lengannya berasal dari tangan kuat yang selama masa kecil selalu menggendongnya, dan hingga kini selalu memberikan kenyamanan dengan usapan lembutnya.
“iya sayang, sudah duduk, kita sarapan bersama-sama, nanti kamu telat kalau gak segera sarapan”
“Makasih ma” ucap Rindi kemudian mengecup pipi sang mama sebelum melepas rangkulannya.
***
Setelah mengantarkan adiknya, Hafa tak pergi ke bengkel seperti biasanya. Kini ia melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah, untuk menjemput sang istri.
“Assalamu’alaikum” ucapnya saat memasuki rumah,
“Wa’alaikumusalam… loh mas Hafa kok balik lagi? Biasanya langsung kerja kalau habis antar mbak Rindi?” tanya mbak Tuti yang merasa heran karena majikannya kembali ke rumah, apalagi masih pagi seperti ini.
“Iya mbak, mau pergi sama istri”
Mbak Tuti hanya ber oh ria, kemudian melanjutkan untuk membersihkan area ruang tamu, sementara Hafa langsung menuju kamarnya.
Cklek!!
Pintu kamar terbuka membuat Ara yang tengah merapikan rambutnya di depan meja rias seketika menoleh ke arah pintu.
“Mas sudah pulang?” ucap Ara meletakan sisirnya kemudian mendekati sang suami yang juga berjalan ke arahnya.
“hmm.. kamu cantik banget sih dek” ucap Hafa gemas dengan kecantikan istrinya yang telah selesai berdandan. Meski hanya make up tipis, namun membuatnya begitu cantik mempesona dan jangan lupakan wajahnya yang masih terlihat seperti anak ABG, membuat Hafa berdecak kagum setiap melihat istrinya berdandan.
“Kan mau pergi sama suami, ya harus cantik dong” goda Ara dengan senyum manisnya membuat Hafa langsung merengkuhnya erat.
“Kalau lagi mau jalan gini kadang mas itu minder tau dek, kamu kelihatan muda banget, mas yang ketuaan, dikira kita bukannya suami istri, malah kaya bapak anak”
Ara terkekeh mendengar celetukan suaminya, “mas aja yang merasa gitu, Ara gak merasa tuh, suami aku itu cakep, dan gak terlihat tua kok”
__ADS_1
Tbc