It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 73


__ADS_3

đŸŒșHappy ReadingđŸŒș


Hari masih siang, namun sebentar lagi adzan ashar akan berkumandang, namun Hafa terlihat enggan untuk membuka matanya. Begitu pun Ara yang terlihat enggan untuk bangun dari posisi nyamannya. Dekapan suaminya adalah tempat ternyamannya, ada rasa hangat dan merasa terlindungi saat berada dalam rengkuhan sang suami.


“Mas
” panggil Ara sekali lagi.


“hmmm
” sekali lagi Hafa hanya membalas dengan gumaman saat istrinya memanggilnya.


“Mas..” panggil Ara lagi sembari mengusap dada sang suami dengan gerakan pola acak.


“hmmm”


“Mas
”


“Kenapa sayang?” tanya Hafa akhirnya setelah Ara kembali memanggilnya.


“Ara lapar”


Seketika Hafa membuka matanya dan menatap manik hitam sang istri yang kini menatapnya.


“Kamu pengen makan dek?”


Ara mengangguk dengan wajah memelas, perutnya sudah terasa lapar lagi, minta segera di isi, namun ia begitu malas untuk beranjak dari tempat tidurnya.


“Bangun kalau gitu, ayuh kita ke dapur, lihat mbak Tuti masak apa”


Ucap Hafa lembut kemudian berusaha untuk bangun dari tidurnya, namun Ara masih saja memeluknya erat.


“Dek.. bangun sayang, katanya laper”


“Ara males bangun” rengek Ara begitu manja, membuat Hafa menghela nafas panjang.


Ara yang biasanya rajin, semenjak hamil terlihat sedikit malas, dan juga lebih banyak tidur, belum lagi moodnya yang terkadang seperti roller coster membuat Hafa harus ekstra sabar menghadapinya.


“Kalau gak bangun gimana makannya? Hmm?” bujuk Hafa dengan lembut berharap istrinya segera bangkit dari posisi merengkuhnya.


Ara pun masih merengek untuk bangun, namun Hafa kembali membujuknya, dan setelah beberapa kali bujukan akhirnya Ara mau bangkit dari tidurnya.


Keduanya segera mencuci muka, kemudian beranjak menuju dapur di mana stock makanan berada.


“Mbak Tuti lagi apa?” tanya Hafa yang melihat asisten rumah tangganya itu tampak sibuk di dapur dengan beberapa gelas yang masih kosong di depannya.


“Oh... buatin minum orang dealer mas, kata ibu, mas Hafa beli mobil ya? itu mobilnya udah di anterin”

__ADS_1


“Oh, udah datang ya?”


“Iya mas, baru saja”


“mas
.” Rengek Ara memotong obrolan suami dan asisten rumah tangganya, ia ingin segera makan.


“Iya sayang
 sebentar
. Mbak Tuti tadi masak apa?”


“Sayur lodeh sama ayam goreng mas”


“Mau dek?” tanya Hafa pada sang istri yang masih bergelayut manja di lengannya.


Ara hanya mengangguk, tanda ia mau makan dengan menu yang baru saja di sebutkan mbak Tuti.


“Kamu duduk dulu, mas ambilkan”


Tanpa membantah, Ara pun segera melepas rengkuhan tangannya dan beranjak duduk di kursi yang tak jauh dari sana.


“Mau saya siapkan saja mas?” tawar mbak Tuti yang merasa tak enak hati.


“Gak usah mbak, biar saya saja, mbak sajikan minumannya saja”


“Baik mas”


Hafa segera menyiapkan makanan untuk istrinya, lalu menghidangkannya di depan sang istri yang memang terlihat begitu lapar.


“Terimakasih mas” ucap Ara begitu girang melihat makanan yang berada di depannya.


“Mas keluar bentar temuin mereka ya dek, mau memastikan surat-suratnya benar atau belum”


Ara hanya mengangguk sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


‘Alhamdulillah
 gak merengek minta ditemani atau disuapin’ guman Hafa lega kemudian segera menuju ruang tamu menemui karyawan dealer yang mengantarkan mobil yang dia beli tadi pagi.


Ia pun melangkahkan kakinya dengan cepat sebelum istrinya berubah pikiran dan memanggilnya.


Hafa masih bersyukur istrinya bersikap manja tetapi masih tau situasi dan kondisi. Tak mengganggunya jika masih bekerja dan juga tak mengganggunya jika memang sedang dalam pembicaraan serius dengan orang lain.


Tak berapa lama kemudian, mbak Tuti kembali ke dapur setelah menghidangkan minuman untuk tamu majikannya.


“Mbak Ara mau bakwan?” tawar mbak Tuti yang melihat majikannya itu begitu lahap makan sayur buatannya. “saya baru saja buat mbak, masih hangat”


“Gak di sajikan di depan mbak?”

__ADS_1


“Sudah mbak, tadi juga buat cemilan ibu, tapi masih ada sisa”


“Wah mau mbak, mana-mana?” ucap Ara begitu girang seperti mendapat hadiah besar, padahal hanya bakwan yang masih hangat.


Tanpa banyak kata, mbak Tuti pun menghidangkan satu piring bakwan di depan Ara yang masih mengunyah makanannya.


“Saya seneng lihat mbak Ara doyan makan gini”


“Hehe
 bawaannya laper terus mbak, jadi gendut gini sekarang”


Mbak Tuti pun tersenyum mendengar celotehan majikannya yang memang terlihat lebih berisi apalagi perutnya sudah terlihat sedikit buncit.


“malah bagus sih mbak, saya dulu waktu hamil anak pertama malah gak bisa ngapa-ngapain mbak, teler terus”


“Oh ya? gak doyan makan mbak?” tanya Ara yang tertarik dengan cerita asisten rumah tangganya.


“iya mbak, makan apa-apa gak mau, muntah terus,.. sampai harus opname di rumah sakit saking lemesnya mbak”


Ara melebarkan matanya mendengar cerita mbak Tuti yang duduk di depannya, “yang bener mbak?”


“Iya mbak, suami saya sampai bingung dulu”


“Tapi baby sehat kan mbak?’


“Alhamdulillah mbak, habis opname seminggu saya udah gapapa, udah bisa makan juga”


“Alhamdulillah
.” Ara pun merasa lega, sekaligus bersyukur di kehamilannya kini tak mengalami hal seperti asisten rumah tangganya itu, pasti akan sangat menyiksa kalau makan apapun tak mau dan selalu di muntahkan kembali, sakit pasti rasanya.


Keduanya pun larut dalam obolan seputar kehamilan. Mereka bertukar cerita mengenai kondisi kehamilan mereka, bagaimana dulu saat mbak Tuti mengandung dan apa yang Ara rasakan selama kehamilannya ini.


Sesekali tawa karena gurauan mereka terdengar hingga ruang tamu yang memang tak tesekat pintu. Membuat Mama Hesti dan Hafa yang mendengar tawa keduanya pun tersenyum senang.


Setelah urusan dengan dokumen mobil beres, dan Hafa sudah mengecek unit mobil yang ia beli sudah sesuai dan dalam kondisi baik dan lengkap, karyawan Dealer pun segera berpamitan untuk kembali ke tempat kerja mereka.


“Rindi pasti seneng banget lihat mobil barunya nanti?” gumam mama Hesti yang mengamati mobil merah yang kini terparkir di depan rumah.


“Semoga ma, Hafa jadi gak enak, kenapa gak dari dulu saja Hafa belikan mobil untuk Rindi” sahut Hafa yang kini berdiri di samping sang mama. “sampai harus dia berontak dulu
 Huff
”


“gak papa, kalau dulu-dulu kamu belikan mobil, kamu gak akan ketmu Ara mas,dan belum tentu Ara menjadi istrimu” timpal mama Hesti yang tak memudarkan senyumannya.


“Ah.. mama.... ya gak gitu lah, Ara kan jodoh Hafa, mau gimana pun ya pasti bakal ketemu lah” elak Hafa yang tak terima dengan ucapan sang mama.


“Ya kan belum tentu bisa jadi istrinya sekarang” goda mama lagi, “coba kalau dulu Rindi kamu belikan mobil, pasti Rindi berangkat kerja sendiri, dan kamu tak perlu antar jemput Ara, kamu tak akan melihat Ara 
 mas
..”

__ADS_1


Tbc


__ADS_2