
🌺Happy Reading🌺
Beberapa bulan telah berlalu, kini Ara terlihat semakin mempesona dengan perut besarnya. Selama masa kehamilan Hafa dan keluarganya begitu memperhatikannya. Meskipun tingkah manjanya semakin menjadi, Hafa selalu bersikap sabar dan penuh pengertian pada istri tercinta.
“Mas, hari ini gak usah ke bengkel ya…” rengek Ara pada sang suami yang tengah bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya.
“Mas cuma bentar dek, cuma mau urus peralatan baru yang masuk, janji habis itu pulang, hmm?” tawar Hafa pada sang istri, pasalnya hari ini ia sudah ada janji dengan pihak supplier perlengkapan alat bengkelnya.
Bengkel cabang yang beberapa bulan lalu resmi beroperasi makin ramai setiap harinya, bahkan Hafa juga sudah menambah karyawan untuk bengkel cabangnya. Sementara Hafa hanya sesekali mengecek kedua bengkelnya. Semenjak kehamilan sang istri yang semakin membesar, Hafa mengurangi kegiatanya untuk terjun langsung menangani kendaraan para pelanggannya, hanya sesekali ia menangani, ketika semua karyawannya tak mampu mengatasinya.
Semenjak ada mobil baru, Hafa pun tak pernah mengantarkan adiknya untuk berangkat kerja, bahkan semenjak Rizal resmi menjadi kekasih sang adik, Rizal lah yang sering mengantarkan dan menjemput Rindi, dan jadilah mobil merah kesayangan Rindi lebih banyak nganggurnya di rumah.
“Janji cuma bentar ya…” rengak Ara yang seakan tak rela melepas kepergian suaminya.
“Iya sayang…. “ ucap Hafa dengan senyum lebarnya, kemudian ia berjongkok menatap perut puncit istrinya.
“Dedek baik-baik sama mama ya, papa mau kerja dulu” lanjut Hafa kemudian mendaratkan kecupan sayang di perut buncit sang istri.
Ara mendesis pelan saat Hafa mengecup perut besarnya, sejak semalam memang ia sudah merasakan kontraksi, namun memang hanya sebentar, masih hilang dan timbul dengan jarak yang lama.
Setelah drama pamitan yang cukup memakan waktu, Hafa akhirnya berangkat menuju bengkel setelah sang istri mengijinkannya pergi.
Setelah mengantar sang suami sampai teras rumah, Ara pun kembali melangkah ke dalam rumah.
“Ra.. kamu baik-baik saja?” tanya sang mama yang melihat menantunya tampak murung dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
“Gak ma, Ara baik-baik aja”
Mama Hesti pun memperhatikan sang menantu, dan menatap perut besarnya, ia merasakan hal yang berbeda dari sang menantu.
__ADS_1
“Kamu sudah mulai kontraksi ya?”
“Sepertinya hanya kontraksi palsu ma, dari semalam udah terasa, cuma sebentar” jelas Ara sembari mengusap perut buncitnya.
“Perlengkapan persalinan sudah disiapkan Ra?”
“Sudah ma, Ara taruh dalam tas di samping lemari” jawab Ara sembari berjalan pelan menuju ruang makan untuk mengambil minum, karena tenggorokannya terasa kering.
“Kamu masih lapar Ra?”
“Haus ma, tapi kalau masih ada makanan, Ara juga mau” jawab Ara dengan cengirannya, ia pun melanjutkan langkahnya untuk membuka pintu lemari es yang berada di dekat rak piring.
Sudah beberapa hari ini mama Hesti melarang menantunya membantunya memasak, ia merasa ngeri saat melihat Ara melakukan aktivitas seperti biasa dengan perut besarnya, padahal Ara merasa baik-baik saja meskipun memang kakinya agak sedikit bengkak.
Pagi ini mereka sarapan seperti biasa dengan menu yang di masak mama Hesti dengan hanya menu ala kadarnya karena Hafa melarang sang mama memasak menu terlalu banyak, mengingat sang mama hanya masak sendiri, tanpa di bantu sang menantu seperti biasanya. Berbeda jika Ara membantu memasak, pasti akan ada beberapa menu yang tersaji di meja makan, karena mereka mengerjakannya berdua.
“Ara makan red velvetnya ya ma?” tanya Ara meminta ijin pada mertuanya, karena kue yang di maksud masih terlihat utuh.
Kemarin siang saat pergi belanja dengan mbak Tuti ia mampir ke toko kue untuk membelikan kue untuk keluarganya terutama untuk sang menantu yang begitu suka dengan berbagai jenis kue.
“Mau mama kupaskan buah?” tawar mama Hesti yang sudah duduk di samping menantunya yang tengah menikmati red velvet yang telah di potongnya.
“Nanti Ara kupas sendiri gapapa ma” jawab Ara sungkan karena merasa tak enak hati.
Mama Hesti hanya tersenyum, kemudian tetap mengupaskan buah untuk di santap sang menantu. Ara terlihat begitu menikmati kue di depannya, kemudian di tambah dengan potongan buah yang telah di kupas oleh sang mertua.
“Ma….” Ucap Ara lirih di tengah makannya, ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari sela kakinya, seketika ia meletakan potongan buah yang berada di tangannya, kemudian mengusap perutnya.
“Astaghfirullah…!” pekik mama Hesti saat memperhatikan gerakan sang menantu dan melihat di bawah kaki sang menantu. “Ketuban kamu pacah sayang?”
__ADS_1
“Apa ini air ketuban ma? Bagimana ini ma?” ucap Ara dengan wajah pucatnya. Dari nada bicaranya Ara terdengar sedikit panik, dan juga merasakan sakit dari perut hingga pinggulnya.
“Kamu tunggu sini, mama ambil perlengkapan persalinan kamu”
Ara pun berdiri dan melangkah pelan menuju ruang depan. Sepanjang perjalanan air terus mengalir dari sela-sela kakinya, ia mencoba mengatur nafasnya dan berusaha untuk setenang mungkin.
Tak berapa lama kemudian, mama Hesti datang dengan membawa tas perlengkapan persalinan dan juga tas berisi dompet dan poselnya, tak lupa ponsel Ara yang tadi berada di kamar juga ia bawa.
“Kita ke rumah sakit ya sayang”
Ara hanya mengangguk, sembari menahan nyeri yang mulai menyerangnya. Mama Hesti berusaha untuk bersikap setenang mungkin, beruntungnya mobil merah Rindi berada di rumah sehingga mereka bisa menggunakannya untuk menuju rumah sakit.
Setelah mengunci pintu rumah, mama Hesti memapah menantunya ke arah mobil yang sudah di keluarkan dari garasi. Mama Hesti mengemudi dengan pelan dan bersikap tenang agar sang menantu tak ikut panic karena dirinya.
Pengalaman melahirkan 3 orang membuatnya cukup tenang menghadapi situasi saat ini, meskipun sebenarnya jantungnya berdegup begitu kencang karena khawatir dengan kondisi sang menantu dan juga cucunya yang masih berada di dalam perut.
“Kita ke rumah sakit terdekat saja ya sayang?” tanya mama Hesti pada menantunya yang kini terlihat memejamkan matanya.
“Ra… kamu dengar mama?”
“Iya ma…” jawab Ara pelan kemudian membuka matanya, sesekali ia mengusap perutnya, dan kontraksi yang ia rasakan semakin terasa dengan intensitas jeda waktu yang cukup singkat.
Tak berapa lama kemudian keduanya tiba di rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu UGD, mama Hesti pun segera meminta bantuan perawat di sana untuk menangani menantunya, setelahnya ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tak jauh dari pintu UGD.
Mama Hesti segera menemani menantunya dengan menenteng tas berisi perlengkapan persalinan yang sudah di siapkan menantunya, kemudian ia menghubungi putranya yang tengah bekerja.
“Assalamu’alaikum ma” jawab Hafa di seberang sana.
“segera ke rumah sakit Citra Medika ya, Ara mau melahirkan”
__ADS_1
Deg!
Tbc