It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 59


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Ara pun menghela nafas dan menatap lekat sang suami setelah ia rasa kondisinya lebih baik, “Mas beneran gak ijinin Ara bekerja lagi?”


“Ya, setelah ini mas minta kami berhenti kerja dek”


“kenapa mas?” mata Ara tampak berkaca-kaca, banyangan rasa bosan kini menghantui pikirannnya.


“Karena harus kamu jaga di sini dek” jawab Hafa dengan menyunggingkan senyum manisnya, tak lupa ia usap perut rata sang istri, membuat Ara mengerutkan dahinya.


Deg!


“kenapa dengan perut Ara mas?” tanya Ara ragu


“Ada dedek di sini, jadi mas gak ijinin kamu kerja lagi dek” jawab Hafa yang kini dengan senyum lebarnya.


Ara yang mendengar perkataan suaminya pun terkejut dan menggerakan tangannya untuk menyentuh perutnya, air matanya mengalir deras tanpa di minta. Keduanya larut dalam rasa haru yang tiada terkira.


“Ara… hamil? Mas?” tanya Ara di sela isak tangisnya, yang hanya di jawab Hafa dengan anggukan kepala.


“Ara gak mandul..” lirihya lagi namun cukup di dengar oleh Hafa yang kembali menjawab dengan anggukan.


“Alhamdulillah ya Allah….”


“Iya dek, Alhamdulillah…. cuma mas minta kamu nurut untuk istirahat dulu ya”


Ara pun mengangguk dengan antusias, kini ia akan menuruti permintaan suaminya tanpa keraguan. Ia akan fokus pada kondisi tubuhnya dan juga kehamilannya.


“Tapi dedek gak papa kan mas?” tanya Ara kemudian setelah sadar ia terjatuh cukup keras saat kecelakann terjadi.


“Semoga ya dek, makanya dokter minta kamu bedrest dan perlu di rawat dulu untuk memantau kondisi kalian dek”


***


Pagi harinya Farhan kembali ke rumah sakit bersama sang mama untuk menggantikan kakak iparnya menjaga sang kakak.


“Kamu pulang dulu Fa, biar mama yang jaga Ara, istirahat dulu di rumah.” Pinta mama Mira saat mereka tiba di rumah sakit bertepatan dengan selesainya visit dokter beberapa saat yang lalu.


“Iya ma, nanti siang Hafa ke sini lagi, mau bersih-bersih dulu”


“yach, jaga kondisimu dulu, jangan sampai sakit juga”


Hafa pun berpamitan pada sang istri yang masih terbaring di atas ranjang perawatan.


“Mas pulang dulu ya dek” kecupan cukup lama Hafa daratkan di kening sang istri.


“Hati-hati ya mas”

__ADS_1


“hmm, ingat jangan turun dari ranjang dulu, kalau ingin buang air minta mama dulu ya, sementara pakai pispot dulu”


“Iya…” angguk Ara dengan senyuman agar suaminya tak mengkhawatirkan dirinya.


Setelah berpamitan pada adik dan mertuanya Hafa pun meninggalkan ruang rawat inap sang istri dan kembali ke rumah untuk beristirahat.


“Ada yang masih sakit Kak?” tanya mama Mira setelah Hafa tak lagi terlihat.


“Masih sedikit pusing ma, sama badan Ara sakit semua”


“Sabar ya kak, kakak harus banyak istirahat agar segera pulih, dan lagi sekarang ada cucu mama di perut kamu jadi mesti banyak-banyak jaga diri”


“Iya ma, maaf sudah buat kalian khawatir”


“Farhan pun ikut mendekati sang mama yang masih duduk di samping ranjang perawatan sang kakak, ia pun tersenyum kala melihat kakaknya menyunggingkan senyum tipisnya.


“Kakak jangan berpikiran begitu, sudah sewajarnya kami khawatir kak, terlebih kondisi kakak sedang hamil.” Timpal Farhan yang berdiri di samping sang mama.


“iya dek, makasih ya”


“mama bersyukur juga kak, dengan kejadian ini kita juga semua akhirnya tau kalau kakak sedang hamil, tidak seperti yang budhe ucapkan.” Lanjut mama Mira yang membuat Farhan mengerutkan dahinya.


“Emang budhe bilang apa ma?”


Mama Mira menatap sang putra yang kini menatapnya dengan raut penuh tanya, tak mengerti maksud ucapan yang baru saja di lontarkannya.


“Kak..” Rengek Farhan kini beralih kepada sang kakak karena sang mama tak kunjung menjawab.


“Gak papa dek,”


“Kalian mau bohongin adek ya?”


“Gak dek,... “ mama Mira menghela nafas, ia sudah terlanjut bicara di depan putra bungsunya yang memang begitu menyanyangi kakaknya dan juga tak suka dengan keluarga besarnya yang julid pada mereka.


“Budhe hanya tanya, kenapa kok kakak kamu gak hamil-hamil, dan bertanya apakah kakak kamu mandul?” lanjut mama Mira akhirnya,


“Astaghfirullah.... segitu negatifnya pikirannya” pekik Farhan tak terima,


“Kapan budhe yang bilang sih ma? Kok adek gak tau?”


“Waktu tujuh bulanan Desi kemarin,” mama Mira pun akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi sebelum mereka pulang di tempat budhe Rosi tempo hari.


“Jadi mama dan kakak murung waktu itu karena ucapan budhe?” tebak Farhan, ingat saat perjalanan pulang kakak dan mamanya hanya diam, dan terliha tak bersemangat.


“iya, tapi gak usah di pikirin, alhamdulillah kalau tebakan budhe itu gak bener, nyatanya kakak kamu sekarang sedang hamil.”


“iya ma, bener-bener deh, kenapa sih dari dulu budhe itu julid aja sama keluarga kita” ucap Farhan tak habis pikir, dari dulu budhe yang satu ini memang paling julid, dan lagi kenapa juga bisa berpikir kalau kak Ara mandul? Pernikahan juga baru hampir 6 bulan, belum terlalu lama juga. Hufff

__ADS_1


“Biarin aja lah dek, gak usah dipikirin lagi, gak usah d bahas lagi” pinta Ara yang merasa makin pusingg bila membicarakan kerabatnya itu.


“Iya kak”


***


Sementara itu Hafa yang telah sampai di rumah langsung menemui sang mama yang tengah menemeni adik bungsunya di kamar.


“Ma...”


“Kamu pulang mas? Siapa yang nunggu Ara?”


“Mama Mira dan Farhan ma, gimana kondisi mu dek?” tanya Hafa seraya duduk di samping sang adik yang bersandar di ranjangnya.


“udah enakan mas, cuma tangan kaki nyeri, tadi sempat susa di gerakin, karena memarnya”


“Hmm... jangan di paksain gerak dulu, hari ini istirahat total dulu” Hafa mengusap lembut kepala sang adik. Ia bersyukur karana kondidi adiknya tak buruk, dan bisa di katakan baik-baik saja, karena hanya luka memar dan lecet luar.


“Iya mas, lalu gimana sama mbak Ara mas?”


“Mbak mu baik-baik aja, tapi memang perlu di rawat di rumah sakit untuk memantau kondisinya.


“maaf Mama gak bisa ke rumah sakit ya Fa, mama tunggu adik mu di rumah” timpal mama Hesti.


“Gak papa ma, nanti Hafa bisa gantian sama Farhan kalau jaga di rumah sakit, ada mama dan papa juga,”


“hmm, ya sudah, istirahat dulu sana, Rindi juga biar istirahat, habis minum obat dia, jadi biar tidur dulu”


“Oke ma, nanti tolong bangunkan Hafa sebelum dzuhur ya mas, habis dzuhur nanti Hafa akan ke rumah sakit lagi”


“Gak sekalian nanti sore aja?”


“Lihat dulu nanti ma, yang penting bangunka Hafa sebelum dzuhur”


“ya..” Mama Hesti mengengguk, kemudian tersenyum saat melihat anak sulungnya mendaratkan kecupan sayang di kening putri bungsunya.


Sungguh pemandangan yang begitu hangat saat kedua kakak beradik itu saling menyayangi.


Tbc


Hallo semua...😃😃😃


Maafkan othor yang dua hari ini tak update,🤗🤗🤗


Mohon terus dukungannya,🤩🤩🤩


Love you All....😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2