It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 11


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Masih Hafa POV


Satu hal yang menguatkan cerita Rindi semalam, kalau gadis di depan ku ini memiliki adik laki-laki yang sudah beranjak dewasa, dan mungkin saja laki-laki yang aku lihat tempo hari adalah adiknya.


‘Semoga saja benar adiknya saja ya Allah’


Dan lagi-lagi obrolannya dengan mama membuatku semakin kagum padanya, membuatku merasa semakin yakin kalau dia adalah gadis yang aku cari selama ini.


Hingga Rindi pun mengajak Ara beranjak untuk berangkat bersama dengan dua temannya, aku hanya tersenyum penuh kekaguman, membuat mama pun tersadar akan tingkah ku yang tak biasa.


Mama pun tersenyum kemudian berdehem menatapku, “Kamu suka Ara, Fa?”


Seketika aku pun menolah ke arah sang mama yang tersenyum penuh arti, tanpa sadar wajahku merona karena kepergok,


‘apakah begitu terlihat? Ya Allah, malu banget’


“hmm…. A.. Hafa…..” jawabku ragu-ragu, entah kenapa rasanya begitu sulit untuk berterus terang.


“Kamu suka Ara?’ tanya mama sekali lagi, hingga hanya ku jawab dengan anggukan kepala yang membuat mama tersenyum lebar,


“Alhamdulillah!!!” pekik mama senang, membuatku melongo tak karuan, ku pikir mama tak akan mendukungku, tapi ini? Pekikan senang ini? Apakah mama mengijinkan?


“Mama ijinin Hafa?”


“Tentu saja!!” jawab mama dengan mantap, “segera deketin dia, mama setuju Ara jadi mantu mama”


Senyum lebar langsung terbit dari bibirku mendengar penuturan mama, restu sudah di dapat, tinggal meyakinkannya dan mengungkapkan perasaan ku padanya.


‘Ya Allah mudahkanlah jalan kami, jika memang dia adalah jodoh yang kau kirimkan untuk hamba, permudah kami untuk ke jenjang pernikahan ya Allah’


Sungguh rasa bahagia dalam hati ku semakin membuncah saat menerima pesan dari adikku untuk menjempunya di acara pernikahan temannya saat ini.


Sepanjang perjalanan senyuman tak luntur dari bibirku, membayangkan sebentar lagi aku akan kembali melihat gadis yang telah mencuri hati ku.


“Oh Ara… I’m coming!!”


Saat tiba di lokasi tempat pesta berlangsung, aku agak kesulitan untuk memarkirkan mobilku karena tempat yang penuh, hingga aku memutuskan memarkir agak jauh di belakang dan turun mendekati gerbang untuk mencari adikku, hingga dari kejauhan kulihat 3 orang keluar dari gedung, dan 2 orang gadis bergandengan tangan, lebih tepatnya sepertinya adik ku tengah bergelayut manja menggandeng calon kakak iparnya.


‘eh, bolehkah aku menyebutnya begitu?’


Melihat keduanya tampak dekat membuat hatiku begitu hangat, dan berharap semoga semuanya dilancarkan.


Lagi-lagi sepertinya doa ku di kabulkan begitu cepat, saat kamu tiba di rumah, dan kedua teman adikku hendak pulang ke rumah mereka masing-masing, mereka tampak panik seraya menuduk memeriksa ban motor.

__ADS_1


“Kenapa Ra?” aku mendekati mereka dan menayainya,


“Eh, ini mas ban nya bocor” jawab Ara seraya menoleh padaku dengan wajah penuh peluh, terlihat raut panik dari wajahnya.


“kok bisa?” aku semakin mendekat dan ikut menunduk melihat ban belakang motor Ara yang kempes tak ada angin sama sekali.


“kena paku ini Ra” tunjukku pada benda yang menancap dalam di pinggir ban,


“Yach…. Deket sini ada tambal ban ndak mas?”


“jauh, hmm… ini sepertinya harus ganti deh Ra, takutnya udah robek dalem”


“wah iya kah?, tadi ga merasa kalau nginjak paku mas”


“nanti biar aku cek ra, kalau perlu aku ganti ya ganti” tawarku memberikan solusi, rasanya tak tega melihat wajah paniknya.


“mas bisa ceknya?” tanyanya heran, mungkin saja ia belum tau pekerjaan ku.


“Mas Hafa kan punya bengkel mbak” timpal Rindi yang ikut mendekat “motornya tinggal sini dulu aja mb”


“hmm,, gimana ya? ga bisa di tungguin ya?’


“Alatnya di bengkel semua Ra, di rumah ga ada, mas telpon anak-anak dulu, ada yang ke sini sekarang ga”


Ara hanya mengangguk sementara aku menghubungi anak buah ku yang berada di bengkel. Meminta salah satu dari mereka untuk datang ke rumahku dengan membawa ban baru dan kucinya. Lima kali percobaan telpon tak ada yang menjawab panggilanku. Hingga percobaan ke enam, akhirnya telpon di di angkat.


“Hallo, Dimas?” sapaku dan memastikan yang mengangkat telponku adalah nama yang kusebut.


“Iya, gimana mas?”


“ada yang bisa ke rumah sekarang ndak?”


“Kenapa mas? Urgent ndak?”


“motor temannya Rindi bocor, sepertinya perlu ganti ban, ada yang bisa ke sini bawa ban sekalian bawa alatnya buat ganti ndak?” jelasku panjang lebar,


“agak sorean bisanya mas, ini bengkel lagi penuh banget, antrinya banyak”


“ga bisa sekarang ya?”


“Maaf mas, pelanggan di sini juga pada nungguin, gimana dong?” jawab Dimas ragu, terdengar nada tak enak dalam bicaranya.


“Hmm ya sudah kalau gitu, sorean aja gapapa, nanti langsung ke sini aja ya, spesifikasi bannya nanti mas chat ke kamu”


“Oke mas, siap, maaf banget ya mas”

__ADS_1


“Oke, lanjutkan kerja mu”


Panggilan telpon pun aku akhiri membuat ketiga orang di depanku memandangan penuh tanya.


“Maaf Ra, ga bisa langsung. Motornya tinggal sini dulu aja, ambil nanti sore atau besok”


“hmmm, ya sudah deh,” jawabnya lesu dan membuatnya semakin terlihat menggemaskan menurutku, “Zal aku bareng kamu bisa ndak?” dia pun bertanya pada rekan cowoknya,


‘semoga saja ga bisa, jadi aku bisa antar dia, eh dosa ga sih senang di atas penderitaannya gini?’


“eh, gimana ya mbak, Aku mau jemput mama di tempat nenek ini, berlawanan arah sama rumah mbak Ara”


“hmm gitu ya, ya sudah gapapa, kamu duluan aja kalau gitu, aku naik ojol aja”


“maaf banget ya mbak”


‘Ahhh!!!! Yes!!!!’ pekiku dalam hati.


“iya, gapapa” Dia hanya tersenyum melihat rekannya yang sudah bersiap pulang.


“Mau saya antar Ra?” ucapku menawarkan diri sesopan mungkin setelah temannya itu meninggalkan rumahku, kocoba setenang mungkin saat bicara dengannya agar tak begitu kelihatan kalau aku bener-bener ingin mengantarnya.


“Eh, ngrepotin nanti mas”


“Ga sih, gapapa gimana?”


“Ara pesen ojol aja mas”


“Biar di anter mas Hafa aja mb ga usah pesen ojol, abang ojolnya mungkun juga pada istirahat ini mb” celetuk Rindi meyakinkan Ara untuk pulang bersama ku.


“Jauh lho mas, beneran gapapa nih?”


“Iya, gapapa” Aku tersenyum menjawab pertanyaannya, “ayuh, mau pulang sekarang atau ntar?”


“Eh iya mas, sekarang aja” Ara pun mengikuti langkahku menuju mobil yang telaha ku parkirkan kemudian kembali berpamitan pada adik ku sebelum masuk mobil.


“Hati-hati mbak” ucap Rindi smebari cipika –cipiki dengan Ara, kemudin menataku yang sudah duduk di belakang kemudi, “jagain mbak Ara ya mas!” ancamnya dengan kerlingan mata genitnya. Untung saja Ara tak melihatnya.


“Maaf merepotkan ya mas” suara merdunya kembali melantun dengan lembut saat aku bersiap mengemudikan mobil ku keluar gerbang.


“Santai aja Ra, gapapa kok” aku hanya tersenyum lalu mengangguk dan fokus melihat ke depan.


‘Sering-sering juga gapapa kok Ra, aku mah malah seneng’


Tbc

__ADS_1


Mohon dukungannya 🤩🤩🤩


Love you All 😍😍😍


__ADS_2