
🌺Happy Reading🌺
Setelah makan malam sepiring berdua dengan Ara yang menyuapi sang suami, mereka pun duduk bersandar di atas ranjang mereka.
“Mas udah mau cerita ke Ara?” ucap Ara sembari memainkan jemari kekar suaminya.
“Rindi tadi minta di ajarin motor lagi dek…” ucap Hafa akhirnya, memang cara terbaik menghilangkan resahnya adalah berbicara dengan sang istri, setelah curhat terlebih dulu dengan Sang Pencipta tentunya. “Mas hanya takut dek”
Ara pun menggenggam telapak tangan suaminya, ia pun akan membiarkan suaminya selesai menceritakan keresahannya.
“kecelakan yang menimpa kalian kemarin saja sudah membuat mas syock berat, apalagi sekarang Rindi ingin belajar sendiri, nanti ke mana-mana akan sendiri dengan motornya”
“Mas sudah pernah membicarakan alasan mas melarangnya pada Rindi?” tanya Ara ingin mengetahui yang suaminya lakukan selama ini sebelum ia akan menjelaskan pembicaraan mereka tadi di ruang makan.
Hafa menggelengkan kepalanya, “Mas gak mau Rindi sedih dan terbebani hanya karena ketakutan mas dek”
Ara menghela nafas, “tapi Rindi bisa mengemudi mobil kan mas?”
“Bisa, sejak lulus SMA mas sudah ajarin Rindi kalau mengemudi mobil”
“ya kalau gitu biarkan Rindi pegang mobil sendiri mas” ucap Ara penuh dengan kelembutan membujuk suaminya.
“Tapi…”
“Biarkan Rindi belajar bertanggung jawab dengan dirinya sendiri juga mas, kalau pun memang mas khawatir kalau Rindi naik motor, ya biarkan Rindi naik mobil sendiri”
Sekali lagi Hafa menghela nafas panjang, “Kalau mobilnya di pakai Rindi, mas gak bisa antar kamu kalau mau pergi dek”
“Kita bisa pakai motor mas”
Hafa pun berdecak, “mas Aja gak ijinin Rindi pakai motor, malah kamu yang minta naik motor sih dek, kamu lagi hamil lho” ucap Hafa gemas sembari mengacak rambut sang istri.
Ara pun tersenyum melihat sang suami sudah menunjukan ekspresi gemas sekaligus kesalnya, tak sedih seperti tadi.
“Kalau gitu beliin mobil buat Rindi mas”
“Hmmm,….” Hafa berpikir sejenak, mengingat jumlah tabungan yang ia punya apakah cukup atau tidak untuk membelikan mobil adiknya, sedangkan ia juga harus menyisihkan sebagian untuk kebutuhan anaknya kelak.
“Tabungan mas menipis dek, kemarin kan habis buat beli tempat buat bengkel, dan biaya renovasi yang tak sedikit dek, mas kan harus sedia uang untuk persalinan kamu juga dek, untuk kebutuhan anak kita nanti”
__ADS_1
“Hmmm… tambahin uang Ara mas, Ara kan juga ada tabungan, dan uang mahar yang mas kasih waktu itu juga belum Ara pakai”
“Jangan dek, itu uang kamu”
“Di pakai dulu gapapa mas, lagian sekarang kan bengkel cabang juga sudah mulai ramai, pasti bisa nanti sedikit sisihin untuk keperluan persalinan nanti”
“Tapi dek...”
“pakai aja mas, nanti kalau mas ada uang lagi kan juga bakal di kasih ke Ara lagi kan?” ucap Ara sembari menggerakan alisnya naik turun.
“Haish… kamu ini ya” Hafa terkekeh pelan, kemudian kembali mengacak rambut sang istri karena gemas, ia pun menangkup kedua pipi istrinya "besok mas pikirkan dulu ya dek, semoga aja tabungan mas masih cukup buat beliin Rindi mobil, jangan sampai pakai uang kamu dek"
Ara pun tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami,
"tapi... beneran gapapa dek?, kalau mas belikan Rindi mobil, kamu aja ndak mas belikan?"
Ara pun mendekap erat suaminya, menduselkan kepalanya mencari kenyamanan.
"ya gapapa lah, justru kalau nanti Rindi ke mana-mana sendiri mas bisa nganterin Ara lebih leluasa, hihi" Ara terkikik sembari menghirup aroma tubuh sang suami.
Hafa pun mendekap sang istri, mengecup pucuk kepala Ara yang tengah mendusel di dadanya. Kini rasa resah dan khawatirnya telah sepenuhnya menguap entah kemana.
Setelah bicara dengan istrinya, ia rasanya bisa mencari solusi dari rasa khawatirnya. Sementara itu Ara yang tadinya ingin protes karena di tinggal saat tidur, kini bisa bermanja ria dengan memeluk erat suaminya.
“hmm…” Perlahan Ara memejamkan matanya setelah berada dalam posisi nyamannya. Ia tak begitu memperhatikan ucapan suaminya, matanya terasa berat dan enggan untuk terbuka.
***
Keesokan harinya, Ara tampak bangun lebih awal dengan kondisi yang lebih segar, ia pun bisa melaksanakan rutinitasnya menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarganya.
“Mbak….” Panggil seseorang dari belakang, membuat Ara yang tengah menata makanan di meja makan seketika menolah.
“Astaghfirullah… Rindi!” pekik Ara terkejut dengan kondisi adiknya yang tampak kusut dnegan lingkar mata hitamnya.
Rindi tak merasa terganggu dengan pekikan kakak iparnya itu, sejak semalam ia sulit untuk tidur dan ingin segera menemui kakak sulungnya itu.
“Mas Hafa belum bangun mbak?” lanjut Rindi bertanya.
Ara yang mendengar pertanyaan dengan nada lemas itu pun menghela nafas, kemudian menatap lekas adiknya yang tampak kurang tidur.
__ADS_1
“Udah, ke kamar aja, abis itu segera mandi biar segeran, kusut banget sih, masa adik cantik kakak kaya gini sih”
Rindi tak menimpali ledekan kakaknya, ia pun segera berlalu menuju kamar kakaknya yang berada di lantai dua.
“Kamu udah selesai masak Ra?” ucap mama Hesti tiba-tiba membuat Ara yang masih menatap punggung adiknya menoleh ke arah sang mama.
“Sudah ma, ini udah siap semua, mama mau makan sekarang?”
“Nanti aja, sama-sama, mama mau ngeteh dulu”
“Ara buatkan ma”
Dengan cekatan Ara pun segera menyeduh teh kesukaan mama mertuanya, kemudian menyajikannya di depan sang mama yang tengah menikmati tempe mendoaan yang ia buat.
Ara pun memilih untuk ikut duduk di depan sang mama, kemudian ikut menikmati mendoan yang di buatnya mumpung masih hangat.
“Mama sudah lebih baik?” tanya Ara memecah keheningan, ia menatap sang mama yang terlihat begitu menikmati mendoan hangat di tangannya.
“Hmm… mama baik-baik aja”
“Alhamdulillah…” ucap Ara singkat tak ingin kembali membicarakan lagi kejadian semalam. Biarlah kejadian semalam berlalu tanpa di bicarakan lagi, dari pada mama Hesti merasa sedih karena mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
“Rindi dan Hafa belum bangun?”
“Sudah ma, mungkin mereka sedang berbincang sebentar,” jawab Ara dengan santainya, kemudian kembali mencomot tempe mendoan di depannya.
“Mama mau Ara potongkan brownies?” tanya Ara tak ingin mamamnya kembali bertanya hal yang di lakukan kedua putra dan putrinya.
“Boleh, potongkan sedikit saja, sepertinya enak buat menemani teh hangat ini”
Ara pun bangkit dan segera mengambil brownies yang yang masih tersimpan di dalam kulkas, kemudian menyiapkan dua potong di piring kecil untuk dirinya dan sang mama.
“Kamu gak ada rasa mual gitu Ra?” tanya maa Hesti saat melihat menantunya itu begitu menikmati kue dan mengingat selama ini memang tak melihat menantunya itu mengalami gejala morning sickness seperti dirinya dulu.
“Nggak sih ma, Ara malah doyan makan”
Tbc
Maafkan othor yang beberapa hari tidak bisa update, 🙏🙏🙏
__ADS_1
Mohon terus dukungannya. 🤩🤩🤩
Love you All 😍😍😍