
🌺Happy Reading🌺
Setelah berbasa-basi sebentar mbak Tuti pun menuju dapur bersama mama Hesti untuk menyiapkan beberapa cemilan untuk hidangan keluarga besar yang kemungkinan akan datang sore ini untuk menjenguk Ara.
“Ajak istrimu istirahat dulu Fa, masih kelihatan capek itu” pinta mama Mira saat melihat putri sulungnya bersandar di pundak suaminya.
“Kamu capek dek?”
Ara mengangguk samar, “padahal gak ngapa-ngapain dari tadi tapi kok rasanya lelah ya mas” ucap Ara pelan, namun masih bisa di dengar kedua orang taunya yang duduk bersebarangan dengan mereka.
“Kita ke kamar ya? kamu masih butuh banyak istirahat”
“Tapi….”
“Istirahat aja kak, bawaan hamil juga bisa bikin cepet capek, dulu mama juga gitu waktu hamil adek kamu, suka tidur malah”
“Iya kah ma?” tanya Ara, dirinya masih ingin berbincang dengan kedua orang tuanya, namun dirinya juga merasa enggan untuk menegakkan tubuhnya.
“Iya, papa nih saksinya” jawab mama Mira dengan kekehannya, teringat masa beberapa tahun silam saat mengandung putra bungsunya.
“Iya begitu pa?”
“Iya. Mama waktu hamil adik kamu jadi pemalas, emang kamu gak inget kak? Waktu itu kamu sering protes kalau mama mulai banyak tidur?”
Ara pun menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari sang papa, rasanya memang tak mengingat masa kecilnya, apalagi sebelum kelahiran adiknya.
“Pantes aja Farhan jadi doyan tidur, ternyata waktu masih di perut mama aja kaya gitu” Ara terkekeh mengingat tingkah sang adik kalau lagi mode malas.
“Siapa yang doyan tidur?” suara keras pria yang tengah mereka bicarakan terdengar tiba-tiba membuat Ara menegakan tubuhnya.
“Ya kamu lah dek” celetuk Ara membuat Farhan mencebikan bibirnya, namun tak membuatnya mengurungkannya memeluk sang kakak.
Ada rasa lega yang dirasakan akhirnya sang kakak sudah pulang ke rumah, setelah beberapa hari di rawat. “Adek seneng kakak sudah pulang” bisik Farhan seraya melepas rangkulannya dan di sambut senyum dari Ara yang masih menatap lembut adiknya.
“Amoy!!!” pekik Ara saat mendengar kucing kesayangannya mengeong dalam keranjang yang di letakan di sebelah Sofa.
Kucing gembul berwarna hitam putih itu pun kembali mengeong dan membuat Farhan mencebik kesal, “tau aja sih yang punya di sini, tadi aja anteng lho”
__ADS_1
“Bawa sini dek” pinta Ara dengan girangnya, Ia amat merindukan kucing gembul kesayangannya,
Farhan pun bergeser dan membuka keranjang kucing yang ia letakan di samping sofa sebelum memeluk sang kakak. Binatang berbulu itu sudah terlihat gelisah dan tak sabar untuk keluar dari keranjang kecil tempatnya tidur selama dalam perjalanan tadi.
Sebelum berangkat bimbingan tadi papanya memberitahukan kalau mereka akan menginap di kediaman Hafa, maka dari itu setelah selesai bimbingan dia kembali ke rumah dan mengambil ‘Amoy’ untuk ia bawa karena tak mungkin ia tinggal di rumah sendirian sementara tak ada orang di rumah.
Kucing bermata bulat itu pun langsung melompat dan mendekati Ara yang duduk di samping Hafa yang tersenyum senang karena melihat istrinya begitu bahagia.
“uluh….uluh… Amoy kangen ya”gemas Ara saat binatang berbulu lebat itu naik ke pangkuannya.
Farhan pun duduk di sofa single di samping kedua orang taunya dan membiarkan sang kakak memanjakan kucing kesayangannya.
“Gimana bimbingan mu dek?” tanya Hafa memecah keheningan saat semua orang hanya menyaksikan Ara yang sedang asyik dengan kucing gembulnya.
“Alhamdulillah mas, tinggal perbaikan bab terakhir aja”
“Alhamdulillah, bisa capai target dong?”
“Semoga bisa deh mas, semoga aja besok dosennya bisa di ajak bimbingan jadi biar segera acc buat daftar sidang”
Keduanya pun larut dalam obrolan santai dan sesekali papa Ilham dan mama Mira pun ikut menimpali sementara Ara masih asyik dengan makhluk berbulu kesayangannya.
“Ya ampun…!!!!” pekik mama Hesti tiba-tiba saat melihat menantunya asyik bermain dengan kucing gembul di pangkuannya.
Semua orang yang tengah duduk di ruang tamu pun menoleh pada sumber pekikan yang mengusik mereka.
“Mama kenapa?” tanya Hafa yang tak biasanya mendengar mama terpekik seperti itu.
Tanpa menjawab, mama Hesti pun segera mendekati Ara yang masih memangku kucing berbadan gembuk itu.
Deg!
Ara menatap sang mama mertua yang terus menatap kucing gembul yang berada di pangkuannya,
‘jangan-jangan mama gak bolehin buat pegang kucing? Aku kan lagi hamil’ gumam Ara dalam hati, khawatir sang mertua adalah orang yang beranggapan bahwa ibu hamil tak boleh dekat-dekat dengan kucing.
Namun, kekhawatiran itu pun berubah dengan kerutan di dahi ketika sang mama malah meraih kucing gembul itu dan memangkunya dengan binar mata gemas, senyum lebarnya juga langsung tersungging saat kucing itu duduk manis di pangkuannya.
__ADS_1
“Kucing siapa ini Ra?” tanya mama Hesti dengan antusias namun tak mengalihkan pandangannya pada kucing gembul itu.
“Kucing Ara ma” jawab Ara kemudian menatap sang suami yang ikut menatap sang mama.
“Kok mama baru tau kamu punya kucing? Mana gembul banget lagi. Gemesin banget”
Semua orang terkekeh mendengar ucapan dan gumam girang mama Hesti yang tak hentinya mengelus sang kucing hingga membuatnya nyaman.
“Kucingnya kan di rumah ma, waktu mama ke sana seringnya di kandangin”
Mama Hesti mengangguk antusias, kemudian melanjutkan bermain dengan si Amoy yang tampak nyaman duduk di pangkuannya.
“Bawa sini aja Ra” celetuk mama Hesti tiba-tiba, sepertinya binatang gembul bermata bulat itu telah mengambil hati mama Hesti, membuat sang mama begitu suka dan gemas padanya.
“Mama suka kucing?”
“Suka, sudah lama mama pengen piara kucing, cuma Rindi gak suka, geli dia sama kucing”
“Kok mama gak pernah bilang ke Hafa kalau pengen kucing?” timpal Hafa karena selama ini tak mengetahui kalau mama nya ingin memelihara binatang berbulu dan menggemaskan itu.
“Kamu gak pernah tanya mama” celetuk mama Hesti spontan, lalu beralih menatap menantunya.
“Kucingnya bawa sini aja ya Ra?” pinta mama Heti lagi
“Eh… tapi…. Aduh, gimana ya ma? Mama tanya papa mama Ara deh”
Mama Hesti pun menatap besannya yang duduk bersebrangan dengannya, dengan senyum manisnya ia melancarkan permintaanya, “Besan, kucingnya Ara boleh bawa sini ya?”
Papa Ilham pun menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian menatap sang istri yang juga menatapnya.
“Aduh, maaf nih tan, si Amoy nya biar di rumah saja ya, buat nemenin Farhan” bukannya papa Ilham yang menjawab Farhan buru-buru menjawab agar sang papa tak memberikan ijinnya.
“oh namanya Amoy? Pas banget buat kucing gendut ini” gumam mama Hesti.
“Maaf ya besan, kucingnya biar di rumah kami saja” jawab papa Ilham akhirnya, ia juga tak ingin makhluk gembul menggemaskan itu tak lagi di rumahnya, apalagi kelakuan manja kucing itu membuatnya merasa senang.
Tbc
__ADS_1