
🌺Happy Reading🌺
Melihat Ara yang tertawa membuat Hafa begitu gemas, ingin sekali dia segera mengatakan apa yang di rasakan saat ini, tentang Ara yang telah mengusik hatinya, namun dia juga tak ingin membuat Ara malah menjauh darinya karena dirinya yanh terburu-buru.
“Haha… oke deh nanti aku makan lagi, makasih banyak lho, beneran ga nyesel makan di situ” ucap Hafa akhirnya.
“iya, Ara bilang kan pasti mas suka, ga mengecewakan rasanya”
“iya, di tambah sama kamu makannya, jadi tambah suka” celetuk Hafa spontan.
“eh....., Mas Hafa ada-ada aja, Ara masuk dulu kalau gitu mas, mau ambil kunci” elak Ara yang terlihat salah tingkah.
‘jangan baper Ra, ga ada maksud lain dari ucapan mas Hafa barusan’
Hafa pun hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Aku ikut masuk dulu Ra, pamit sama bapak ibu”
Ara hanya mengangguk lalu melangkahkan kakinya ke dalam toko bersama dengan Ara.
“Pa, Ma….” Ucap Ara saat keduanya telah masuk ruangan sang papa, di mana sepasang paruh baya itu tengah sibuk dengan beberapa buku di depan mereka.
“Sudah selesai makannya?” tanya sang mama yang bangkit dari duduknya.
“Sudah ma, ini buat papa mama” ucap Ara sembari meletakan satu kantong yang ia bawa di atas meja.
“Kamu mau langsung pula Ra?” timpal papa Ilham yang terlihat berdiri dan mendekati dinding di belakangnya di mana jaketnya tergantung.
“Iya pa”
Papa Ilham mengambil kunci mobil yang berada di saku jaketnya dan berbalik mendekati sang putri untuk menyerahkan kuncinya.
“Ara bawa dulu ya pa, nanti sore Ara ke sini lagi jemput papa dan mama”
Papa Ilham hanya mengangguk, sementara mama Mira terlihat mengemas rantang yang yang ia bawa tadi pagi dan menyerahkannya pada Ara agar di bawa pulang.
“ini bawa pulang sekalian Ra”
“iya ma”
“Pak, Bu, Hafa juga pamit ya”
“Terimakasih ya nak Hafa, lain kali main ke rumah, atau sering-sering mampir kemari juga boleh” ucap papa Ilham dengan ramah.
“Bener nak, jangan sungkan kalau ingin main” timpal mama Mira.
“Terimakasih pak, bu”
Ara pun juga berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya, diikuti Hafa yang juga menyalami mereka.
Mereka pun keluar dari toko dengan beriringan, membuat karyawan toko semakin di landa penasaran, karena keduanya hanya tersenyum menyapa mereka.
“Ara balik dulu Mbak!” teriak Ara saat sampai depan kasir dan berpamitan pada kasir Toko yang tengah melayani pelanggan.
__ADS_1
“Iya, hati-hati”
Mereka berdua pun kembali melangkahkan kakinya menuju area belakang toko di mana mobil keduanya terparkir.
“Sekali lagi terimakasih ya mas.“ ucao Ara saat keduanya telah berada di belakang mobil.
“Oke Ra, sama-sama”
“nanti tolong hubungi Ara kalau motor Ara sudah jadi”
“oke, nanti aku chat atau telp”
“hmm, makasih mas, hati-hati pulangnya”
“oke, kamu juga”
Keduanya pun masuk mobil masing-masing, dan segera keluar keluar dari area Toko untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Sepanjang perjalanan Hafa tak berhenti menyunggingkan senyum lebarnya, hatinya berbunga karena bisa menghabiskan beberapa waktu bersama dengan gadis yang mengusik hatinya.
Hingga saat sampai di rumah, dirinya di sambut dua wanita kesayangannya di ruang keluarga.
“Aduh yang lagi Happy” goda Rindi yang melihat sang kakak dengan raut cerianya.
“Jelas dong, nih!” jawab Hafa masih dengan senyum lebarnya , kemudian meletakan kantong plastik yang ia bawa tadi di atas meja.
“Apa itu Fa?” tanya sang mama penasaran, tumben anak sulungnya ini membawa kantong yang sepertinya berisi makanan.
“Lotek ma, di belikan Ara tadi”
Ketiganya pun melangkah ke ruang makan, dan dengan sigap Rindi mengambil piring dan sendok untuk kakak dan mamanya.
“Ini ma” lanjutnya sembari meletakkan piring dengan satu bungkus lotek di atasnya.
Mama menerimanya dengan wajah berbinar, kemudian membuka perlahan,
“Wah enak nih, beli di mana Mas?” tanya Rindi yang telah menyuapkan lotek ke dalam mulutnya.
“Di dekat toko orang tuanya, iya enak banget, tadi mas sudah makan di sana”
“Wah, curang, kalian ngedate dulu ya tadi, pantesan lama benget baru pulang”
Hafa hanya tertawa pelan setelah meneguk air dingin yang baru saja ia ambil dari kulkas. Sementara sang mama hanya diam menikmati lotek yang tersaji di depannya.
“Kaya nya bentar lagi mama bakal punya mantu deh” celetuk Rindi lagi,
“Ya gapapa, mama malah seneng, mas mu itu udah tua, udah pantes nikah”
“tuh kan mas, kode keras loh, buruan tembak mbak Ara”
“hmm, masalahnya Ara nya mau ga?”
__ADS_1
“ya di coba dong mas, kan Rindi udah bilang, setau Rindi nih ya mbak Ara itu juga single, ga ada pacar atau calon suami”
“ajak nikah langsung aja Mas, usia kamu ga pantes kalau pacar-pacaran, ga bagus juga” timpal mama seolah memberikan lampu hijau untuk sang putra.
“Wih, mantep ma, bener banget” timpal Rindi dengan girangnya.
“Hafa coba deketin dulu ma, biar dia nya nyaman juga, ndak tiba-tiba langsung Hafa ajak nikah”
“iya, tapi jangan terlalu lama, biar gak di serobot orang juga, sama shalat istikharah biar di kasih kemantapan sama Allah kalau emang Ara jodoh mu”
“iya mas. Do’ain Hafa ya”
“Mama selalu berdoa yang terbaik untuk kalian, dan mama merestui kalau memang Ara yang menjadi menantu mama”
“terimakasih ma” jawab Hafa dengan senyum penuh kelegaan,
Dalam hati ia pun merapalkan doa semoga saja Ara benar-benar jodohnya dan tak perlu menunggu lama untuk menghalalkanya nanti.
“ Waktu kamu antar tadi dia gimana? Sikapnya?”
“Baik sih ma, kita enjoy aja ngobrolnya dan ternyata dia juga anak dari pelanggan di bengkel Hafa ma”
“Wah ya bagus dong, kamu malah sudah kenal orang tuanya”
“Emang tadi kakak ketemu orang tuanya mbak Ara?” tanya Rindi yang penasaran sambil asyik mengunyah lotek di mulutnya.
“hmm, mas tadi ketemu orang tuanya. Sama papa-mamanya waktu ngater Ara ke tokonya”
“Mas anterin mbak Ara ke toko? Bukan ke rumah?”
“Ke rumah nya dek, tapi waktu sampai rumah dia di telpon mamanya buat ke toko, jadi ya mas anter sekalian”
“Wih, gercep banget mas, mantap” puji Rindi dengan mengacungkan jempol tangannya.
“orang tuanya punya toko apa Fa?”
“Toserba ma, itu lho Toserba Humaira yang berada di dekat pasar Krida”
“ohw, coba kapan-kapan mama ke sana deh, siapa tau ketemu calon besan”
“Heem ma, eh nama tokonya apa mas? Humaira?”
“Iya, Humaira”
“Itu juga namanya mbak Ara mas, naman lengkapnya mbak Ara itu Humaira Mentari”
“eh iya kah? Bagus namanya”
Rindi hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya.
“arti namanya hampir mirip sama nama kamu Fa” timpal sang mama.
__ADS_1
“Eh iya ma, Irsyam – Mentari”
Tbc