
🌺Happy Reading🌺
Beberapa bulan telah berlalu. Kehidupan pernikahan Ara dan Hafa tampak harmonis. Ara tampak menikmati perannya sebagai istri, menantu dan juga seorang kakak di kediaman Hafa.
“Dek….!! Sayang!!! ” Panggil Hafa dari dalam kamar mandi.
Ara yang tengah menyiapkan pakaian dan membereskan kamar akibat kelakuan sang suami semalam hanya menghela nafas mendengar teriakan suaminya, namun tak urung ia tetep mendekat ke kamar mandi.
“Ada apa mas?”
“Ambilkan handuk mas, mas lupa bawa”
Ara pun menoleh dan melihat tempat biasanya mereka meletakan handuk, benar saja handuk mereka masih tergantung di sana. Tanpa menunggu lama Ara pun segera mengambilkan handuk sang suami lalu mengetuk pintu kamar mandi.
“Mas, buku sedikit pintunya, ini handuknya” Ara telah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk di tangannya.
“Masuk aja dek, gak mas kunci”
“Gak mau!! ini pasti cuma modus kan? Ara gak akan ketipu lagi sama mas” ucap Ara penuh waspada, pasalnya beberapa kali Ara tertipu dengan aksi Hafa yang seperti ini, sengaja meninggalkan handuknya di luar kemudian memanggil untuk mengambilkan, dan ujung-ujungnya hanya modus untuk bermanja pada sang istri.
“Gak dek, beneran deh, cepetan sini”
“gak, handuknya Ara gantung di pintu, mas ambil sendiri” Ara pun berbalik dan melangkah menjauh,”biasanya juga gak malu di depan Ara, kenapa gak keluar ambil sendiri sih” pekik Ara kemudian menggerutu di akhir kalimatnya.
Cklek!
Terdengar pintu kamar mandi terbuka sementara Ara telah berbalik dan tak melihat pintu kamar mandi telah terbuka.
“Mas denger ya dek” ucap Hafa dengan santainya sembari mendekap sang istri dari belakang.
“Astaghfirullah mas!!!! “
****
Setelah kejahilan yang Hafa lakukan pagi tadi, kini Ara mengerucutkan bibirnya yang tampak kesal sembari menyiapkan sarapan mereka. Waktu untuk menyiapkan sarapan harus berkurang lantaran suminya, dan itu membuat Ara nampak kesal dan tampak tergesa-gesa.
Tak banyak yang ia masak, hanya nasi goreng dengan telur ceplok untuk sarapan, dan tumis brokoli dengan irisan bakso untuk bekal makan siang mereka.
__ADS_1
“Dek…” paggil Hafa kepada sang istri
“adek….”
“sayang….”
Beberapa panggilan yang Hafa lontarkan dengan penuh kelembutan di abaikan Ara yang masih sibuk dengan masakannya yang masih berada di atas wajan.
Ara berusaha diam karena rasa kesalnya, ia merasa emosinya akhir –akhir ini memang sulit di kendalikan, apalagi mendapat perlakuan jahil sang suami, jadi makin kesal lah dirinya.
“Kamu kenapa sih Fa?” tanya mama Hesti yang baru memasuki dapur, kondisi tubuhnya yang kurang fit membuatnya terasa berat untuk bangun dari tempat tidur.
“Mama udah enakan?” tanya Ara yang tengah meletakan wadah berisi hasil masakannya.
“Sudah lebih baik, maaf ya mama gak bantu kamu masak”
“Gapapa ma, udah selesai juga kok, maaf Ara hanya masak ala kadarnya” ucapnya lagi seraya melirik sang suami yang diam menatapnya.
“Gak papa sayang, ini sudah cukup” jawab mama Hesti setelah melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja.
“Iya,”
Ara pun menghidangkan teh hangat untuk suami dan mertuanya kemudian beranjak meninggalkan ruang makan untuk ke kamar bersiap untuk berangkat kerja.
Hafa pun menghela nafas kemudian menyusul sang istri setelah berpamitan pasa sang mama.
“Dek,… kamu marah ya?” tanya Hafa pelan saat melihat Ara mondar-mandi bersiap.
“Yang….” Panggilnya lagi kemudian mendekati sang istri yang tengah memasukan ponselnya ke dalam tas, “mas minta maaf kalau bikin kamu marah”
Ara pun menghela nafas, kemudian berbalik menatap sang suami yang telah berdiri di dekatnya.
“Maafin Ara mas, tak seharusnya Ara marah, karena itu hak mas juga, tapi entah kenapa akhir-akhir ini emosi Ara sulit terkendali, dan lagi kondisi mama sedang tidak sehat, Ara hanya khawatir tak cukup waktu untuk menyiapkan sarapan.” Ucap Ara dengan mata berkaca-kaca.
Hafa menatap sedih sang istri, rasa bersalah semakin mendera dalam hatinya. “Maafin mas sayang”
Hafa pun merengkuh erat sang istri. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali. Ia pun merutuki perbuatannya pagi ini hingga sang istri merasa sedih. Tak seharusnya ia memaksa sang istri, meskipun memang itu haknya, namun dia seharusnya tau akan waktu dan kondisi.
__ADS_1
Selama ini wanita yang telah menjadi istrinya hampir 6 bulan ini tak sekalipun melupakan kewajibanya sebagai seorang istri atau menantu di rumah ini. Meski kondisinya lelah setelah bekerja ia akan tetap memperhatikan keluarganya. Apalagi urusan perut, Ara tak akan melewatkan untuk selalu memanjakan lidah dan perut anggota keluarga, dengan tangannya sendiri ia selalu menyiapkan makanan untuk mereka. Meskipun terkadang membeli di luar kalau sedang ingin.
“Maafin ya.... “ pinta Hafa sekali lagi, yang di balas Ara dengan aggukan kepala, kemudian berusaha melepaskan rengkuhannya.
“Ayuh turun mas, mama sama Rindi pasti udah nungguin” ajak Ara yang sudah mulai tenang, ia pun tak ingin terlambat untuk berangkat bekerja.
Hafa pun mengangguk, kemudian menggandeng sang istri menuju ruang makan. Dan benar saja Rindi juga telah siap dan duduk sembari mengobrol dengan mama Hesti.
“Mbak maaf ya, Rindi tadi gak bantu mbak masak” ucap Rindi tak enak hati pada kakak iparnya.
“Emang biasanya juga bantuin?” timpal Hafa yang menggoda adiknya.
Memang beberapa kali Rindi membantu sang kakak memasak, hanya kalau lagi mood dan benar-benar ingin belajar memasak, apalagi di weekday seperti ini, akan sangat jarang karena ia sendiri sudah kerepotan untuk bersiap bekerja.
“Ya kan kadang Rindi bantuin juga, pagi ini aja Rindi bangun kesiangan”
“udah gak usah di bahas, kita makan lalu berangkat” ucap Ara mencegah perdebatan panjang kakak beradik itu.
“iya kak” patuh Rindi. Tak ingin membuat kakaknya semakin kesal. Rindi pun segera memakan hasil masakan kakak iparnya. Ada rasa kagum yang ia rasakan saat memperhatikan kakak iparnya, selama hampir 6 bulan ini kakak iparnya yang juga wanita karir bahkan lebiih sibuk darinya, bisa mengatur waktu dan tenaganya untuk mengurus suami, keluarga dan juga pekerjaanya, sedangkan dia masih kerepotan dengan sedikit kesibukan yang ada.
Setelah meenyantap sarapan, Ara berserta suami dan adiknya berpamitan pada sang mama yang masih duduk menghabiskan teh hangatnya.
“Jangan banyak aktivitas dulu ya ma, biar mbak Tuti aja yang beres-beres, mama istirahat” titah Ara pada sang mertua.
“iya sayang, mama juga sudah banyak istirahat dari kemarin”
Dret...Dreet...
Terdengar ponsel berdering dari dalam tas yang Ara pangku. Setelah melihat Id pemanggil yang muncul di layar, Ara segere menggeser tombol hijau, hinga sambungan telepon terhubung.
“iya ma...” jawab Ara setelah menjawab salam dari seberang sana.
“......."
"Kenapa dek?"
Tbc
__ADS_1