It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 25


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Setelah menghabiskan sarapannya, Ara pun segera pergi ke tempatnya bekerja dengan di antarkan pria yang telah meminangnya.


Hafa pun dengan semangat dan penuh perhatian membantu sang pujaan hati berjalan dan memastikannya duduk dengan nyaman di dalam mobilnya.


“Mas ga ke bengkel?” tanya Ara saat keduanya dalam perjalanan menuju kantor.


“Abis antar kamu mas ke bengkel, kenapa?”


“Gapapa, maaf Ara jadi merepotkan mas”


“Ga repot dek, bukankah ini nanti bisa jadi rutinitas mas kalau nanti mas jadi suamimu?” jawab Hafa dengan santainya seolah yakin bahwa Ara akan menerima lamarannya, padahal semalam bahkan ia mengatakan ketakutannya kalau gadis pujaannya itu menolak, tapi entah kenapa keraguan dan ketakutannya menguap begitu saja setelah mendengar Ara meminta ijinnya untuk tetep bekerja, bukankan itu adalah sinyal yang baik?


Blushhh


Wajah Ara seketika memerah mendengar ucapan pria yang kini tersenyum meski masih fokus dengan kemudinya.


“Ara kan masih belum jawab mas” ceplos Ara spontan tanpa sadar terdengar seperti merengek manja di telinga Hafa yang begitu gemas dengan gadis yang duduk di sampingnya itu.


“Ya boleh kan mas mengharap? Hmm? Atau mau di jawab sekarang?”


Deg!


Jantung Ara pun berdegup begitu cepat, lidahnya terasa kelu untuk menjawab, sejujurnya ia ingin segera mengutarakan jawabannya, semalam ia telah memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta, dan kemarin sudah mendengar pendapat dari kelurganya, akhirnya ia mendapatkan kemantapan akan jawaban yang akan ia putuskan,


“Apa mas benar-benar serius dengan Ara?


“Ya Allah dek, tentu saja mas serius, kalau ndak serius buat apa mas kemarin minta kamu di depan bapak ibu?” gemas Hafa, sepertinya usahanya kemarin masih di ragukan.


Ara hanya mengangguk mendengar jawaban Hafa yang meyakinkannya,


“Mas tak pernah seserius ini dek, jujur mas tak mudah jatuh cinta, tapi saat melihat kamu, mas merasakan itu” lanjut Hafa dengan nada seriusnya,


Ara pun menoleh, menatap lekat pria yang masih fokus dengan kemudinya itu, namun sesekali meliriknya,


“Mas tak ingin main-main dalam menjalin hubungan dek” tuturnya lagi.


“Hmmm… kalau gitu ajaklah tante ke rumah untuk meminta Ara secara resmi mas” ucap Ara berusaha begitu tenang.


Ciiiiitt!!!


“Mas!!!!” pekik Ara terkejut karena mobil tiba-tiba berhenti, tubuhnya terhuyung kedepan, jantungnya berdegup semakin kencang, bahkan tubuhnya sedikit bergetar, ia pun terengah mulai mengatur nafasnya,

__ADS_1


“Ma.. maaf dek….. mas kaget" seketika Hafa menoleh pada sosok gadis yang duduk di sampingnya "kamu serius dek?”


Tit!!! Tit!!!


Belum juga Ara berucap terdengar bunyi klakson dari belakang, Hafa pun menoleh ke belakang lalu menepikan mobil yang di kemudikannya. Ternyata ia berhenti di tengah jalan dan mengganggu lalu lintas, untung saja, saat ia berhenti tak ada kendaraan yang menabraknya dari belakang.


Setelah memastikan mobilnya tak mengganggu pengguna jalan lain, Ia kembali menatap Ara yang tampak sudah tenang setelah terkejut karena tiba-tiba ia mengerem mendadak.


“Maaf dek, mas minta maaf karena ngerem mendadak, ada yang sakit?” tanya Hafa panik saat melihat Ara mengusap tangan kanannya yang terluka, sepertinya saat terkejut tadi spontan tangan kanannya menggenggam kencang sehingga terasa sakit.


Ara hanya menggeleng kemudian meletakan tangan kanannya di atas pangkuannya.


“Kamu serius dengan apa yang kamu bilang tadi dek? Mas ga salah denger kan?”


“hmm” Ara hanya mengangguk sembari tersenyum malu,


“Artinya kamu terima lamaran mas? Kamu mau jadi istri mas?” cecar Hafa untuk meyakinkan penafsiran dari ucapan gadis pujannya.


“hmm” sekali lagi Ara mengangguk, tanpa berani menatap pria yang kini menatapnya dengan mata berbinar.


“Ah,,, yes!!!. Alhamdulillah ya Allah…” pekik Hafa senang sembari menengadahkan tangan, mengucap syukur pada Sang Pemilik Kehidupan.


Ara yang mendengar pekikan rasa syukur itu pun tersenyum dan melirik Hafa yang ternyata juga tengah menatapnya dengan senyum lebarnya.


Hafa pun meraih telapak tangan Ara dengan lembut mengusapnya pelan, lalu memberikan kecupan di atas perban yang melingkar di telapak tangganya.


Ara yang mendapat perlakuan itu pun tersenyum, ada rasa hangat yang mengalir dalam hatinya, ada rasa tenang dan lega setelah mengutarakan jawabannya.


“Mas akan segera ajak mama ke rumah dek, mas akan meminangmu secara resmi”


“Hmm” sekali lagi Ara mengangguk, kemudian menarik tangannya karena mulai terasa tak nyaman, rasa nyeri kembali muncul di tangannya yang bengkak.


“Maaf dek, mas terlalu senang, sakit kah?’


Ara hanya mengangguk, kemudian mengalihkan tatapannya, tak kuat lagi menatap pria yang berada di sampingnya, rasanya begitu malu.


“maafin mas ya,…”


Sekali lagi Ara hanya mengangguk, kemudian meminta Hafa melanjutkan perjalanan, karena hari semakin siang, dan ia harus segera sampai di kantor.


“Nanti kalau ga kuat langsung bilang mas ya, mas jemput kamu”


“iya…”

__ADS_1


“Jangan terlalu memaksakan diri ya dek, kalau emang sakit bilang sakit, alihin kerjaan kemu sama teman-teman yang lain, kasih ke Rindi juga, biar dia belajar “


“Iya mas” jawab Ara dengan senyumnya, tak menyangka pria yang baru saja berubah status menjadi calon suaminya itu menjadi sangat cerewet.


“Kabarin mas nanti ya, jangan sampai telat makan juga, obat dari dokter tadi jangan sampai lupa”


“Iya” jawab Ara dengan nada penekanan agar calon suaminya ini merasa tenang,


“Eh, mas jadi cerewet ya, maaf,”


Ara pun terkekeh melihat calon suaminta salah tingkah, “Ara akan hubungin mas nanti, tapi sekarang Ara kerja dulu ya, itu sudah mau sampai”


Hafa pun tersenyum mengangguk, kemudian menepikan mobilnya di depan gerbang kantor tempat kerja gadis pujaannya yang telah resmi menjadi calon istrinya.


Hafa pun membantu Ara melepas sabuk pengamannya, kemudian turun terlebih dulu untuk membantunya keluar dari mobil.


“Hati-hati…” ucap Hafa pelan saat Ara mulai turun dari mobil,


“Yakin bisa jalan sampai ruangan dek?”


“Iya mas, Ara akan jelan pelan-pelan”


“Atau panggil temenmu dulu dek, panggil Rindi buat bantu kamu jalan” ucap Hafa yang masih begitu khawatir, apalagi dirinya tak mungkin mengantarkannya sampai ke dalam ruangan kerja.


“Ga usah mas, Ara bisa pelan-pelan kok, terimakasih sudah antar Ara”


Hafa pun mengangguk, bersamaan dengan seorang security yang menghampiri mereka,


“Mbak Ara?”


“Eh…” Ara pun menoleh ke sumber suara, “pagi pak”


“Pagi, kok tumben siang mbak?”


“Iya pak, periksa dulu tadi”


“eh, mbak Ara habis jatuh ya?” tebak security yang baru menyadari tangan kanan Ara di perban, dan tampak berjalan tertatih saat menjauh dari mobil,


“iya pak” Ara hanya tersenyum setelahnya, kemudian berbalik lagi pada Hafa yang masih berdiri di sampingnya.


“Ara masuk dulu mas”


“Hmmm, tolong di bantu ya pak” pinta Hafa pada security yang menyapa mereka tadi.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2