
🌺Happy Reading🌺
Setelah melalui pemeriksaan lanjutan, Ara kini masih terbaring di ruang perawatan. Kondisinya yang lemah membuatnya harus terbaring beberapa waktu. Ia pun telah sadar dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan, namun rasa sakit yang ia rasakan membuatnya enggan untuk membuka matanya terlalu lama.
Hafa pun segera menghubungi keluarganya dan memberitahukan kejadian yang menimpa istri dan adiknya. Beruntung kondisi Rindi tak begitu mengkhawatirkan dan di ijinkan untuk rawat jalan, tidak harus menginap di rumah sakit. Hingga 1 jam berlalu terdengar langkah yang begitu terburu-buru memasuki ruang rawat Ara.
Tampak empat orang berbeda usia datang bersamaan dengan raut penuh rasa khawatir. Mama Mira langsung terisak melihat kondisi putri sulungnya yang terbaring lemah dengan perban di kepala dan tangannya.
Sementara Rindi terlihat duduk bersandar di atas kursi roda juga dengan perban yang ada di tangan dan kakinya, membuat mama Hesti menangis lalu mendekapnya erat.
“Fa…” panggil papa Ilham setelah menenangkan hatinya saat melihat kondisi putri sulungnya.
“Iya pa” jawab Hafa lemah kemudian menyalami papa mertuanya dan adik iparnya yang masih berdiri terpaku di sebelah papa Ilham.
“Gimana kondisi Ara? Dan adik mu?”
“Ara harus bedrest pa, kondisinya stabil saat ini, dan Rindi sudah di ijinkan pulang pa, Alhamdulillah tak ada luka serius dan di ijinkan rawat jalan saja” jelas Hafa setelah memeluk kedua wanita kesayangannya yang masih berangkulan.
“Apa kondisi Ara parah? Ara belum sadar?” tanya mama Mira yang masih terisak di samping putrinya yang masih memejamkan matanya.
“Dokter perlu memantaunya lebih lanjut ma, tadi Ara sudah sadar, saat ini Ara sedang tidur saja”
“Alhamdulillah…” desah papa Ilham dan mama Mira lega, namun masih ada yang mengganjal dalam pikiran mereka.
“apa yang perlu di pantau lebih lanjut mas?” kini Farhan yang bertanya lebih detail.
“Kandungan Ara dek”
“Kak Ara hamil?” pekik Farhan seketika membuat semua orang menatap Hafa yang kini berdiri di samping sang istri.
Hafa pun mengangguk, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Semua orang memekik senang sekaligus sedih, senang karena berita bahagia akan kehamilan Ara namun juga sedih karena kondisi Ara yang lemah karena kecelakaan yang menimpanya.
“Apa kata dokter tadi Fa?” timpal papa Ilham yang menginginkan lebih detail penjelasan dari dokter mengenai kondisi putri sulungnya yang kini baru di ketahui tengah mengandung cucunya.
Hafa pun menjelaskan bagaimana kondisi Ara seperti yang di jelaskan dokter padanya. Tangannya kini beralih mengenggam erat sang istri, sembari menatap semua orang yang tengah mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama mereka menunggu, Hafa pun meminta semuanya untuk pulang ke rumah untuk beristirahat, dan ia yang akan menunggu Ara di rumah sakit.
“Dek, tolong antarkan mama dan Rindi pulang ya” pinta Hafa pada adik iparnya karena ia tak bisa mengantarkan keduanya.
“iya mas, besok adek ke sini lagi buat gantiin mas”
Hafa hanya mengangguk kemudian menyalami kedua mertua dan mamanya sebelum mereka beranjak meninggalkan ruang perawatan sang istri.
***
Menjelang subuh, mata Ara mengerjap pelan, ia pandangi sekelilingnya dan hanya melihat tembok berwarna putih yang ia yakini bukan kamarnya. Ia pun melihat ke bawah ka arah tangannya yang terasa berat, dan menemukan sosok pria yang begitu ia cintai tengah menggenggam telapak tangannya dan tertidur dengan menyandarkan kepalanya di atas ranjang.
“Mas…” panggil Ara lirih
“Mas….” Panggilnya lagi karena Hafa tak kunjung membuka matanya.
“Mas” panggilnya lagi dengan nada yang sedikit lebih keras.
Mata lelah Hafa mengerjap dan pandangannya langsung bertatatapn dengan sang istri.
“Dek… sudah bangun?” Hafa segera bangkit dari dan berdiri mendekatkan kepalanya pada sang istri. Ia pun mendaratkan kecupan ringan di kening sang istri, lalu kembali duduk dengan tatapan yang tak lepas dari wajah sang istri.
Hafa pun mengambil botol air mineral di atas nakas dan membantu Ara untuk meminumnya.
“Apa yang kamu rasakan dek?” tanya Hafa setelah meletakan kembali botolnya.
“Pusing mas, badan aku rasanya sakit semua”
“pejamkan matamu lagi dek, kamu harus banyak istirahat”
Ara mengangguk, sembari sesekali memejamkan matanya, kemudian mebukanya kembali. Ia ingin mengurai rasa pusing yang menderanya.
“Apa Rindi baik-baik saja mas?” tanya Ara kemudian. Bukannya menuruti ucapan suaminya untuk memejamkan matanya, ia malah kepikiran dengan adik iparnya.
“Rindi di rumah dek, jangan khawatir ya”
“Maafin Ara ya mas, Ara kurang hati-hati jadinya malah gini” lirih Ara menatap manik hitam sang suami.
__ADS_1
“Ssst…. Gak sayang, kalian sudah hati-hati, ini musibah sayang, gak usah di pikirin lagi ya” jawab Hafa lembut kemudian mengusap pipi sang sang istri yang telah basah dengan air mata.
“Yang penting sekarang kamu banyak istirahat, dokter minta kamu bed rest untuk beberapa waktu”
Ara mengangguk, “Separah itukah kondisi Ara mas?”
“Dokter perlu memantau kondisimu lebih lanjut sayang, jadi nurut ya untuk bedrest”
“Jadi Ara gak bisa kerja lama mas?” tanya Ara yang entah kenapa malah memikirkan pekerjaannya karena ia harus terbaring di rumah sakit entah sampai kapan.
Hafa tersenyum mendengar pertanyaan dari sang istri yang sepertinya kondisinya sudah lebih baik karena sudah memikirkan pekerjannya.
“Yach, sepertinya setelah ini mas gak akan ijinin kamu kerja lagi dek”
Seketika mata Ara membulat karena ucapan suaminya, tak menyangka suaminya akan berbicara seperti itu.
‘Apa gara-gara kecelakaan ini mas Hafa gak ijinin aku kerja lagi? Gara-gara aku pakai motor?’
“Mas gak ingin kejadian seperti ini terulang lagi dek” lanjut Hafa
“Tapi kan mas…” Ara berusaha untuk menyanggah permintaan suaminya, namun tiba-tiba rasa nyeri kembali ia rasakan di tubuhnya saat ia bergerak. “sssttt…” desis Ara menahan sakit.
“Ada yang sakit?” tanya Hafa dengan wajah paniknya setelah mendengar rintihan sang istri, ia pun berdiri dan melihat mata Ara yang terpejam.
“Mas panggil dokter ya dek?”
Ara hanya menggelengkan pelan kepalanya, ia berusaha tak menggerakan tubuhnya agar rasa nyeri itu tak kembali menderanya.
“Sudah mas… hanya nyeri saat buat gerak aja mas” lirih Ara kembali membuka matanya dan menatap wajah panic suaminya. Ia pun memperhatikan mata sang suami yang terlihat begitu lelah, dan pakaian yang ia kenakan sepertinya tak ganti dari kemarin.
Ara pun menghela nafas dan menatap lekat sang suami setelah ia rasa kondisinya lebih baik, “Mas beneran gak ijinin Ara bekerja lagi?”
“Ya, setelah ini mas minta kami berhenti kerja dek”
“kenapa mas?”
“Karena harus kamu jaga di sini dek”
__ADS_1
Deg!!
Tbc